Bencana Gagal Teknologi Bisa Terjadi

CILEGON, (KB).- Kota Cilegon memiliki potensi terjadinya bencana. Oleh karena itu, pengetahuan masyarakat di kota industri ini harus ditingkatkan.

“Beberapa kejadian bencana, seperti tanah longsor, kegagalan teknologi, dan banjir sangat berpotensi terjadi di Kota Cilegon. Selain itu, potensi terjadinya bencana juga dapat dipicu oleh faktor kurangnya pengetahuan dan kesadaran terhadap besarnya potensi bencana,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kota Cilegon Rasmi Widyani pada Rapat Komunikasi Bencana Lintas Sektoral di Aula BPBD Kota Cilegon, Rabu (13/11/2019).

Hadir dalam kegiatan tersebut, perwakilan Kodim Kota Cilegon, Dinas Sosial, Bappeda Cilegon, Dinas Kesehatan, Dinas Kominfo, serta beberapa OPD terkait, perwakilan industri, relawan, dan organisasi kebencanaan lainnya.

Menurut dia, warga Kota Cilegon masih minim pengetahuan tentang bencana. Oleh karena itu, pendidikan dan pengetahuan warga terkait dengan bencana perlu ditingkatkan. Ia mengatakan, sekarang ini masih ada masyarakat yang tidak mengenal, bahkan memahami dan menjalankan prinsip-prinsip manajemen bencana.

Ia menuturkan, bencana merupakan bagian dari kehidupan manusia yang datang tanpa diduga, kapan, dan bagaimana terjadinya. Karena, ketidakpastian tersebut, banyak unsur masyarakat yang kurang peduli dan tidak pernah menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Ia berharap, melalui kegiatan komunikasi bencana lintas sektor tersebut, dapat menyelaraskan antar-stakeholder yang ada, sehingga dalam penanganannya secara terpadu dan tepat sasaran dalam menghadapi bencana.

Sementara itu, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Cilegon H. Abdul Hakim Lubis yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut mengatakan, untuk mewujudkan komunikasi yang baik di antara stakeholder yang mempunyai tugas dan tanggung jawab dalam penanggulangan bencana, perlu dilaksanakan simulasi secara berkala di lapangan untuk menguji kesiapsiagaan semua stakeholder jika terjadi bencana.

“Butuh komunikasi yang intens dan terus menerus, sehingga ketika terjadi bencana dalam penangannya juga tidak tumpang tindih,” tuturnya.

Komunikasi yang baik, ucap dia, adalah komunikasi yang dapat dimengerti dan diterima oleh orang lain. selain dengan cara verbal, komunikasi juga bisa dilakukan dengan bahasa tubuh atau menggunakan gestur untuk tujuan tertentu.

“Komunikasi sangat penting dilakukan oleh BPBD selaku leader atau penanggung jawab dari seluruh stakeholder. Dalam kebencanaan baik prabencana, tanggap darurat bencana maupun rehabilitasi dan rekonstruksi,” ujarnya. (HS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here