“Bedug pun Berjasa”


Oleh: Nasuha Abu Bakar, MA

Sahabat sahabat sejatiku, agama islam merupakan agama samawi yang dibawa dan disampaikan oleh seorang manusia berkebangsaan arab dari suku quraisy, kemuliaannya mengungguli di atas makhluk Allah lainnya. Beliau adalah yang mulia baginda nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallama.

Kehadiran Islam yang tampilnya tercermin pada kepribadian akhlak beliau, membuat suku beliau yaitu suku Quraisy khususnya dan suku suku lainnya yang ada di masyarakat bangsa arab mudah simpatik dan mengagumi agama Islam. Islam hadir menolak perbudakan, melarang pergaulan bebas, menghormati hak sesama, dan banyak hal lain yang telah mendarah daging sebagai adat istiadat mereka.

Dengan cara penyampaian yang penuh hikmah, kalau kita meminjam istilah almarhum almagfurlah kiyai haji Zainuddin MZ, kata beliau, dakwah dilakukan dengan cara merangkul bukan dengan memukul, dengan cara dipuji bukan dengan mencaci. Itulah methode yang telah dilakukan oleh baginda nabi.

Setelah baginda nabi wafat, dakwah dilakukan oleh para sahabat, sehingga agama Islam tersebar ke berbagai wilayah selain wilayah arab, dan dianut oleh bangsa bangsa lainnya. Misalnya saja pada masa sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallaahu wajhah, putra beliau yang bernama sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib diangkat menjadi menantu raja Persia. Bangsa Persia ketika itu terkenal sebagai penyembah api penganut agama majusi. Tempat pemujaannya biasanya mereka membuat menara yang tinggi kemudian api diletakkan di tempat menara yang tinggi. Kemudian mereka melakukan pemujaan kepada api yang ada di atas menara. Itulah asal muasalnya menara warisan dari bangsa Persia.

Setelah sayyidina Husain menjadi bagian keluarga kerajaan Persia, dengan budi pekerti dan akhlaq yang diwarisi dari kakek, ayah dan ibundanya, maka pemangku kerajaan Persia masuk Islam. Betapa piawainya langkah dan cara yang dilakukan oleh sayyidina Husain, setelah Islam menjadi agama di istina, menaranya tetap dirawat dan dijaga, tidak dihancurkan,hanya saja api yang dijadikan alat pemujaan dibuang dan digantikan dengan kumandang suara adzan. Makanya di masa lalu seorang muadzin bila akan mengumandangkan adzan sebagai seruan panggilan mengajak shalat mereka naik terlebih dahulu ke atas menara dan adzan dikumandangkan supaya bisa didengar oleh masyarakat luas. Itulah cara cara dakwah Islam rahmatan lil ‘alamin. Menaranya tetap dirawat, apinya yang diganti dengan kumandang suara adzan. Subhanallah…….

Seiring dengan berjalannya waktu, sehingga agama Islam sampai masuk ke tanah nusantara yang diajarkan oleh para wali sembilan atau yang dikenal dengan sebutan ” Wali Songo”. Ketika para wali datang di bumi nusantara, ada agama yang lebih dahulu hadir yaitu agama hindu dan budha yang memiliki adat dan budaya yang tengah mendarah daging di dalam masyarakat.

Lagi lagi dibutuhkan kepiawaian para penerus dan penyambung lisan nabi dalam memperkenalkan nilai nilai Islam kepada masyarakat di tanah nusantara dan sekitarnya. Budaya dan seni masyarakat pada saat itu berupa wayang dan gamelan. Kisah yang yang disuguhkan kisah ramayana.

Setelah nilai nilai Islam bisa diterima oleh masyarakat nusantara, wayang dan gamelannya tetap dirawat dan dilestarikan karena itu dianggap sebagai media dakwah, nilai nilai Islamnya yang dikisahkan melalui lakon dan cerita dalam budaya wayang menggantikan cerita ramayana. Subhaanallah…betapa elok dan piawainya dakwah yang dilakukan oleh wali wali kekasih Allah.

Setelah berjalannya waktu, islam sudah banyak pemeluknya, maka saat itu sedikit kesulitan untuk mengumpulkan umat dalam kegiatan beribadah dalam satu tempat yaitu di masjid, kemudian muncul pemikiran membuat bedug sebagai alat untuk memanghil shalat. Sebab suara adzan di atas menara kurang mampau menjangkau tempat yang lebih jauh dibanding dengan suara bedug. Subhaanallah….

Sekarang zaman semakin maju, dengan kemajuan zaman lahir dan hadir kemajuan teknologi, makan ada alat pengeras suara, dengan alat itu suara manusia akan terdengar lebih keras. Oleh para ulama alat itu dipandang sebagai “Wal Akhdzu bil jadiidil ashlah” itu istilah kaidah di dalam ilmu ushul fiqih yang bisa dijadikan rujukan sandaran hukum. Maksud dengan kaidah di atas, dibolehkan mengambil sesuatu yang baru dengan alasan akan jauh lebih baik. Oleh para ulama alat pengeras suara dipandang lebih baik dari pada tidak menggunakan nya. Ada juga kasus seperti orang yang mengidap penyakit gula, menurut dokter harus dilakukan tindakan amputasi. Mengurangi dan memotong organ tubuh tidak diperkenankan dalam Islam. Akan tetapi demi kehidupan yang lebih lama dan lebih sehat, maka amputasi diperkenankan dalam Islam.

Dengan hadirnya alat pengeras suara, maka bedug bisa istirahat sebab jangkauan alat pengeras suara lebih jauh dari pada jangkauan suara bedug. Akan tetapi para ulama kita sikapnya tetap sangat bijak, tidak serta merta dengan adanya alat pengeras suara kemudian harus menyingkirkan bedug, atau melarang bedug, sebab beliau beliau para ulama sangat memahami tentang alat pengeras suara. Walaupun suaranya lebih keras dari suara bedug, tetap masih mempunyai kelemahan, yaitu manakala padam listrik, atau rusaknya jaringan PLN, maka Bedug tetap dibutuhkan suara dentumannya. Itulah da’wah Islam Rahmatan lil ‘alaamin. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here