Rabu, 22 Agustus 2018

Banyak Guru Belum Sejahtera

HUT PGRI yang ke-72 dan sekaligus dijadikan sebagai peringatan Hari Guru Nasional. Sejahteranya baru dapat dirasakan oleh guru yang sudah sertifikasi. Sebaliknya bagi non sertifikasi atau guru honorer masih sengsara karena belum mendapatkan kesejahteraan. Jadi banyak ragam tingkat kesejahteraan guru di daerahkita. Sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”, tetaplah hanya sekedar pemanis bibir bernuansa verbalisme. Guru hanyalah profesi mulia yang wajib disanjung saja tanpa apresiasi dan penghargan yang lebih.

Profesi guru terkesan hanya dipandang sebagai komunitas yang melakukan pekerjaan dengan ikhlas tanpa boleh bisa menuntut hak dan kesejahteraan yang semestinya. Akhirnya kata ”pahlawan” sekarang hanya menjadi sebuah kalimat yang tak ada nilainya. Fakta menyebutkan, kesejahteraan guru masih jauh dari cukup. Kesejahteraan dalam arti luas bukan hanya persoalan gaji semata, melainkan lebih dari itu, juga menyangkut apresiasi kepangkatan, pengembangan kapasitas (capacity building), perlindungan hukum, dan lain sebagainya.

Sebagian guru memang telah mendapatkan apresiasi sepantasnya terutama yang berstatus sudah menjadi ASN dan guru swasta favorit. Tetapi bagaimana dengan nasib guru lainnya yang masih jauh dan miskin apresisasi. Seperti nasib lebih dari 440.000 guru honorer yang belum jelas nasib dan statusnya. “Guru-guru di daerah terpencil yang harus berjalan puluhan kilometer, sekedar untuk mengajar 20 orang murid dengan gaji Rp 600 ribu rupiah/bulan, sungguh ironis memang,” kata Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik (Fisip) Unma banten Eko Supriatno kepada Kabar Banten, Ahad (26/11/2017).

Menurut Eko, dedikasi seorang guru memang benar-benar tanpa pamrih. Mereka sama sekali tak mengharapkan apa-apa. Seorang guru hanya ingin melihat anak-anak didiknya berhasil di masa yang akan datang. Walaupun demikian, tidak ada salahnya jika pemerintah dapat memperjuangkan nasib guru ini menuju keadaan yang lebih baik. “Apalagi kini, amanah undang-undang menyatakan bahwa anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari total anggaran pembangunan telah disyahkan. Ini berarti suatu prestasi luar biasa jika dilaksanakan,” tuturnya.

Namun demikian, di tengah nasib guru yang belum baik ini, seorang guru haruslah terus memperbaiki kualitas dan potensi diri. Meningkatkan profesionalisme, kemampuan akademis, kreatifitas, dan keuletan haruslah menjadi tekad utama sebagai pendidik generasi bangsa. Guru harus senantiasa mengembangkan keahlian, pengetahuan dan keyakinan untuk mengeksplorasi metode-metode baru baik kompetensi pedagogig, sosial, kepribadian, dan profesional dalam rangka mencapai prestasi terbaik.

“Idealnya memang, seorang guru haruslah tetap istiqomah dalam mengabdi mendidik anak-anak dengan atau tanpa apresiasi layak sekalipun. Karena memang guru ditakdirkan untuk mendidik, mengajar, dan menularkan nilai-nilai pendidikan dan mentalitas super menyonsong masa depan yang lebih cerah dan dapat menjadi kebanggaan bangsa,” katanya. Tambah Eko, sudah cukup banyak prestasi-prestasi terbaik nan mengarukan yang dihasilkan oleh anak-anak bangsa, baik dikancah nasional maupun internasional. Tak lain, itu dikarenakan polesan dan didikan seorang guru yang dengan setia mendampinginya. “Guru telah menjadi kunci utama keberhasilan bangsa ini,” ucapnya.

Pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama. Setiap kita bertanggung jawab terhadap pendidikan bangsa ini. Tidak hanya tangung jawab lembaga pendidikan formal, tapi semua warga negara. Pemahaman ini harus kita tanamkan. Salah satu “problematika besar” dalam pendidikan adalah cara pandang terhadap mata rantai proses pendidikan yang masih parsial.

“Pendidikan harus diposisikan sebagai suatu sistem. Sehingga, cara pandang terhadap pendidikan juga harus sebagai suatu sistem. Selama ini jika muncul masalah dalam pendidikan, misalnya kegagalan dalam ujian nasional, kebocoran soal ujian, tawuran pelajar, dan sebagainya, pandangan pertama tersorot dialamatkan ke “sosok guru” ucapnya.

