Banyak Temui Kendala, Uji Coba Tambang Emas Bayah Gagal

SERANG, (KB).- Uji coba penambangan emas di Perairan Bayah, Kabupaten Lebak yang direncanakan berjalan pertengahan tahun ini, tak kunjung terlaksana atau gagal. Beberapa kali percobaan yang dilakukan, banyak menemui kendala. Mulai dari cuaca yang tak mendukung hingga peralatan mengalami kerusakan.

Diketahui, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL) Badan Litbang Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dibantu pihak swasta PT Graha Makmur Coalindo (GMC) berhasil menemukan kandungan emas dan mineral lainnya di bawah laut Perairan Bayah, Kabupaten Lebak, Jumat (28/6/2019) lalu.

Baca Juga : Emas di Perairan Bayah Diindikasikan Capai 28 Ton

Penemuan tersebut terungkap menggunakan karpet penangkap mineral yang merupakan inovasi dari para peneliti dan perekayasa P3GL. Menurut hitungan kasar P3GL, proses produksi terindikasi bisa menghasilkan 28 ton emas.

Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Banten Eko Palmadi mengatakan, berdasarkan laporan dari pihak penambang emas di Perairan Bayah upaya uji coba beberapa kali menemui kendala.

”Uji coba saja belum, kan (sebelum eksploitasi) harus uji coba dulu. Orang kan boleh berencana tapi yang menentukan nasib ya Allah,” ujarnya di Masjid Raya Albantani, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang, Jumat (29/11/2019).

Salah satu kendala yang menghambat uji coba yaitu kondisi cuaca berupa ombak tinggi. Akibatnya, kapal yang digunakan penambang mengalami kerusakan.

”Kemarin mau uji coba (tapi) ombak gede, laut selatan kan gede-gede ombaknya. Mereka sudah lapor, pak saya mau uji coba tapi enggak tahunya ombak gede enggak jadi, mau uji coba lagi kapalnya rusak,” ujarnya.

Ia belum memastikan kapan uji coba lanjutan dan berapa kali akan dilaksanakan. Hal tersebut baru diketahui dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) penambang yang akan kembali disusun dalam waktu dekat.

”Tergantung dia kemampuannya berapa kali. Uji coba itu bisa saja misalkan ini berhasil, ini enggak berhasil. Oh ini setelannya pas, bisa dapat emas banyak. Di dalam RKAB nanti ada rencana mereka kerja,” ucapnya.

Disinggung apakah beberapa kali uji coba yang gagal sudah sampai mengangkat material emas, ia mengatakan belum sampai ke sana. ”Kalau dapat (emas Bayah bisa diproduksi) kan jadi penghasilan buat kita,” tuturnya.

Sebelumnya Eko menjelaskan, proses penambangan emas dilakukan dengan cara menghisap pasir dengan menggunakan pompa hisap.

”Dan itu nanti prosesnya nanti ada di laut dan nanti ada di dalam pasir, nanti bisa gelap di si pasirnya, pasirnya dibalikin lagi ke ini (laut) emasnya dibawa. Karena kadang-kadang kalau nyedot satu ton belum tentu dia dapat 2-3 gram,” katanya.

Jika produksi sudah berjalan maka akan ada royalti yang didapatkan pemeritah. Hitungannya hasil produksi dikalikan harga pasar emas internasional, kemudian dilakukan presentase dan akan muncul angka royalti yang harus diberikan kepada pemerintah.

Angka royalti 100 persen dibagi untuk pemerintah pusat 20 persen, kabupaten lokasi produksi 32 persen, kabupaten/kota bukan lokasi produksi 32 persen dan pemprov 16 persen.

”Mudah-mudaban benar seperti itu kalau benar itu ya Banten dapat royalti minimal. Dalam aturannya nanti Banten akan mendapatkan royalti dari emas, kalau provinsi kira-kira dapat 16 persen lah royaltinya,” ujarnya. (SN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here