Berdayakan Warga, Unbaja Gelar Workshop Pengolahan Limbah Cangkang Melinjo

PANDEGLANG, (KB).- Tim Pengabdian kepada Masyarakat Kemitraan  (PKMK) Universitas Banten Jaya (Unbaja) yang diketuai Tauny Akbari, M.I.L dan beranggotakan Afni Khadijah, M.T dibantu 6 orang asisten pelaksana diantaranya Irsyad, Fernando, Akmal, Galuh, Namira dan Rizky, menggelar workshop ‘Penerapan Produksi Bersih Pengolahan Limbah Cangkang Melinjo sebagai Briket’, di Balai Desa Tegalwangi Kecamatan Menes, Kabupaten Pandeglang, Rabu (14/8/2019).

Ketua Pelaksana, Tauny Akbari menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan bekerjasama dengan Ketua Mitra, Ade Wahyudi dan Kepala Desa Tegalwangi, Kiki Maulana Sofa.

Sebelumnya tim melakukan riset pendahuluan di Laboratorium Teknik Lingkungan UNBAJA untuk mengetahui komposisi dan metode yang sesuai dalam pembuatan briket.

Tauni Akbari menjelaskan, Cangkang melinjo adalah limbah dari pembuatan emping melinjo yang tidak dimanfaatkan, padahal bahan ini berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi dalam bentuk briket, yaitu bahan bakar padat yang berasal dari bahan baku curah yang melalui proses pengarangan dan pengempaan sehingga dapat diperoleh bahan bakar sesuai dengan bentuk dan kualitas yang diinginkan.

Ia mengatakan, setelah memperoleh komposisi dan teknik pembuatan yang tepat, selanjutnya tim melakukan workshop di Balai Desa Tegalwangi Kecamatan Menes Kabupaten Pandeglang. Selain itu, Kepala Desa Tegalwangi berencana memasukkan Produksi Briket Cangkang Melinjo ke dalam anggaran Desa tahun 2020.

“Kami berharap Kepala Desa Tegalwangi mampu memberdayakan warga baik pemuda, bapak-bapak maupun ibu-ibu dalam produksi briket cangkang melinjo sehingga nantinya Kecamatan Menes tidak hanya terkenal dengan empingnya, namun juga menjadi pelopor terbentuknya usaha baru dalam pemanfaatan limbah cangkang melinjo sebagai briket,” ujar Tauni.

Sementara, seorang pengrajin Emping dalam skala besar di Desa Tegalwangi, Eli mengaku ingin langsung mempraktekkan ilmu yang diperoleh pada workshop tersebut di tempat usahanya. Tak kalah kalah dengan Eli, ibu-ibu perajin lainnya pun juga ingin mencoba.

Perlu diketahui bahwa proses pembuatan briket membutuhkan tenaga yang ekstra, mulai dari pengarangan, penghalusan, pencetakan hingga pengeringan. Dalam proses pengerjaannya sangat membutuhkan tenaga laki-laki. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here