Bank Sampah Jadi Alternatif Usaha Masyarakat

TERUS menjamurnya bank sampah di Kabupaten Lebak, diharapkan akan mampu menjadi lokomotif usaha masyarakat sekaligus wadah penyerapan lapangan pekerjaan. Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lebak, Saepulloh menyatakan, selain mendorong pembentukan bank sampah, pemerintah daerah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) telah membentuk bank sampah induk berlokasi di Pasir Ona Rangkasbitung.

”Kita terus mendorong pengelola bank sampah sebagai salah satu upaya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi masyarakat. Para pengelola bank sampah di Kabupaten Lebak tersebar di Kecamatan Rangkasbitung, Kalanganyar dan Kecamatan Cibadak,” kata Saepullah, akhir pekan lalu.

Menurutnya, saat ini jumlah pengelola bank sampah masyarakat mencapai 210 unit dan menyerap tenaga kerja hingga ribuan orang. ”Para pengelola bank sampah setiap hari memasok barang-barang bekas baik sampah organik maupun sampah nonorganik ke bank sampah induk. Semua barang-barang bekas itu oleh bank sampah induk kembali dijual ke Tangerang dan Jakarta,” ujarnya.

Dari 210 bank sampah yang dikelola masyarakat, ujarnya, memiliki anggota 300-400 orang per bank dengan rata-rata pendapatan Rp 1,5 per bulan per anggota. Dengan pendapatan sebesar itu tentu dapat membangkitkan pendapatan ekonomi masyarakat sehingga dapat mengendalikan urbanisasi dan kemiskinan. ”Kami berharap pengelola bank sampah terus ditingkatkan karena bisa menjadi lokomotif mata pencaharian masyarakat,” ucapnya.

Ditambahkan, pengelolaan bank sampah tersebut juga ramah lingkungan, terlebih Kabupaten Lebak masuk nominasi penilaian Adipura. Saat ini, limbah barang-barang bekas itu, selain didaur ulang juga bisa dijadikan bahan baku kompos untuk ketersediaan pupuk organik. Bahkan, limbah sampah juga bisa dijadikan ekonomi kreatif dengan memproduksi aneka kerajinan sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

”Pengelolaan sampah itu tentu memberikan manfaat bagi kelangsungan hidup manusia. Namun, sebaliknya jika sampah itu tidak dikelola tentu menjadikan sumber penyakit juga menimbulkan bau tidak sedap. Kami juga terus membina bank sampah itu agar dijadikan kerajinan usaha masyarakat juga pupuk organik,” tuturnya.

Terpisah Sekretaris Bank Sampah Warung Kultum Kelurahan MC Timur Rangkasbitung, Jaya Edi Junaedi mengaku sudah memiliki nasabah sebanyak 300 orang dan anggota di antaranya memiliki tabungan Rp 3-4 juta per anggota. Mereka menampung sampah tersebut dari anggota yang kebanyakan ibu rumah tangga. ”Kami sebagai pengelola bank sampah tentu memberikan pendapatan ekonomi ibu rumah tangga dengan menampung sampah itu,” katanya. (Nana Djumhana)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here