Senin, 17 Desember 2018

BANTEN LAMA: ICON KELAS DUNIA

Kemegahaan sejarah Kesultanan Banten di masa lalu, mesti kita tampilkan dan tata dengan baik di masa sekarang, bahkan harus kembali menjadi icon Provinsi Banten kelas dunia, baik dalam kepentingan pariwisata, ilmu pengetahuan, keagamaan maupun budaya.

Penataan dan segala perbaikan yang dibutuhkan, sudah dimulai. Insya Allah, hingga akhir 2022 nanti, peradaban dan kemegahan Banten lama bersinar kembali. Bahkan mulai akhir tahun ini, aura itu akan mulai terlihat. Ke depan, kita tidak perlu miris hati, karena selama ini Banten lama terlihat kumuh, tidak teratur dan tidak mencerminkan icon sejarah.

Kendati sudah diinstruksikan sejak enam bulan lalu, program revitalisasi Banten Kawasan Lama ini baru mulai berjalan sekarang. Mudah-mudahan keterlambatan awal yang terjadi dapat menjadi perhatian dan evaluasi dinas-dinas terkait untuk mempercepat proses revitalisasi selanjutnya, yang juga akan dikoordinasikan dengan penataan Kota Serang (sebagai kawasan strategis untuk pengembangan dan pemantapan pertumbuhan ekonomi), sebagai Ibu Kota Provinsi Banten agar terlihat lebih indah, tidak gersang.

Program revitalisasi (di kawasan Banten lama, sebagai kawasan strategis untuk fungsi pengembangan dan pemantapan fungsi sosial dan budaya), berkaitan dengan upaya membangun 1.000 kios di kawasan penunjang wisata dari 700 unit pedagang yang telah ada.

Revitalisasi juga menyangkut penataan kawasan kumuh di sekitarnya, terutama di Kecamatan Kasemen Kota Serang, selama dikenal sebagai kawasan peninggalan Kesultanan Banten (Ibukota Kesultanan Banten). Meskipun menjadi pusat peradaban Banten, masyarakat Kasemen, hingga kini masih belum keluar dari stigma kantong kemiskinan dan permukiman yang kian hari memprihantikan, masih terabaikan atau tak tersentuh.

Desa Tanggul Jaya, Kecamatan Kasemen, Kota Serang menjadi salah satu kawasan yang hampir semua penduduknya bermukim di sebuah rumah tua yang hampir roboh. Karenanya akan dipugar, tanpa mengubah bentuk asli rumah-rumah budaya yang telah ada.

Pada area ini juga direncanakan untuk menghidupkan semua potensi budaya masyarakat sekitar agar menjadi icon atau pusat perhatian untuk kunjungan para wisatawan. Termasuk, penataan objek-objek bersejarah Banten Lama agar lebih tertata dan representatif.

Revitalisasi juga akan dikaitkan dengan upaya yang serius terhadap pencarian, penumbuhan dan pemeliharaan berbagai bentuk budaya yang ada di masyarakat di kawasan Banten lama, apakah itu berkaitan dengan seni, kuliner, fashion, dan lain sebagainya untuk diberi ruang agar tumbuh secara baik dan terjaga. Termasuk penguatan terhadap berbagai lembaga keagamaan, lembaga budaya dan lembaga keilmuan yang telah ada sejak masa kesultanan di masa lalu.

Inilah saat yang baik untuk segenap pemangku kepentingan dan masyarakat di sekitar kawasan Banten lama untuk meninggalkan kebiasaan lama, agar sama-sama menjaga keindahan dan keberadaban peninggalan masa lalu kesultanan Banten. Membuang pola-pola lama yang hanya meributkan keuntungan dan mencari keuntungan dari kawasan Banten Lama tanpa memperdulikan kepentingan masyarakat yang lebih besar.

Sudah 30 tahun belakangan ini Kawasan Banten Lama terbengkalai, termasuk situs-situs bersejarahnya, tak terurus, bahkan beberapa diantaranya, kondisinya memprihatinkan, ditengah berbagai konflik kepentingan yang tak berkesudahan. Di sisi aturan juga belum banyak regulasi yang langsung menyentuh kepada upaya signifikan dalam menata kawasan tersebut.

Bagi saya, ini menjadi tanggungjawab moral bagi siapapun orang Banten untuk berontribusi agar kawasan Banten lama bisa berubah. Pemerintah sendiri akan menggelontorkan biaya sekitar Rp 300 miliar untuk menata kawasan Banten Lama, agar nyaman, indah dan beradab untuk kepentingan semua, bukan kelompok atau golongan tertentu.

Dana Rp 300 miliar tersebut diperuntukkan bagi pembiaayaan rehabilitasi dan renovasi taman, sungai, infrastruktur jalan, vihara, kantor pos polisi, dan lain sebagainya. Kawasan Banten Lama tak kurang dari 5 juta orang datang mengunjunginya setiap tahun. Hal ini menjadi potensi besar dalam pariwisata, terutama wisata religi, namun kondisinya mesti diperbaiki saat ini.

Mengingat kondisi fisik bangunan bersejarah yang semakin tua; perlunya pengembangan konsep pariwisata yang lebih luas dan menarik yang tidak hanya menawarkan pesona Masjid Agung saja, ada objek wisata bersejarah menarik lainnya, bukan hanya masjid agung, karenanya perlu dieksplorasi kembali objek-objek wisata bersejarah lainnya. Misalnya, Istana Surosoan, Situs Istana Kaibon, Benteng Spellwijk, Danau Tasikardi, Meriam Ki Amuk, Pelabuhan Karangantu, Vihara Avalokitesvara dan lain-lain.

Namun hal tersebut perlu dipersiapkan berbagai penyediaan fasilitas yang memadai seperti; tempat parkir, wc umum, lampu penerangan, tempat sampah, tata informasi, penunjuk arah dan tempat berdagang, termasuk infrastruktur jalan yang baik. Alhamdulilah, sejak awal program revitalisasi kawasan Banten Lama ini terpatahkanlah stereotip yang selama ini terbangun, bahwa penataan kawasan Banten Lama akan sulit dan “berdarah-darah”.

Ternyata semua pihak terlibat dan membantu, termasuk masyarakat di kawasan Banten Lama, apakah itu tokoh masyarakatnya, aparatnya, jawara maupun pedagangnya sendiri. Khusus untuk hal ini, saya mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya.

Saya berharap, revitalisasi yang dilakukan untuk anak cucu kedepan, bukan saja memperjelas keindahan dan keberadaban peninggalan kesultanan Banten masa lalu, tetapi juga menjadi pemicu bagi tumbuhnya kembali kejayaan Banten masa lalu tertutama di bidang ilmu agama, yang di masa lalu juga telah mendunia.

Kini saatnya kita berbuat yang terbaik untuk masyarakat, berpikir positif dan memberikan kontribusi sekecil apapun untuk perubahan yang lebih baik di kawasan Banten Lama. (Wahidin Halim/Gubernur Banten)*


Sekilas Info

Seperti Sepasang Sandal

Oleh Nasuha Abu Bakar,MA Kenyataan di dalam kehidupan tidak dapat dielakan dan tidak dapat dipungkiri …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *