Sabtu, 17 November 2018

Banten Ditargetkan Bebas Malaria 2020

PANDEGLANG, (KB).- Gubernur Banten, Wahidin Halim (WH), menargetkan Banten bebas dari malaria 2019-2020. Untuk mewujudkannya, saat ini Banten sedang fokus program untuk membebaskan Banten dari penyakit yang ditularkan oleh nyamuk yang telah terinfeksi parasit plasmodium tersebut.

Hal itu dikatakan Wahidin Halim saat menghadiri acara peringatan pekan Imunisasi Dunia dan Hari Malaria Sedunia di Gedung Sohibul Barokah, Desa Mendalasari, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Ahad (29/4/2018). Dalam acara tersebut juga dihadiri Menteri Kesehatan (Menkes) RI Nila F Moeloek, Bupati Pandeglang Irna Narulita dan tamu undangan lainnya.

“Saat ini saja, kasus malaria di Banten semakin mengecil dan berkurang. Saya tidak mencatat kasus per kasus, akan tetapi daerah-daerah tertentu seperti Pandeglang semakin berkurang menjadi 6 kecamatan lagi yang belum terbebas malaria. Begitu juga Kabupaten Lebak berkurang dan sisanya 7 kecamatan lagi. Untuk itu, mudah-mudahan 2020 kita bebas dari malaria,” kata Wahidin Halim.

Sementara itu, Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengatakan, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Menkes dan Gubernur Banten untuk membebaskan 6 kecamatan di wilayah Pandeglang yang masih tergolong rawan penyakit malaria. Sehingga, ke depan Pandeglang terbebas dari malaria.

“Gubernur kan sudah menargetkan Banten harus terbebas malaria pada tahun 2019-2020. Tentu saja, kami bawahannya yang ada di Pandeglang akan mendorong target tersebut. Apalagi kan Pandeglang juga masih ada 6 kecamatan yang belum terbebas dari malaria, tentu saja kami akan berupaya membebaskannya,” ucapnya.

Sementara itu, Menkes RI, Nila F. Moeloek mengatakan, dari 514 kabupaten/kota di Indonesia, sudah 272 telah mencapai bebas malaria. Saat ini, sebanyak 191 juta lebih atau 73 persen penduduk Indonesia sudah bertempat tinggal di daerah bebas malaria.

“Pemerintah harus berupaya sungguh-sungguh agar anak-anak bisa mendapat hak hidup sehat. Untuk itu, semoga sebelum tahun 2030, Indonesia sudah bebas dari malaria,” katanya.

Menurut dia, nyamuk harus menjadi musuh bersama. Supaya Indonesia ini benar-benar terbebas dari malaria, semua elemen masyarakat harus menjaga kebersihan di masing-masing rumahnya.

“Jadi gak bisa selalu berharap ke Pak Gubernur Banten untuk membebaskan malaria di Banten. Tetapi harus ada kerja sama semua pihak,” ujarnya.

Menurut Menkes, pemberian imunisasi dapat menurunkan angka kesakitan, kecacatan, dan kematian. Pencegahannya, mampu melindungi hingga angka 3 juta dari 9 penyakit menular. Saat ini Indonesia masih memberikan 9 imunisasi di antaranya tuberkulosis, difteri, tetanus, meningitis, hepatitis B, polio, dan campak.

“Masih ada 1,3 juta anak Indonesia yang belum mendapat imunisasi lengkap. Untuk itu, saya titip kepada Kepala Dinas Kesehatan atau bupati/wali kota dan gubernur untuk memberikan akses dan memberikan informasi terkait pentingnya imunisasi,” tuturnya.

Menkes meminta semua pihak untuk mengantisipasi adanya isu kontroversial dan isu negatif tentang imunisasi.

“Dukungan dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah diperlukan. Karena UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, tercantum bahwa imunisasi adalah hak anak,” ucapnya.

Menkes mengatakan, Indonesia sudah mampu meraih 4 prestasi yaitu, eradikasi cacar pada tahun 1974, eradikasi polio pada tahun 2014, eliminasi tetanus neonatal dan maternal pada tahun 2016.

“Kita mampu menurunkan lebih dari 90 persen angka kesakitan dan kematian akibat penyakit difteri, pertusis dan campak dibandingkan 20 tahun yang lalu,” tuturnya. (IF)*


Sekilas Info

Pemilih Pemula Perempuan Diberikan Pendidikan Politik

PANDEGLANG, (KB).- Pemilih pemula perempuan diberikan pendidikan politik dalam kegiatan “Pendidikan Politik bagi Pemilih Pemula Perempuan”, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *