Berdamai Dengan Covid-19 (Narasi Titik Balik)

Oleh : Rosyidah Izza

Hashtag “AdaptasiDenganCorona” sejak 16 Mei 2020 lalu menjadi topik yang ramai diperbincangkan warganet di dunia maya. Ini adalah reaksi spontan masyarakat Indonesia pasca pernyataan presiden Joko Widodo yang sehari sebelumnya secara resmi mengadakan siaran pers sebagaimana dilansir berbagai media terkait penyikapan pemerintah terhadap pandemi corona yang tengah melanda. Jokowi menyatakan bahwa pada akhirnya kita harus hidup berdampingan dan beradaptasi dengan keberadaan virus corona. Dalam pernyataannya presiden mengutip Badan Kesehatan Dunia WHO yang sebelumnya mengklaim bahwa vaksin corona tidak akan ditemukan, dan hari ini masyarakat dunia harus memulai tatanan hidup baru dengan keberadaan virus corona di tengah-tengah kehidupan manusia. Sebuah narasi titik balik saya menyebutnya.

Secara pribadi saya melihat ini sebagai pernyataan sikap pemerintah yang cukup moderat, meski dari sisi waktu sepertinya kurang tepat karena dilontarkan di saat menjelang mudik lebaran. Bisa jadi pernyataan berdamai presiden tempo hari akan memicu lonjakan pemudik ataupun yang akan pulang kampung (sepertinya hari ini kedua kata itu tak akan diperdebatkan lagi). Meski terlalu cepat, sebenarnya pernyataan presiden Jokowi cukup beralasan. Mengingat dampak yang ditimbulkan dari sejumlah kebijakan terkait corona memang cukup signifikan bagi kehidupan bangsa Indonesia hari ini terutama secara ekonomi dan juga sosial. Dampak lintas sektoral yang ditimbulkan dan nyaris melumpuhkan sendi- sendi kehidupan negeri ini. Jika ini terus berlanjut entah seperti apa yang akan terjadi dengan bangsa ini. Untuk satu tahun ke depan saja rasanya saya belum bisa membayangkan. Sejak kemunculannya di akhir tahun 2019 lalu sampai hari ini nampaknya covid 19 memang masih betah beredar di planet bumi dan belum menunjukkan tanda- tanda akan beranjak dari kehidupan manusia. Malah wacana mengenai akan adanya covid gelombang II yang akan kembali melanda dunia kian santer diberitakan akhir- akhir ini. Luar biasa eksistensi virus yang satu ini. Tak ayal adanya pemberitaan seperti ini membuat masyarakat dunia semakin kebingungan di tengah gonjang- ganjing ketakutan akan pandemi covid.

Adalah Dr. David Nabarru seorang pakar kesehatan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang baru- baru ini sebagaimana dilansir CNN mengklaim bahwa vaksin untuk penangkal corona virus saat ini belum ditemukan atau bahkan tidak akan ditemukan selamanya. Sungguh sebuah opini yang dipastikan akan membangun pesimistis luar biasa bagi masyarakat dunia. Manusia seakan dihempas pada jurang ketidakberdayaan yang sangat. Betapa tidak, pandemi covid yang sekarang tengah terjadi saja dengan segala kekacauan yang ditimbulkan karenanya sudah membawa masyarakat dunia pada posisi yang serba sulit. Apatah lagi jika terjadi covid gelombang II. Banyaknya korban jiwa yang disebabkan corona menjadikan manusia diliputi rasa ketakutan yang sangat bahkan mengarah pada paranoid. Di samping ancaman jiwa yang ditimbulkan, juga yang paling dominan adalah dampak yang menyangkut persoalan ekonomi. Sederhananya begini, semenjak adanya pandemi covid 19, kehidupan perekonomian masyarakat mengalami banyak penurunan yang signifikan. Untuk di Indonesia misalnya, hari ini sudah banyak perusahaan dan pabrik yang mulai merumahkan sejumlah karyawannya, sehingga kini status mereka adalah pengangguran akibat korban PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Puluhan bahkan ratusan tempat usaha ditutup, sejumlah usaha macet dan gulung tikar. Ribuan buruh tiba-tiba harus kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Roda perekonomian bisa saja collaps. Walhasil ribuan orang kehilangan pendapatan dan juga penghasilan. Sedang mendapatkan pekerjaan baru di tengah pandemi seperti ini bukan perkara mudah. Ditambah dengan sejumlah kebijakan pemerintah terkait pandemi corona semisal lockdown dan pembatasan sosial lainnya betul-betul membatasi ruang gerak seseorang tidak terkecuali bagi mereka yang sedang berniat mencari pekerjaan baru.

Kehilangan pekerjaan yang berimbas pada hilangnya pendapatan dan penghasilan tidak bisa dianggap enteng. Urusan perut bukan urusan abal-abal yang bisa ditangguhkan. Ada atau tidak ada penghasilan mereka harus tetap makan, pun dengan anak isteri mereka. Kalau tidak bekerja bagaimana mereka punya penghasilan. Kalau tidak punya punya penghasilan dari mana mereka bisa makan dan meneruskan kehidupan. Terkadang kondisi seperti ini membuat orang gelap mata dan “memaksa” orang berbuat nekat. Kalau sudah begini cerita selanjutnya sudah bisa ditebak. Meningkatnya angka kriminalitas sudah barang tentu tidak bisa dihindarkan. Sebuah kondisi yang sangat logis dan memang merupakan efek domino dari persoalan ekonomi yang pada gilirannya akan berimbas pada persoalan sosial. Pernyataan sang dokter terkait vaksin corona mengisyaratkan bahwa pandemi belum akan berakhir dalam waktu dekat. Entah sampai kapan covid akan terus menghantui kehidupan manusia. Kondisi yang sangat dilematis, dimana manusia dihadapkan pada pilihan yang serba sulit.

