Belum Resmi Dibuka, Masjid Agung Banten Lama Terus Dipadati Warga

SERANG, (KB).- Area Masjid Agung Banten Lama hingga kini belum resmi dibuka. Namun, para pengunjung terus memadati kawasan tersebut, sejak pembangunan tahap awal rampung.

“Belum dibuka harusnya, tapi karena banyak yang datang penasaran ingin lihat masjid ini, ya akhirnya dibuka,” kata warga setempat Juariah (37).

Pengunjung datang dari daerah maupun luar daerah yang penasaran ingin melihat penampakan masjid yang dianggap seperti masjid di Madinah.

Ia mengungkapkan, sebelum dibuka banyak pengunjung yang nekat masuk kawasan tersebut dengan cara melompat pagar. “Suka pada loncat dari pagar masjid jadi akhirnya dibuka,” ujarnya.

Ia beberapa kali mendapati pengunjung yang dihukum petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

“Lumayan banyak juga yang dihukum sama Satpol PP gara-gara loncat pagar. Disuruh nyemplung ke sungai, terus push up biar enggak ngulangin lagi. Kan kalau pada loncat itu jadi kotor pagarnya,” ucapnya.

Berdasarkan pantauan Kabar Banten, di tiga gerbang utama Masjid Agung Banten ada yang berjaga sambil menawarkan kantong plastik kresek kepada setiap pengunjung. Ada enam orang penjaga di setiap gerbangnya, jadi total ada 18 orang penjaga.

Mereka adalah warga sekitar yang diberi tugas oleh pengelola untuk menjaga kebersihan lingkungan masjid.

“Iya, kan harus dibuka alas kakinya. Jadi, plastik ini untuk tempat alas kaki pengunjung. Biar tidak mengotori lantai masjid dan menghindari pencurian sendal,” tutur Bariah, penjaga gerbang.

Menurut dia, plastik tersebut tidak diperjualbelikan. Namun, dia tetap menerima jika ada pengunjung yang memberinya uang.

“Sebenarnya tidak kami jual, hanya seikhlasnya pengunjung saja. Dari hasil ini juga kan untuk kebutuhan kami. Karena kan kami tidak digaji di sini, jadi mengandalkan dari ikhlasnya pengunjung saja yang memberikan kami rupiah,” katanya.

Selain itu, para pedagang kini sudah menempati seluruh kios yang telah disiapkan oleh pemerintah. “Pedagang sudah pada ke belakang, nempatin kios yang di sana. Jadi, sudah enggak ada lagi pedagang yang di pinggiran pagar masjid,” ujarnya.

Namun, tarif parkir di kawasan tersebut, dinilai mahal. “Sayang parkir motornya agak mahal ya. Terus enggak dicantumin berapa tarif parkirnya. Biasanya kan Rp 2.000, ini Rp 4.000. Terus enggak jelas lagi parkirnya, masa di pinggiran dekat gerbang. Padahal kan itu jalan umum, bukan tempat parkir,” ucapnya. (Rizki Putri/RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here