Selasa, 25 September 2018

Bank Banten Butuh Rp 2,8 T, Pemprov Banten Berencana Tarik Saham BJB

SERANG, (KB).- PT Bank Pembangunan Daerah Banten, Tbk (Bank Banten) membutuhkan suntikan dana sebanyak Rp 2,8 triliun. Salah satu langkah untuk mengumpulkan dana tersebut, Pemprov Banten berencana melakukan divestasi atau menarik saham Bank Jabar Banten (BJB) senilai Rp 1,2 triliun. Hal tersebut terungkap dalam rapat paripurna DPRD Banten dengan agenda jawaban gubernur terhadap raperda tentang perubahan APBD 2018 di Sekretariat DPRD Banten, Kamis (13/9/2018).

Gubernur Banten, Wahidin Halim (WH) mengatakan, secara keseluruahan modal yang dibutuhkan Bank Banten sebanyak Rp 2,8 triliun. Modal ini akan memperkuat keberadaan Bank Banten ke depan. “Kita butuhkan Rp 2.8 triliun suntikan dana,” katanya.

Beberapa rencana yang kemungkinan akan dilakukan oleh Pemprov Banten untuk mengumpulkan dana tersebut, salah satunya melalui divestasi atau menjual saham di Pemprov Banten dan membangun kerja sama dengan BRI. “Divestasi Rp 1,2 triliun di Bank Jabar, sekarang saham kita 600.000 lembar,” ujarnya.

Untuk BRI, saat ini sudah melakukan observasi ke Bank Banten sebelum menyalurkan bantuan dana. Jika kerja sama tersebut terbangun, maka BRI akan mengalokasikan sekitar Rp 1,4 triliun. “BRI baru sekarang observasi tentang kondisi Bank Banten,” ucapnya.

Di luar dari upaya itu, Pemprov Banten juga sudah berupaya mempertahankan keberadaan Bank Banten dengan memberikan penyertaan modal sebesar Rp 175 miliar dalam perubahan APBD 2018. Penyertaan modal ini juga harus menunggu rekomendasi dari KPK. “Saya juga harus dengan penuh ke hati-hatian,” tuturnya.

Secara terpisah, Direktur Operasional Bank Banten, Kemal Idris mengatakan, penyertaan modal senilai Rp 175 miliar dibutuhkan Bank Banten. Karena Bank Banten memang masih dalam tahap pemulihan pascaakuisisi dari Bank Pundi. Penyertaan ini nantinya akan digunakan Bank Banten untuk melakukan ekpansi bisnis. “Jangan melihat Rp 175 (miliar) besar bisa gunakan macem-macem. Kita (gunakan) ekspansi yang sehat kemana,” katanya.

Ia menjelaskan, Bank Banten sudah memiliki rencana bisnis selama beberapa tahun ke depan. Rencana itu perlu ditopang dengan modal yang cukup. “Karena bagaimana laba bisa menghasilkan pendapatan, kalau kami enggak ekspansi. Untuk ekspansi tadi kami butuh modal,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Bank Banten sudah memiliki pendapatan yang tetap, yakni dari bunga pinjaman. Hitungan per delapan bulan kebelakang angkanya mencapai Rp 280 miliar. Namun, jumlah ini masih terhitung kotor karena belum dipotong biaya operasional. Hitungan normal Bank Banten masih mengalami rugi sekitar Rp 67 sampai Rp 70 miliar. “Proses akuisisi itu juga meninggalkan biaya, kita engga mulai dari nol, kita mulai dari negatife, pada saat akuisisi itu ruginya Rp 400 miliar,” ucapnya.

Disinggung terkait dorongan dari Fraksi Golkar DPRD Banten tentang perlu adanya audit ke Bank Banten oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), pihaknya tidak keberatan jika kemudian hari ada audit dari BPKP. Hal itu biasa dilakukan untuk bank milik pemerintah. “Kalau masalah BPKP itu kewenangan BPKP kalau mau turun silakan,” tuturnya. (SN)*


Sekilas Info

Suzuki Cilegon Tawarkan DP Murah All New Ertiga

CILEGON, (KB).- Dalam rangka memperingati Hari Pelanggan Nasional (HPN), PT Restu Mahkota Karya (RMK) cabang Cilegon …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *