Banten Diguncang Gempa 6,4 SR, 1.247 Rumah Rusak Seorang Meninggal

SERANG, (KB).- Gempa tektonik berkekuatan 6,4 skala richter (SR) mengguncang Banten dan sekitarnya, Selasa (23/1/2018) sekitar pukul 13.35. Selain merusak ribuan rumah, gempa juga memakan korban jiwa yakni seorang meninggal dunia karena sakit jantung, 2 orang mengalami luka ringan, dan seorang luka bakar ringan akibat tersengat listrik.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kerusakan yang cukup parah terjadi di wilayah Lebak. Dari data sementara yang diperoleh dari Polres Lebak sampai dengan pukul 20.30, sebanyak 1.247 rumah rusak, yang terdiri atas rusak berat 109 rumah, dan rusak ringan 1.138 rumah.

Ribuan rumah yang rusak itu tersebar di Kecamatan Bayah 118 rumah terdiri atas 24 rusak berat dan 94 rusak ringan, Kecamatan Wanasalam 61 rumah terdiri 60 rusak ringan dan 1 rusak berat, fasilitas umum berupa 3 sekolah dasar, 3 musala dan 1 masjid. Berikutnya, Kecamatan Panggarangan 56 rumah terdiri atas 31 rusak ringan dan 25 rusak berat, Kecamatan Cilograng 149 rumah terdiri atas 107 rusak ringan dan 42 rusak berat, Kecamatan Lebak Gedong 13 rumah dan 1 puskesmas.

Selanjutnya, Kecamatan Sobang 2 rumah rusak ringan, Kecamatan Cimarga 5 rumah rusak ringan, Kecamatan Sajira 2 rumah rusak ringan, Kecamatan Cihara 136 rumah terdiri atas 123 rusak dan 13 rusak berat, Kecamatan Cirinten 6 rumah rusak ringan, Kecamatan Bojong Manik 15 rumah rusak ringan, Kecamatan Cijaku 120 rumah rusak ringan dan 1 puskesmas rusak ringan.

Sementara itu, di Kecamatan Malingping 549 rumah rusak terdiri 518 rusak ringan, 31 rusak berat, dan fasilitas umum berupa sekolah dasar rusak ringan, 4 musala rusak ringan, dan 1 masjid rusak ringan. Sedangkan di Kecamatan Cigemblong 1 rumah rusak ringan, Kecamatan Cibeber 23 rumah rusak terdiri atas 15 rusak ringan dan 8 rusak berat, Kecamatan Cibadak 1 rumah rusak ringan.

Untuk korban jiwa seorang meninggal dunia karena sakit jantung dan 2 orang mengalami luka ringan dan seorang luka bakar ringan akibat tersengat listrik. Secara keseluruhan, fasilitas umum berupa 8 sekolah rusak ringan, 4 musala rusak ringan, 1 masjid rusak ringan, dan 2 puskesmas rusak ringan.

Menurut Kepala Pelaksana Harian BPBD Lebak, Kaprawi, pihaknya menerjunkan petugas kebencanaan dan tim relawan tangguh ke lokasi pusat gempa di pesisir selatan yang langsung berhadapan dengan Perairan Samudera Hindia. Pusat gempa itu berlokasi di pesisir selatan Lebak, untuk mengevakuasi dan penyelamatan warga yang terkena bencana alam tersebut. Apalagi, lokasi tersebut cukup jauh hingga mencapai 140 kilometer dari Rangkasbitung, Ibu Kota Kabupaten Lebak. “Kami berharap jumlah kerusakan rumah tidak bertambah lagi,” katanya menjelaskan.

Sementara itu, RSUD Adjidarmo Rangkasbitung Kabupaten Lebak hingga kini tidak menemukan pasien korban reruntuhan rumah yang terkena gempa.”Kami belum menemukan ada pasien yang dirawat terkena reruntuhan rumah akibat gempa,” ujar seorang pegawai RSUD Adjidarmo Rangkasbitung, Deni. Bukan hanya rumah, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Cibeber Kabupaten Lebak juga rusak.

Kepala SMAN 3 Cibeber, Drs. Endi Rusli mengatakan, gempa yang mengguncang wilayah selatan Lebak menyebabkan satu ruang kegiatan belajar mengajar (KBM) kelas 10 mengalami retak dan nyaris ambruk.”Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, terpaksa ruang yang kondisinya retak tersebut tidak akan kami isi untuk sementara waktu,” tuturnya.

Danramil 0314 Panggarangan Kapten Inf. Yan Tirtayasa mengatakan, pihaknya masih melakukan kroschek ke sejumlah desa di wilayahnya. Namun hingga sekarang, tidak ditemukan masjid yang roboh seperti beredar di media sosial. “Gak ada, kalau masjid yang gentengnya jatuh karena gempa memang ada, salah satunya di Desa Ciparahu Kecamatan Cihara,” ujarnya.

Di Kabupaten Serang, sebanyak 4 unit rumah milik warga ambruk. Namun, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang sempat membuat panik warga tersebut. Berdasarkan data yang dihimpun Kabar Banten dari Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang, keempat rumah tersebut di antaranya, Marnah warga Kampung Kakabu RT 02/RW 01, Desa Curug Sulanjana, Kecamatan Gunung Sari.

Selanjutnya, rumah milik Satria warga Kampung Cikuar RT 012/RW 003, Desa Cibojong, Kecamatan Padarincang. Kemudian, rumah milik Saman warga Kampung Kaluwung, RT 002/RW 03, Desa Parakan, Kecamatan Jawilan. Terakhir, rumah milik Sarmin warga Kampung Cirongge, RT 11/RW 03, Desa Angsana, Kecamatan Mancak.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Serang Nana Sukmana mengatakan, pasca mendapatkan informasi tersebut, pihaknya pun sudah melakukan koordinasi dan langsung menurunkan timnya ke lapangan. “Sudah diberangkatkan ke lokasi yang terdampak gempa untuk validasi data Pusdalops. Kemudian berkoordinasi dengan PMI, Tagana dan beberapa sukarelawan untuk melakukan pemantauan di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Camat Jawilan Agus Saefudin mengatakan, untuk wilayahnya memang terdapat satu rumah yang ambruk pasca terjadinya gempa bumi tersebut. Rumah tersebut ambruk pada bagian dindingnya. Walau demikian, dirinya bersyukur tidak ada korban jiwa. “Tapi alhamdulillah enggak ada korban,” ucapnya.
Untuk sementara, kata dia, keluarga korban atas nama Sarna tersebut tidak bisa menempati rumahnya. Mereka terpaksa mengungsi ke rumah keluarga terdekat. “Sudah ada penanganan, dan sekarang mereka mengungsi,” katanya.

Babinsa Koramil Padarincang Serda Denny Rahmatullah mengatakan, sekitar pukul 14.00 di Kampung Cikuar, RT 12/RW 003, Desa Cibojong telah terjadi rumah roboh yang disebabkan gempa bumi. Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun akibat peristiwa itu, korban menderita kerugian materil sekitar Rp 10 juta. “Tapi korban jiwa nihil, jumlah jiwanya ada 4 orang,” ujarnya.

Dari Kabupaten Pandeglang, Sekolah Cahaya Madani Banten Boarding School (CMBBS) di Kecamatan Majasari roboh akibat gempa. Sekolah milik Pemprov Banten tersebut juga dikunjungi Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy dan Bupati Pandeglang, Hj. Irna Narulita. “Saya minta BPBD dan OPD lain untuk sigap kejadian bencana. Pantau, data kerusakan rumah. Siapkan bantuan dan penanganan pascagempa,” kata Bupati Pandeglang, Hj. Irna Narulita seusai meninjau Sekolah CMBBS.

Warga diminta tenang

Sementara itu, Wakil Gubernur Banten, Andika Hazrumy mengatakan, dari informasi yang diterimanya ratusan rumah rusak di Kabupaten Lebak. Diperkirakan ada sekitar 23 rumah mengalami rusak berat, dan 209 unit rumah lainnya rusak ringan. “Kalau wilayah yang paling parah terjadi di Kecamatan Cijaku dan Pengarangan Kabupaten Lebak, dengan total 212 rumah rusak,” kata Andika saat meninjau sekolah CMBBS di Pandeglang.

