Senin, 23 Juli 2018

BELAJAR DARI DUA BENUA

Pascaperubahan dari IAIN menjadi UIN menuntut lebih luas lagi membuka jaringan seiring dengan tantangan di era digital, era milenial. Hal ini diperlukan, selain tuntutan Tridharma Perguruan Tinggi juga karena amanat visi dan misi UIN itu sendiri agar unggul dan terkemuka yang mampu mengintegrasikan antara iman, ilmu, dan amal di era global.

Belajar bersana UIN Raden Intan Lampung, UIN Jambi, UIN Surabaya, dan UIN Antasari Banjarmasin, UIN Banten dalam rangka memenuhi undangan dari dua universitas terkemuka, yakni Marmara dan Ibnu Haldun Turkey yang terletak di posisi bertemunya dua benua Eropa dan Asia yang telah didahului MoU oleh Rektor sebelumnya, sungguh mendorong kita untuk menata dan menatap masa depan lebih ceria.

Keceriaan untuk menata pendidikan diperoleh dari pola rekrutmen mahasiswa dan dosen gerakan wakaf dan kualitas penguasaan bahasa internasional, baik dosen maupun mahasiswa yang kesemuanya ini menjadi acuan untuk menata UIN di masa mendatang.

Untuk mahasiswa asing sebelum diterima di Marmara maupun Ibnu Haldun University terlebbih dahulu pada tahun pertama perkuliahan diarahkan untuk penguasaan bahasa Turkey, untuk pengembangan sarpras merangkul orang-orang kaya untuk mewakafkan harta mereka dan bahkan para dosen beserta seluruh karyawan d universitad tersebut berlomba-lomba mewakafkan sebagian rizki gaji mereka setiap bulan sehingga keberkahan nampak dari terus dibabjirinya mahasiswa dari seluruh dunia.

Terbukti Marmara dengan Fakultas Ilahiyatnya menjadi terkemuka di dunia sejak 1883. Terlebih Universitas Ibnu Haldun yang usianya masih muda belia, sejak 2015 telah menunjukkan keunggulanya yang antara lain di setiap fakultas bahasa pengantar kegiatan belajar mengajarnya tidak bertumpu pada bahasa Turkey semata, tapi aneka bahasa Jerman, Inggris. Prancis, dan Arab sudah menjadi menu utamanya.

Dalam waktu 5 bulan saja kegiatan belajar mengajarnya dalam hitungan tatap muka karena faktor musim yang menyelimutinya dari summer winter spring dan autumn yang bergulir silih berganti ternyata tidak membuat rugi penghuni planet Turkey.

Multikultural karean bertemunya 2 benua d bumi syahadat modal utama buat bangsa kita yang juga multi etnis, agama, ras, dan budaya yang diikat oleh bhinneka tunggal ika begitu pun Turkey yang menjadi poros bertemunya dua benua telah berhasil, selain melindungi keumatan dan budaya bahasa internalnya juga begitu toleran antar sesama penghuni bola dunia yang kita kenal ukhuwah islamiyah basyariyah dan wathoniyah.

Dari sudut kemahasiswaan mereka ramah dengan lingkungan budaya global dan kultural ekspresi ide bukan dengan demontrasi di kampusnya. Mereka tampil lebih bernuansa akademik. Marmara jadi muara dan mutiara yang tiada tara, modal berharga untuk menata UIN ke depan yang lebih menggelora. Nuansa kelas yang nyaman berkualitas menjadi tempat yang semakin ikhlas berinteraksi menembus batas.

Gizi yang terurus rapi oleh petugas berpakaian rapi bagian tak terlupakan oleh pengelola Marmara dan Ibnu Haldun untuk segenap civitas akademika dan bahkan tamu dari seluruh peloksok dunia. Itu semua menjadi pendorong utama untuk bersama menjadi super team, bukan super man. Kawal UIN Banten kita menjadi UIN yang semakin SIP, yakni kuat Spiritual, Intelektual, dan Professional.* (DR.H.WAWAN WAHYUDDIN M.Pd/Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten)


Sekilas Info

BANTEN LAMA: ICON KELAS DUNIA

Kemegahaan sejarah Kesultanan Banten di masa lalu, mesti kita tampilkan dan tata dengan baik di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *