Berada di Zona Merah Covid-19, Salat Idulfitri Direkomendasikan di Rumah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Serang merekomendasikan pelaksanaan Salat Idulfitri di rumah bagi masyarakat yang tinggal di zona merah atau di lingkungannya ada yang terindikasi positif Covid-19.

Ketua MUI Kota Serang Mahmudi mengatakan, meskipun hampir setiap kecamatan di Kota Serang sudah ada yang positif, namun untuk pelaksanaan Salat Idulfitri di rumah bisa disesuaikan dengan lokasi kasusnya.

“Untuk Kota Serang dilihat dari zona merahnya dimana, sebenarnya setiap kecamatan ada yang positif tetapi letaknya di sebelah mana. Jadi kalau kami rekomendasi di Kota Serang terutama yang di perumahan-perumahan itu di rumah saja,” kata Mahmudi.

Namun jika di lingkungannya belum ada yang terindikasi positif, pelaksanaan Salat Idulfitri bisa dilaksanakan di masjid, musala atau lapangan terbuka. Tetapi dengan memerhatikan protokol kesehatan.

“Tapi kalau belum terindikasi silakan saja di masjid, musala atau di lapangan cuma harus mengikuti protokol kesehatan,” ucapnya.

Senada, Sekretaris MUI Kota Serang Amas Tadjuddin mengatakan, pelaksanaan Salat Idulfitri di masjid atau lapangan harus diikuti protokol kesehatan seperti jaga jarak barisan (shaf) minimal satu meter antar jemaah, tersedia alat pengukur suhu, alat cuci tangan dan menggunakan masker.

“Betul, protokol kesehatan harus digunakan maksimal,” tuturnya.

Hal itu, ucap dia, berdasarkan rekomendasi MUI Kota Serang nomor 26 tahun 2020 tentang salat tarawih dan Slat Idulfitri tahun 1441 H, dan Fatwa MUI Pusat nomor 28 tahun 2020 tentang tata cara Salat Idulfitri masa pandemi Covid-19.

Untuk pelaksanaan Salat Idulfitri di rumah, ia menjelaskan, pertama Salat Idulfitri merupakan sunnah muakkadah dan dapat dilakukan di rumah, bisa dilaksanakan secara sendiri (munfarid) dan bisa juga secara berjamaah.

“Jika dilaksanakan berjamaah harus mengikuti ketentuan minimal ada 4 (empat) orang, terdiri dari seorang bertindak selaku imam dan (jika mampu sekaligus) bertindak sebagai khatib, dan tiga orang lainnya sebagai makmum,” katanya.

Dalam hal tata cara Salat Idulfitri berjamaah atau munfarid tanpa azan dan iqomah, tepat pada waktunya dimulai dengan niat (ushally sunnatan li ‘idil fitri rok’ataini imaman atau makmuman lillahi taala), Allahu Akbar (takbirotul ihrom), dilanjutkan membaca takbir sebanyak tujuh kali (diluar takbirotul ihram), dan di antara takbir membaca (subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illa allah wallahu akbar).

Diteruskan membaca doa iftitah, disambung membaca surat alfatihah dan dilanjutkan membaca surat pendek Alquran, ruku dan sujud seperti salat biasa.

“Selesai rakaat pertama, dilanjutkan pada rakaat kedua dimulai membaca takbir sebanyak 5 (lima) kali, dilanjutkan seperti salat biasa, sampai selesai salam,” ucapnya.

Kemudian, selesai salat disunahkan mendengarkan khotbah Idulfitri, bilamana jemaah di rumah kurang dari empat orang atau tidak ada yang sanggup (mampu) menjadi khatib, maka tidak apa-apa dilaksanakan tanpa khutbah dan tetap sah.

“Adapun tata cara khotbah Idulfitri adalah sama dengan khotbah jumat, bedanya kalau khotbah Idulfitri dimulai dengan takbir sebanyak 9 kali pada khotbah pertama, dan tujuh kali takbir pada khotbah kedua,” tuturnya.

Selanjutnya, jika Salat Idulfitri dilakukan sendiri (munfarid), cukup dua rakaat tanpa khotbah dengan niat (ushally sunatan li’idil fitri rokataini lillahi taala).

“Tata caranya mengikuti panduan Salat Idulfitri bagian ketiga di atas,” ucapnya. (Masykur/Supriyadi Jayasantika)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here