Sedangkan di Kabupaten Pandeglang, tercatat dua rumah rusak yakni di Kecamatan Bojong dan Cikedal. Selain itu, ada 2 warga yang mengalami luka ringan akibat terkena reruntuhan rumah.
“Selain rumah, saya mendapat informasi ada masjid dan puskesmas roboh,” tuturnya. Menurut Andika, Pemprov Banten belum menetapkan status apapun pascagempa yang terjadi saat ini. Sebab, pemerintah masih mendata kerusakan yang terjadi akibat gempa. Kemungkinan masih ada kerugian atau korban yang belum terdata.

“Kami belum menetapkan status apapun. Karena saat ini kami masih menghimpun data yang akurat sekaligus meninjau ke lapangan. Mudah-mudahan tidak ada masalah berarti. Tetapi mungkin korban masih ada yang bertambah. Semoga tidak parah dan korban jiwa,” ujarnya. Selain itu, Pemprov juga sedang menyiapkan pemulihan pascabencana. Pemprov Banten akan berkoordinasi dengan Pemda Lebak dan Pandeglang melalui Dinsos dan BPBD. “Posko sudah dibuat baik koordinasi dari Polda, Pemprov, dan Pemkab. Kami imbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak panik, saling menjaga keluarga,” ucapnya.

Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bagian Sarana dan Prasarana CMBBS, Ngadimin mengatakan, saat gedung sekolah ambruk, pihaknya sedang membereskan kursi untuk kegiatan pertemuan kepala sekolah se-Provinsi Banten yang akan digelar Rabu (24/1/2018) hari ini. “Padahal di situ ada orang yang lagi beres-beres. Karena besok ada kegiatan rapat Kepala SMA se-Provinsi Banten. Ya, spontan saja, saat merasa ada getaran, kami langsung lari dari dalam ruangan kelas ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang, Dadi Supriyadi belum mendapat laporan kerusakan bangunan, gedung dan rumah. “Sementara ini, informasi kerugian hanya dialami Sekolah CMBBS yang roboh. Namun demikian, BPBD telah menerjunkan tim untuk memantau dampak gempa di daerah lain. Khusus di wilayah selatan yang dekat dengan pusat gempa,” katanya.

Dadi menyebutkan, gempa yang dirasakan hingga sebagian daerah di Jabodetabek itu telah menimbulkan dua kali gempa susulan. Namun ia mengimbau masyarakat agar tetap tenang, karena gempa yang terjadi tidak menimbulkan tsunami. Selain itu, rumah milik Didi (45) warga Kampung Pematang Kupa RT 01/RW 08 , Desa/Kecamatan Cimanggu, Pandeglang, roboh akibat gempa. Saat ini korban terpaksa numpang tinggal di rumah kerabatnya.

Pasien dievakuasi

Di Kota Serang, sejumlah pasien dan petugas rumah sakit (RS) Budi Asih Kota Serang sempat mengalami kepanikan hingga keluarga pasien maupun petugas ada yang berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri. Namun, sebagian petugas ada yang membantu menenangkan pasien yang dirawat di RS tersebut. Seorang petugas rumah RS Budi Asih, Irna mengatakan, sempat terjadi kepanikan di dalam ruangan rawat inap.

Para pasiennya kemudian langsung ditangani oleh seluruh perawat yang ada di RS tersebut setelah kejadian gempa tersebut. “Gempa tidak lama, lalu petugas kami langsung menenangkan pasien yang panik karena gempanya lumayan kencang dan mengejutkan pasien,” katanya. Begitu juga di Kota Tangerang, guncangan gempa juga menyebabkan kepanikan di RSU Kota Tangerang. Pada saat kejadian, para pasien dievakuasi ke titik kumpul yang tepat berada di halaman RS tersebut. Petugas bahu membahu memindahkan pasien dari dalam gedung ke titik kumpul.

Humas RSU Kota Tangerang Muhammad Yusuf mengatakan, suasana di RS tersebut sempat mengalami kepanikan. Para pegawai maupun pengunjung RS pun berhamburan keluar gedung yang terletak di Jalan Pulau Putri, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang.”Memang kan aturannya seperti itu, kita kan punya tim untuk antisipasi peristiwa, jadi kalau memang terjadi gempa kita tadi lakukan evakuasi,” ujar Yusuf saat di RSU Kota Tangerang. (TIM/KB)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here