Tidak dipungkiri bahwa “sosok guru” sering disebut sebagai ujung tombak pendidikan. Dalam keseharian, guru berhadapan dengan peserta didik dan menjadi pengelola pembelajaran. Fakta bahwa jumlah guru di seluruh Indonesia lebih dari 2 juta orang menguatkan cara pandang bahwa guru merupakan profesi yang penting untuk terus dikembangkan kualitasnya.

“Secara strategis, bahwa guru merupakan penyebar dan penanam nilai-nilai budaya bangsa dan peradaban kemanusiaan. Hal ini memang membesarkan hati guru. Guru dituntut memiliki kemampuan yang jauh lebih tajam dan beragam. Indonesia sangat membutuhkan guru-guru yang cerdas, berkualitas dan berintegritas. Dunia pendidikan sangat menginginkan mereka untuk memahami dan menerjemahkan “kehidupan” secara cerdas serta mencari, menemukan dan mengembangkan kehidupan itu sendiri,” tuturnya.

Menurut Eko, untuk mewujudkan sosok Guru yang baik, profesional, dan sekaligus humanis bukan perkara mudah. Semuanya berpulang pada diri guru itu sendiri. Pemerintah, melalui program sertifikasi, dapat diapresiasi telah melaksanakan suatu program yang ideal menuju peningkatan mutu pendidikan. Meskipun dalam implementasinya banyak menuai kritik dan perlu pembenahan di masa depan.

Pihak terakhir yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan guru adalah pribadi guru itu sendiri. Untuk itu, diperlukan berbagai upaya untuk senantiasa meng ’’upgrade” diri sehingga mampu menghasilkan kreativitas dan inovasi baru dalam pembelajaran. Hal ini dipicu dengan membanjirnya informasi, terbukanya hubungan “dunia” yang semakin mengglobal, dan tantangan-tantangan problematik lainnya menuntut guru memiliki kemampuan profesional yang tidak hanya memindahkan informasi, pengetahuan, dan teori kepada siswa seperti yang terjadi saat ini.

“Guru yang baik adalah guru masa depan yang lebih cerah baik pada tatanan birokrasi yang lebih baik, perlindungan hukum, jaminan kesejahteraan maupun pada tingkat profesionalisme yang komprehensif. Secara umum, setidaknya masa depan guru ditentukan oleh tiga pihak, yakni pemerintah, organisasi profesi, dan pribadi guru masing-masing. Dengan diberlakukannya otonomi daerah (UU No. 22/1999 tentang Pemerintah Daerah), pemerintah daerah-lah (Daerah Tingkat II) yang akan menentukan kesejahteraan guru,” tuturnya.

Guru yang baik adalah guru yang memiliki “peranan” yang sangat strategis dalam sistem pendidikan. Dalam jabatan guru tercakup sejumlah besar tugas baik yang berkaitan dengan dinas maupun di luar dinas yang bersifat pengabdian. Jika tugas-tugas tersebut kita kelompokkan. Pertama, guru sebagai sebuah “profesi”, artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.

Pekerjaan (guru) sebenarnya tidak dapat dilakukan oleh orang sembarang di luar bidang kependidikan. Namun dalam kenyataan masih cukup banyak pekerjaan guru dilaksanakan oleh orang-orang yang bukan bidang kependidikan. Hal inilah yang menyebabkan profesi mengajar atau jabatan guru ini sangat mudah terkena pencemaran dibandingkan dengan profesi lain. Tugas guru tidak terbatas dalam proses belajar-mengajar tetapi juga dalam kehidupan masyarakat sehari-hari guru tetap sebagai orang yang mengajarkan tentang kehidupan.

Falsafah yang dikembangkan oleh Ki Hajar Dewantara tentang kepemimpinan dapat diimplementasikan dalam membahas masalah tugas seorang guru. Tugas guru dalam profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan (skills) kepada murid-muridnya,” ucapnya.

Kedua, guru sebagai pejuang ”kemanusiaan dan sosial” artinya adalah “menjadikan dirinya” sebagai orangtua kedua. Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat di lingkungannya, karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal untuk kehidupannya. Perubahan dan perkembangan pandangan terhadap proses belajar-mengajar membawa konsekuensi terhadap guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya. “Hal ini didasarkan pada keyakinan, bahwa kualitas proses belajar-mengajar dan hasil belajar murid dipengaruhi secara langsung oleh kompetensi guru,” tuturnya.(IF)***


Sekilas Info

Peringati Hari Kemerdekaan RI, Mujang Kurnia ”Launching” Rumah Inspirasi

Pada 73 tahun yang lalu, tepatnya pada 17 Agustus 1945 Indonesia menyatakan diri sebagai negara …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *