Berjuang Wujudkan KEK Tanjung Lesung

Harapan terwujudnya destinasi wisata “Bali Baru” di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung di Kabupaten Pandeglang, tampaknya masih harus menunggu. Selain belum tersedianya sejumlah sarana dan prasarana penunjang, pemerintah pusat juga lebih memprioritaskan empat dari 10 destinasi pengembangan destinasi wisata “Bali Baru”. Dari empat destinasi itu, adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Sementara, KEK Tanjung Lesung tidak masuk dalam prioritas.

Dengan demikian, perubahan wajah baru KEK Tanjung Lesung menjadi “Bali Baru” sebagai proyek percontohan (pilot project) tak lagi menjadi fokus pemerintah pusat. Meski demikian, hal tersebut tidak lantas menyurutkan optimistis Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pandeglang untuk terus berjuang mewujudkan KEK Tanjung Lesung menjadi destinasi wisata “Bali Baru”.  Hanya saja, terwujudnya KEK Tanjung Lesung menjadi destinasi wisata “Bali Baru” memang akan hanya membutuhkan waktu panjang. Karena kebijakan untuk mengembalikan KEK menjadi prioritas destinasi adalah kewenangan pemerintah pusat.

“Bukan tidak diprioritaskan, apalagi dihapuskan dari 10 pengembangan destinasi wisata “Bali Baru”. Pemerintah pusat tahun 2018 ini hanya sedang memfokuskan pada empat wilayah saja, yaitu Danau Toba, Borobudur, Mandalika, dan Labuan Bajo. Artinya, KEK Tanjung Lesung hanya tinggal menunggu giliran saja,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Administrator KEK Tanjung Lesung, Joyce Irmawanti kepada Kabar Banten, Ahad (7/1/2018).

Menurut dia, KEK Tanjung Lesung menjadi destinasi wisata “Bali Baru” optimistis terwujud. Karena, sejauh ini tidak ada sama sekali keputusan pemerintah pusat menghapus KEK Tanjung Lesung masuk dalam program pengembangan destinasi wisata “Bali Baru” dan hal itu didasarkan pada Peraturan presiden (Perpres). “Perlu diketahui, Tanjung Lesung mendapatkan label KEK. Ke 10 destinasi wisata prioritas, dua program yang berbeda,” ucap Joyce.

Ia mengatakan, alasan keempat destinasi wisata “Bali Baru” yang pada tahun ini menjadi fokus atau mendahulukan realisasi pengembangan. Sebab, kawasan penyangga (buffer zone) paket wisata ke empat destinasi wisata itu dinilai sudah siap jual. Sambil menunggu pengembangan ke empat destinasi wisata di wilayah itu, sebagian destinasi wisata lainnya yang masuk dalam 10 lebel pengembangan KEK diminta segera mempercepat destinasi-destinasi penunjang wisatanya. “Justru ini sebagai pengingat bagi Kabupaten Pandeglang, agar menunjukkan ikhtiar dalam membangun destinasi penunjangnya diluar KEK. Apalagi, banyak sekali daerah-daerah lain di Indonesia yang menunggu dan sangat berminat mau menggantikan daerah yang masuk 10 destinasi KEK prioritas tersebut,” ucapnya.

Untuk itu, kata dia, saat ini Pemerintah kabupaten maupun provinsi terus memberikan dukungan atas pengembangan destinasi wisata diluar KEK tersebut. Terlebih, KEK merupakan lokomotif yang menarik sebagai gerbong agar Kabupaten Pandeglang maju. Di dalam KEK, ada tanggung jawab badan pengelola swasta dalam berinvestasi. Baik dari dana mereka sendiri maupun dengan cara mencari investor lain.
“Kendalanya saat ini memang investor besar belum berani berinvestasi, karena jumlah wisatawan belum begitu besar. Rendahnya jumlah wisatawan karena terkendala akses transportasi yang belum menunjang,” katanya.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Pandeglang, Salman Sunardi mengatakan, Pemkab Pandeglang saat ini terus membenahi dan mengembangkan kawasan destinasi wisata sebagai penunjang KEK. Tahun ini, Pemkab masih melakukan upaya kerja sama program untuk sejumlah event dan kegiatan kepariwisataan sebagai kolaborasi pemasaran pariwisata di Kabupaten Pandeglang dengan Kementerian pariwisata (Kemenpar). “Termasuk dengan Kementerian perhubungan (Kemenhub) terkait pembangunan Transit Point (TP) sebagai penunjang akses masuk ke kawasan KEK Tanjung Lesung. Kita saat ini sedang mengejar target 8 juta kunjungan wisatawan,” ucapnya.

Sementara itu, General Manajer Tanjung Lesung, Widiasmanto optimistis KEK Tanjung Lesung masih tetap menjadi prioritas dan hanya tinggal menunggu waktu saja. Untuk percepatan fokus pelaksanaan memang perlu ditunjang aksesbility international seperti airport yang bisa direct flight, sebagai upaya mengejar target 20 juta kunjungan wisatawan asing. “Untuk saat ini, kunjungan wisatawan ke Tanjung Lesung sendiri baru mencapai 500.000 per tahun, 98 persen domestik dan dua persen asing. Itu kunjungannya masih terbatas pada musim-musim tertentu, seperti masa liburan sekolah dan liburan akhir tahun,” katanya. (Galuh Malpiana)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here