Beras Jaseng Ditargetkan Masuk di BPNT

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menargetkan beras Jawara Serang (Jaseng) mendapat porsi untuk menyuplai program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) di Kabupaten Serang. Hal tersebut dilakukan untuk membantu kesejahteraan dan meningkatkan gairah para petani dalam menanam padi.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan, untuk bantuan pangan nontunai masyarakat yang berbentuk beras, petani Kabupaten Serang harus ambil porsi suplai. Menurut dia, sangat tidak masuk akal jika untuk BPNT Kabupaten Serang suplai berasnya tidak bisa dari petani lokal.

“Itu sangat tidak masuk akal, walau tidak semuanya, tapi sebagian berikan pada petani kita, kita mampu kok itu yang sedang diupayakan oleh distan (Dinas Pertanian),” ujarnya belum lama ini.

Ia mengatakan, tahun ini untuk BPNT per bulan suplai berasnya mencapai 500 ton per bulan. Oleh karena itu, petani Kabupaten Serang harus ambil bagian minimal setengah dari total kebutuhan beras tersebut.

“Ini berdampak positif jadi ada gairah di petaninya. Ini sudah produksi bingung mau dikemanakan sedangkan kita sendiri butuh beras. Kalau sisanya mau dari luar silakan, kita hanya mau sebagian,” ucapnya.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang Dadang Hermawan mengatakan, untuk suplai BPNT melalui beras lokal Kabupaten Serang, dia sangat mendukung. Menurutnya hal ini perlu dikoordinasikan dengan lintas organisasi perangkat daerah (OPD).

“Mudah-mudahan di 2020 kita bisa bismilah bisa masuk ke BPNT,” ujarnya.

Disinggung soal kesanggupan petani, Dadang menjelaskan, pihaknya sudah mengumpulkan para petani tersebut. Mereka pun mengaku sudah menyanggupi untuk suplai BPNT.

Ia mengatakan, jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Serang ada sekitar 53 ribu kepala keluarga. Rata-rata per KPM akan mendapatkan 9-10 kilogram.

“Jadi sebulan untuk BPNT diangka 530 ton. Sebenarnya ini wilayah dinsos kan bantuan itu (BPNT) Rp 110 ribu itu untuk e-waroeng (elektronik warung gotong royong) nah e-waroeng itu harus menyediakan kebutuhan pokok antara lain beras. Kalau tidak ada bisa diganti protein tapi tergantung harga,” katanya. (Dindin Hasanudin)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here