Bantu Warga Terdampak Covid-19, Pemkab Serang Butuh 12.000 Ton Beras Per Bulan

SERANG, (KB).- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang membutuhkan sekitar 12.000 ton beras per bulan untuk membantu kebutuhan pangan warga terdampak Covid-19. Hal tersebut dilakukan, karena saat ini banyak masyarakat yang tidak bisa bekerja serta yang pulang dari daerah perantauan akibat adanya pandemi Covid-19.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengatakan, untuk panen April dan Mei 2020 akan ada 168.000 ton gabah kering atau setara dengan 88.000 ton beras.

Jika angka tersebut dibagi kebutuhan masyarakat Kabupaten Serang, per bulan memerlukan 12.000 ton beras. Oleh karena itu, persediaan beras tersebut diperkirakan akan cukup untuk waktu 6,5 bulan ke depan.

“Tinggal nanti berapa yang akan dikeluarkan bergantung situasi yang terdampak (Covid-19) sekarang jumlahnya berapa. Kalau BPNT (Bantuan Pangan Non-Tunai) tiap bulan dari teman-teman penggilingan minimal 200 ton sudah disuplai. Kalau ada tambahan (kebutuhan) lagi kami tersedia cukup banyak,” katanya.

Ia menuturkan, ketersediaan beras tersebut, ada di 11 kecamatan. Namun demikian, dia berharap, ada dukungan dari Pemkab Serang, agar membeli persediaan gabah petani.

“Jadi, ketika musim paceklik kami masih punya persediaan gabah untuk digiling jadi beras,” ujarnya.

Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah menuturkan, dalam penanganan Covid-19 ini, peran pemkab salah satunya pengamanan sosial, yakni memberikan sembako untuk masyarakat. Oleh karena itu, dia mengecek kesiapan petani untuk penyediaan berasnya.

“Mereka menyampaikan insyallah aman, karena mereka masih terus panen,” ucapnya kepada Kabar Banten saat ditemui di salah satu penggilingan beras di Kecamatan Pontang, Kamis (16/4/2020).

Meski demikian, para petani menyampaikan kepada Pemkab Serang, agar bisa membeli gabah mereka. Namun, dalam hal tersebut, petani tidak mau dibeli dengan cara diutang.

“Ini kan penggilingan beras (diutang). Kami akan diskusikan di pemda pembelian beras untuk masyarakat ini apakah kami bisa secara aturan diberi uang muka duluan. Karena, waktu itu video conference bersama Mendagri, bahwa belanja pemerintah sekarang ini tata cara lebih disederhanakan. Karena, menghadapi kondisi yang tidak normal. Saya akan coba membantu pada para penggiling beras di sini,” tuturnya.

Ia mengatakan, saat ini ada lima penggilingan beras berskala besar di Kabupaten Serang. Namun, mereka mengakui kekurangan modal dan khawatir tidak bisa membayar semua padi petani di lapangan, sehingga para petani dikhawatirkan akan lebih memilih menjual berasnya ke Karawang.

“Mobil Karawang masih tetap datang ke sini. Jadi, pemda harus berikan uang muka pada para penggiling padi untuk membeli gabah petani, agar bisa langsung cash,” katanya.

Selain melalui penggilingan, ujar dia, beras petani juga akan diserap oleh PT Agro Serang Berkah Mandiri yang ikut serta dalam menyediakan bantuan nontunai dari pusat. Bantuan nontunai tersebut, juga berasnya disuplai oleh petani setiap bulan secara rutin.

Kemudian, ucap dia, ada juga masyarakat Kabupaten Serang sekitar 78.000 kepala keluarga (KK) yang tidak masuk program pusat, seperti bantuan nontunai dan Program Keluarga Harapan (PKH).

“Itu sudah jelas 78.000 KK ditambah masyarakat yang tadinya punya penghasilan sekarang tidak bekerja jadi nambah lagi, masyarakat Kabupaten Serang yang pulang dari Jakarta mereka juga nonjob tidak punya pekerjaan itu harus disiapkan minimal punya beras,” ujarnya.

Setiap bulan selama pandemi, pemda harus memenuhinya kebutuhan makan keluarga terdampak tersebut.

“Kebutuhan minimal makan sudah dihitung akan disuplai oleh pemerintah provinsi dan Kabupaten Serang. Kami berbagi tugas. Penyaluran sedang berjalan bantuan nontunai. Mereka menyiapkan lagi nanti untuk pembelian dari pemda,” katanya. (DN)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here