Belum Bisa Digunakan, Kartu Tani Dinilai Mubazir

SERANG, (KB).- Program kartu tani yang diluncurkan Kementerian Pertanian (Kementan) belum dapat dirasakan manfaatnya bagi para petani di Kota Serang. Kartu tersebut sedianya dapat digunakan untuk mendapatkan pupuk bersubsidi dan program pemerintah lainnya. Sejumlah petani menilai keberadaan kartu tani tersebut mubazir.

Seorang petani padi dan palawija di Lingkungan Mayabon, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang Tukidi mengatakan, sejak memiliki kartu tani tahun 2018 lalu, hingga kini ia belum pernah menggunakan kartu tersebut untuk mendapatkan pupuk bersubsidi.

“Belum pernah cek sih. Petani yang lain juga sama. Iya sayang aja harusnya kartu tani ini bisa untuk menebus pupuk ternyata tidak bisa. Ya jelas mubazir lah,” katanya, Kamis (29/8/2019).

Oleh karena itu, ia bersama petani lainnya membeli pupuk secara mandiri dan belum pernah mendapatkan pupuk subsidi pemerintah.

“Selama ini saya beli pupuk mandiri aja, yang lain juga sama beli sendiri. Pakai uang pribadi, tidak menggunakan kartu tani. Kan memang engga bisa dipake,” ujarnya.

Selain itu, ia juga meminta penyaluran pupuk bersubsidi agar diawasi langsung oleh pemerintah, agar tidak terjadi penyimpangan dalam bantuan penyalurannya. Sebab menurutnya, penyaluran pupuk melalui gabungan kelompok tani (gapoktan) kurang tepat sasaran.

“Ya kalau memang ini solusinya dari pemerintah harus ada yang ditugaskan langsung waktu pencairan. Memang lewat kelompok, tapi kalau bisa pada saat pembagian itu harus ada pengawasan dari pemerintah. Kalau benar-benar ingin tidak ada terjadi penyalahgunaan pupuk bersubsidi,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Peternakan (DPKP) Kota Serang Edinata Sukarya menjelaskan, belum dapat digunakannya kartu tani karena sarana dan prasarananya belum terpenuhi. Salah satunya adalah electronic data capture (EDC). Selain itu, kuota pupuk yang dimasukkan ke dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) belum 100 persen di seluruh kabupaten kota se-Banten.

“Kesimpulannya belum dapat digunakan. Kami juga akan telusuri ke pusatnya kenapa tidak bisa digunakan kartu tani ini. Kemudian alat dari bank BRI pun link-nya belum masuk ke koperasi atau kiosnya. Oleh karena itu sampai sekarang belum bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Terkait perlunya pengawasan pada penyaluran pupuk, pihaknya siap melakukan pendampingan, baik pencairan maupun penyaluran pupuk bersubsidi.
“Iya kami siap akan turun ke lapangan, karena kan tujuan diberikannya kartu tani ini supaya tidak terjadi penyimpangan pupuk bersubsidi,” katanya. (Rizki Putri/RI)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here