Bantu Ketahanan Pangan, BMKG Gelar SLI di Kota Serang

SERANG, (KB).- Dalam upaya mendukung ketahanan pangan di wilayah Banten, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisiki (BMKG) Stasiun Klimatologi Tangerang Selatan (Tangsel) mengelar Sekolah Lapangan Iklim (SLI), di salah satu hotel di Kota Serang selama dua hari, (7-8/8/2019).

Kepala Balai Besar MKG Wilayah II Tangerang Selatan (Tangsel) Hendro Nugroho mengatakan, kegiatan ini sebagai upaya BMKG dalam memberikan literasi kepada masyarakat dalam pemahaman membaca iklim, khususnya petani. Sehingga dapat mendukung ketahanan pertanian nasional, meski pada masa kemarau.

“Apalagi saat ini kami memasuki musim kemarau. Jadi informasi ini sangat penting bagi masyarakat, terutama petani. Kapan waktu menanam yang baik, kemudian kapan waktunya pemilihan bibit yang tepat. Jadi mereka tau informasi lebih awal tentang cuaca. Sehingga gagal panen itu dapat dihindari,” katanya.

Hal ini, kata dia, tidak bisa hanya pihaknya yang berjalan sendiri. Akan tetapi dari berbagai pihak pun turut serta membantu. Seperti Dinas Pertanian, dan beberapa pihak terkait untuk mendukung proses ketahanan pangan ini. “Kami harus bersinergi bersama dinas-dinas dan pihak terkait juga,” ujarnya.

Saat ini, ia menjelaskan, pada puncak musim kemarau di wilayah Banten, khususnya mulai Agustus hingga pertengahan Oktober nanti. Namun, masuknya kemarau sejak bulan Mei 2019. Di tahun ini juga kemarau lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Akan tetapi tidak separah pada tahun 2015 lalu.

Apalagi, kata dia, ada sebelas wilayah di Banten yang akan mengalami 60 hari tanpa hujan. Tentu ini perlu ada antisipasi dan kesiapan berbagai pihak dalam menangani persoalan kekeringan. “Pertengahan Oktober nanti, kami prediksi akan turun hujan. Namun, ada sebelas wilayah di Banten yang akan mengalami 60 hari tanpa hujan. Ini perlu kami antisipasi, baik untuk pertanian, kemudian kebutuhan air bersih dan sebagainya,” ujarnya.

Hendro menjelaskan, iklim memiliki peran yang sangat penting dalam proses budidaya pertanian. Sebab iklim dapat mempengaruhi produktifitas pertanian. Sehingga, pemahaman informasi dan prakiraan cuaca atau iklim bagi para penyuluh pertanian serta petani sangat diperlukan. Tujuan ini pun agar mereka dapat mengaplikasikan secara langsung di lapangan.

Kepala Dinas Pertanian Kelautan dan Peternakan (DPKP) Provinsi Banten Agus Tauchid mengatakan, kegiatan ini sangat tepat dengan kondisi yang ada saat ini. Karena dampak fenomena iklim sangat berpengaruh terhadap pertanian di wilayahnya. Sebab, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) perlu tahu dan memahami dalam pembacaan suatu iklim yang ada di daerah.

“Ujungnya adalah proses mitigasi. Jadi bagaimana proses perencanaan agar musibah seperti kekeringan ini bisa kami tekan. Sehingga tingkat kerugian atau kegagalan yang paling tinggi. Dengan kegiatan ini kan kami bisa membaca perubahan iklim dan pertanda fenomena alam. Jadi petugas kami bisa menyampaikan kepada masyarakat dan petani,” katanya.

Sehingga nanti, tutur dia, ketika musim-musim yang akan datang para petani bisa mengantisipasi dengan langkah-langkah yang telah diberikan oleh PPL. Kemudian, tentu saja kerugian ini bisa dihindari. Contohnya, ketika musim hujan, atau kemarau datang, apa saja yang harus dilakukan oleh mereka. Seperti percepatan tanam, ketika kemarau akan datang. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here