Beragama tanpa Tuhan

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Oleh : 

Fauzul Iman

Agama dalam arti yang normatif dipandang berasal dari Tuhan yang diterangkan lewat kitab suci. Dalam ajaran Islam, agama merupakan suatu fitrah manusia dan lahir dari hasil kontrak primordial dengan Tuhannya. Ahli antropologi dan psikologi mengakui bahwa lahirnya agama hasil dari proses pikiran manusia dan kegelisahannya terhadap realitas keajaiban cosmos dan micro cosmos.

Manusia sebagai micro cosmos tertekuk dalam memikirkan kerumitam dirinya. Ia hanya sebagian terkecil mengetahui dirinya mengenai struktur organ dan saraf-saraf kecil yang melekat dalam mekanisme biologisnya. Menurut A. Careel dalam bukunya A Man Unkown, pengetahuan manusia tentang dirinya pun sebenarnya bukan dari dirinya sendiri.

Dalam situasi ini manusia mulai terikat dengan kekuatan yang berada di luar dirinya (interdependensi). Ia menyadari bahwa di luar dirinya ada yang lebih berkuasa mengatur dan mengendalikan mekanisme kehidupannya. Lalu di tengah jagat macro cosmos manusia lebih tercenung lagi melihat kebesaran dan keluasan alam (universe).

Alam dengan segala isinya yang terdiri dari mekanisme tatasurya yang demikian teratur dicerna akal manusia terdapat penciptanya Yang Maha Besar dan Perkasa. Itulah Tuhan.

Pengakuan terhadap adanya Tuhan Yang Maha Besar itu tidak dengan sendirinya merasuk dalam hati manusia secara konstan. Pengakuan itu berfluktuasi. Terletak pada sejauh mana yang dipandang tuhan telah memberikan kenyamanan kepada yang bersangkutan untuk melangsungkan kehidupannya. Disinilah kemudian manusia memandang bahwa dalam lingkungannya ada Yang Maha Kuasa mengembangkan, menumbuhkan dan menyejahterakan kehidupannya.

Di area lokusnya Tuhan dielu-elukan dan diagungkan sebagai pemberi keberkahan paling efektif dibanding Tuhan lainnya. David Eler dalam tesis monumentalnya menunjukkan adanya bieng supernatural di luar kekuatan manusia.

Kekuatan itu bisa berupa Zat Yang Maha Gaib yaitu Tuhan. Bisa juga makhluk ghaib berupa jin atau setan. Bahkan E. Cassirer, sebagai dikutip MA Tihami dalam Tuhan Lokal, kekuatan itu menelusup dalam sebuah perkembangan yang terkandung dalam benda-benda atau makhluk lainnya yang kemudian dipandang mempunyai kekuatan ruhaniah.

Pada air terurai lambang orang suci. Pada hewan babi bagi orang batak terurai lambang perdamaian. Inilah kekuatan rohaniah yang dapat dijelaskan dari perlambangan. Pada akhirnya lambang ruhaniah itu tumbuh pada manusia atau kekuasaan yang dipandang memiliki keajaiban yang harus dikultuskan. Pada siapapun orang yang memiliki magis seperti para normal, dukun hata pada para ulama yang memiliki ilmu hikmah akan dipandang sebagai manusia yang berlambangkan Tuhan.

Sungguh pada kapasitasnya manusia kultus itu fanomenal karena kemudian menjadi tempat pengadu nasib hidup kaum elite yang ingin hidupnya tetap elite maupun kaum biasa yang ingin tercabut dari kekusutan hidupnya. Bahkan ironisnya mereka dipercaya oleh para pelaku koruptor dan lain-lain yang meminta doa perlindungan agar terhindar dari jeratan hukum.

Fanomena yang paling tak masuk akal para pemilik magis itu kerap dipercaya di luar kontrol. Weber pernah menyebut dengan terminologi maraboutisme yaitu kelompok orang pinter paling kharismatik/mursyid yang dipandang ahli ramal dan mampu menentukan kehidupan seseorang di masa depan. Tidak sedikit umat/para klin yang percaya di luar kontrol itu kemudian melakukan apa saja yang diperintahkan maraboutnya.

Seorang koruptor yang dalam kejaran aparat demi menyelamatkan dari jeratan hukum, ia rela menenggelamkan tubuhnya di sungai hingga batas leher atas perintah maraboutnya. Tidak mengherankan jika di tengah realitas terjadi pada seseorang yang pada mulanya santri taat, bersikap lemah lembut tiba-tiba ia menjadi teroris. Dahulu ia patuh pada orangtuanya kini ia lebih mengidolakan mursyid atau gurunya karena merasa lebih nyaman hidup dalam perlindungannya.

Dalam situasi dislokasi itu, manusia mengalami pilihan idola yang dipandangnya paling menentukan kehidupannya. Pada saat itulah dia menemukan Tuhan baru dalam wujud lain yang lebih konkret. Tuhan yang secara langsung mampu memecahkan jalan kebuntuan hidupnya. Apapun jalan yang ditempuh itu kemudian bertentangan dengan doktrin agamanya. Itulah Tuhan Yang Sebenarnya. Tuhannya bagi kaum beragama yang tanpa Tuhan. (Penulis adalah Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here