Bantu Pengungsi Rohingya, LAZ Harfa Kirim Dokter ke Banglades

PEMAKAIAN rompi oleh LAZ Harfa kepada dr Chubaesy di salah satu rumah makan di Kota Serang, Jumat (13/10/2017). Pemakaian rompi merupakan simbol pelepasan dr Chubaesy sebelum menjadi relawan untuk Rohingya di Bangladesh.*

Lembaga Amil Zakat (LAZ) Harapan Dhuafa (Harfa) mengirimkan salah satu relawannya ke kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh, bernama dr Chubaesy. Rencananya dokter spesialis rehab medik yang bertugas di RSUD Pandeglang dan RS Budi Asih tersebut akan tinggal 14 untuk membantu pengobatan pengungsi rohingya.

Direktur LAZ Harfa, Indah Prihanande mengatakan, relawan yang ditugaskan tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban pengungsi Rohingya di Bangladesh. “Ini adalah masalah kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab bersama. Kita berkontribusi dalam misi kemanusiaan ini dengan mengirimkan dokter karena prioritas masalah dokter. Karena ini yang sangat dibutuhkan pengungsi. Sebaran penyakit di lokasi pengungsi juga sangat memprihatinkan,” ujarnya saat konferensi pers di salah satu rumah makan di Kota Serang, Jumat (13/10/2017).

Penugasan relawan untuk Rohingnya sudah terhitung dua kali dilakukan. Sebelumnya relawan yang dikirim bergerak dalam bidang pemetaan. Selain bantuan relawan, ada juga bantuan berupa uang yang dikirmkan dengan total Rp 270 juta.  “Tahap pertama sudah kita kirimkan. Totalnya kurang lebih Rp 270 juta,” katanya.

Untuk pemberangkatan dr Chubaesy, LAZ Harfa tidak menggunakan dana khusus untuk Rohingya. Dana disiapkan tersendiri, bahkan sebagiannya diambil dari kantong dr Chubaesy. “Dokter mengcover sendiri kebutuhannya selama di sana. Secara formal kita juga sudah meminta izin kepada Bupati Pandeglang dan pimpinan rumah sakit untuk menugaskan dokter ke Bangladesh,” ucapnya.

Mencari dokter yang mau ditugaskan untuk kemanusiaan di Rohingya tidak mudah. Karena seorang dokter harus meninggalkan keluarga, tidak terkecuali tempatnya praktik. Karena itu, dr Chubaesy terbilang dokter yang dedikasi kemanusiaannya sangat tinggi. “Ke depan lihat situasi. Sangat susah untuk mencari dokter yang akan berangkat kembali ke sana.

Apalagi dokter spesialis. Mereka harus meninggalkan praktiknya,” ucapnya. Dokter tersebut juga, kata dia, tidak mendapatkan gaji sepeserpun dari LAZ Harfa. Dasar melakukan semuanya hanya karena misi kemanusiaan. “Tidak pernah mendapatkan uang seperserpun dari kami (LAZ Harfa),” katanya.

Sementara, dr Chubaesy mengatakan, keikutsertaannya menjadi relawan hanya didasari oleh kemanusiaan. Keluarga yang ditinggalkannya pun tidak merasa keberatan atas misi tersebut.
“Saat kita memberi perhatian pada orang lain, sesungguhnya kita sedang memerhatikan diri sendiri. Bismillah, saya punya keyakinan dan mohon doa untuk menjalankan tugas ini. Insya Allah akan memberikan laporan,” tuturnya.

Terhitung dengan menjadi relawan tersebut, dia sudah dua kali ditugaskan untuk misi kemanusiaan. Sebelumnya menjadi relawan untuk korban bencana tsunami di Aceh pada 2005 silam.  “Tidak masalah. Bahkan dulu saat saya hendak berangkat di daerah konflik, keluarga juga mengizinkan. Insya Allah keluarga mengizinkan,” ujar dokter yang sudah terbiasa turun untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial ini. (Sutisna)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here