Namun di sisi lain “life must go on” bagaimanapun kehidupan harus tetap berlanjut. Kebutuhan keluarga harus tetap terpenuhi. Dalam kondisi seperti ini kita tidak punya banyak pilihan selain berdamai. Ya, berdamai dengan keadaan, berdamai dengan virus corona. Ini artinya bahwa mau tidak mau masyarakat di dunia harus terbiasa dan dituntut beradaptasi karena dimungkinkan akan hidup berdampingan dengan covid dalam waktu yang relatif lama. Karena lagi-lagi menurut WHO virus pandemik ini ada kemungkinan berubah menjadi virus endemik yang entah kapan berakhir. Namun hendaknya kita tidak salah dalam memaknai dan menyikapi kata berdamai ini. Berdamai bukan berarti membuka “keran” kebebasan tanpa batas termasuk berperilaku yang menyalahi protokol kesehatan. Berdamai bukan berarti mengabaikan dan tidak mawas diri. Justru dengan adanya wacana berdamai ini kita dituntut untuk lebih ekstra hati-hati dan waspada dengan penularan covid karena sudah barang tentu akan diikuti dengan kebijakan susulan lainnya, bisa saja misalnya berupa kelonggaran pembatasan sosial yang memberi peluang lebih bagi penularan virus corona. Tetap menjalani pola hidup bersih, pola makan dan pola istirahat yang sehat dan benar sesuai anjuran medis. Tetap lakukan pembatasan sosial dan lain sebagainya yang akan mencegah kita dari kemungkinan terpapar corona.

Saya mengamini pernyataan Dicky Budiman seorang ahli epidemologi yang beberapa waktu lalu memberikan statemen terkait berdamai dengan corona ini. Menurutnya kondisi berdamai ini harus dibarengi dengan perubahan dalam tiga pola, yakni pola kehidupan di masyarakat, pola kerja dalam institusi serta pola pelayanan baru yang memengaruhi pelayanan umum yang berhubungan langsung dengan masyarakat. Dengan kata lain harus ada perubahan skema atau pola yang signifikan dari pola yang selama ini berjalan. Tentu saja pola yang dimaksud adalah pola yang menyesuaikan dengan suasana pandemi. Dengan begitu resiko fatal yang bisa saja timbul akibat berdamai dengan covid ini bisa diminimalisir. Ini artinya bahwa berdamai dengan covid juga harus disertai dengan penatalaksanaan yang benar dan proporsional. Jika tidak, alih-alih membaikkan keadaan, berdamai dengan covid malah bisa menjadi bumerang serta bom waktu yang akan menambah panjang deretan korban. Berdamai dengan covid berarti kita tetap melaksanakan aktivitas sebagaimana biasa namun tanpa disertai rasa waswas berlebih. Berdamai dengan covid artinya mencoba meminimalisir akibat yang ditimbulkan berdasarkan aspek psikis manusia yang cenderung dengan rasa cemas yang kerap mengganggu ketenangan saat beraktifitas. Berdamai dengan covid berarti berusaha tetap tenang menjalani keseharian, bekerja sesuai tugas dan fungsinya meski tetap di rumah bagi yang kebetulan melaksanakan WFH (Work From Home), atau bagi sebagian orang yang harus tetap bekerja keluar rumah tanpa harus mengurangi kualitas hasil pekerjaan karena alasan takut tertular covid. Dengan tetap bekerja optimal maka hasil produksi bisa tetap stabil dan penurunan ekonomi masyarakat bisa lebih ditekan. Ada efek yang baik ketika kita mencoba berdamai, stress lebih bisa dikendalikan, dengan begitu imunitas secara otomatis akan meningkat dan itu artinya peluang terinfeksi virus menjadi semakin kecil.

 Pernyataan WHO dan juga presiden terkait berdamai harus kita sikapi dengan sebijak mungkin. Jangan sampai menjadikan kondisi kita lebih memburuk dan tidak kondusif baik secara ekonomi, sosial, terlebih masalah kesehatan. Masalah kesehatan tetap harus menjadi skala prioritas. Pada akhirnya biarkan corona dengan dengan porsi dan dunianya. Namun juga jangan kita biarkan keberadaannya terus-terusan menjadi terror bagi kehidupan manusia. Jangan pernah berdamai dengan rasa pesimis. Sebaliknya harus tetap tertanam kuat sebentuk optimisme dalam diri bahwa pada saatnya nanti pasti akan ditemukan penangkal atau obat bagi covid 19. Kita hanya butuh waktu untuk tetap bersabar dan tetap berdoa serta terus melakukan upaya terbaik agar terhindar dari covid 19. Karena sejatinya berdamai dengan corona juga bukan berarti kita menyerah dan kalah. Hanya berkompromi dan menyesuaikan diri dengan sejumlah kebiasaan-kebiasaan baru yang harus mulai dibangun yang sedianya akan menghindarkan kita dari tertular virus corona. Tetap yakin bahwa setiap penyakit ada obatnya, karena hal ini sejalan dengan hadits Nabi SAW bahwa “Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan obatnya juga”. Ini artinya bahwa dalam setiap penyakit yang diderita manusia niscaya Tuhan sudah sediakan penangkalnya termasuk penyakit yang disebabkan virus corona tentunya. Boleh jadi bukan dalam bentuk vaksin, tapi mungkin saja dalam bentuk obat yang lain. Jadi akhirnya berdamai kita.. Wallahu A’lam.***

#AdaptasiDenganCorona Salam sehat

Penulis, akademisi dan sesekali mencari makna sebuah fenomena

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here