Banjir: Fakta dan Dampaknya

Banjir adalah merupakan suatu keadaan sungai di mana aliran airnya tidak tertampung oleh palung sungai, karena debit banjir lebih besar dari kapasitas sungai beserta anak-anak sungainya yang ada. Masalah banjir pada umumnya terjadi akibat adanya interaksi berbagai faktor penyebab, baik yang bersifat alamiah maupun berbagai faktor lain yang merupakan akibat atau dampak kegiatan manusia. Seberapa besar peran dari masing-masing faktor penyebab, sangat sulit untuk dianalisis dan ditentukan.

Lingkungan dapat merupakan sumber daya maupun bahaya atau hazards. Kondisi lingkungan mengalami perubahan baik secara cepat maupun perlahan-lahan, oleh berbagai faktor penyebab, dan beragam dampaknya. Perubahan pada salah satu atau lebih dari komponen lingkungan akan memengaruhi komponen lainnya dari lingkungan tersebut dengan intensitas yang berbeda. Pertumbuhan penduduk di suatu daerah, misalnya akan berpengaruh positif maupun negatif terhadap komponen lingkungan dari daerah tersebut, seperti lahan, air, flora, dan fauna, serta berbagai hal lainnya.

Pertumbuhan penduduk memerlukan pangan, tempat tinggal, air bersih, dan masih banyak lagi yang dapat dipenuhi oleh lingkungan. Perubahan tata guna lahan akan berpengaruh pada komponen lain terutama sumber daya air dan tanah. Kondisi di Banten jika terjadi hujan cukup deras dengan durasi yang lama akibatnya akan terjadi di daerah perkotaan. Waktu hujan sudah cukup sering dan merata disetiap tempat akan menghasilkan air larian yang cukup besar. Dalam air larian tersebut membawa komponen sampah serta hasil erosi. Air akan mengendapkan di sepanjang alur sungai, drainase, dan solokan, sehingga terjadi pendakalan dari saluran air tersebut. Hujan berikutnya daya tampung saluran tersebut, sudah sangat berkurang. Proses berikutnya air akan meluap mengalirkan ke segala arah menjadi air banjir.

Penyebab banjir

Secara umum, penyebab terjadinya banjir dapat dikategorikan menjadi dua hal, yaitu karena sebab-sebab alami dan karena tindakan manusia. Penyebab banjir yang termasuk sebab alami, di antaranya: Pada musim penghujan curah hujan yang tinggi akan mengakibatkan banjir di sungai dan jika melebihi tebing sungai, maka akan timbul banjir atau genangan. Fisiografi atau geografi fisik sungai, seperti bentuk dan kemiringan daerah pengaliran sungai (DPS), kemiringan sungai, geometri hidrolik berupa bentuk penampang, seperti lebar, kedalaman, potongan memanjang, material dasar sungai, serta lokasi sungai.

Erosi dan sedimentasi di daerah pengaliran sungai berpengaruh terhadap kapasitas penampungan sungai, karena tanah yang tererosi pada daerah pengaliran sungai tersebut apabila terbawa air hujan ke sungai akan mengendap dan menyebabkan terjadinya sedimentasi. Sedimentasi akan mengurangi kapasitas sungai dan saat terjadi aliran yang melebihi kapasitas sungai dapat menyebabkan banjir.

Pengurangan kapasitas aliran banjir pada sungai disebabkan oleh pengendapan yang berasal dari erosi dasar sungai dan tebing sungai yang berlebihan, karena tidak adanya vegetasi penutup. Perubahan kondisi daerah pengaliran sungai, seperti penggundulan hutan, usaha pertanian yang kurang tepat, perluasan kota, dan perubahan tata guna lainnya dapat memperburuk masalah banjir, karena berkurangnya daerah resapan air dan sedimen yang terbawa ke sungai akan memperkecil kapasitas sungai yang mengakibatkan meningkatnya aliran banjir.
Perumahan kumuh yang terdapat di bantaran sungai merupakan penghambat aliran sungai. Pembuangan sampah di alur sungai dapat meninggikan muka air banjir, karena menghalangi aliran.

Pengendalian banjir

Pengendalian banjir merupakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan pekerjaan pengendalian banjir, eksploitasi, dan pemeliharaan yang pada dasarnya untuk mengendalikan banjir, pengaturan penggunaan daerah dataran banjir, dan mengurangi atau mencegah adanya bahaya/kerugian akibat banjir. Ada 4 strategi dasar untuk pengelolaan daerah banjir, meliputi modifikasi kerentanan dan kerugian banjir serta penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan.
Modifikasi banjir yang terjadi sebagai alat pengurangan dengan bantuan pengontrol, seperti waduk atau normalisasi sungai. Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknis mitigasi, seperti asuransi, penghindaran banjir (flood profing) pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya, seperti penghijauan.

Dampak banjir

Secara umum, dampak banjir dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Dampak langsung relatif lebih mudah diprediksi daripada dampak tidak langsung. Dampak yang dialami oleh daerah perkotaan di mana didominasi oleh permukiman penduduk juga berbeda dengan dampak yang dialami daerah perdesaan yang didominasi oleh areal pertanian. Banjir yang menerjang suatu kawasan dapat merusak dan menghanyutkan rumah, sehingga menimbulkan korban luka-luka maupun meninggal, seperti yang terjadi di Kabupaten Lebak yang menimpa 11 kecamatan yang diterjang banjir, (Kabar Banten, 26/3/2018).

Daerah yang terkena banjir, adalah Kecamatan Gunung Kencana, Cijaku, Cigemblong, Sobang, Cilograng, Banjarsari, Bojongmanik, Panggarangan, Carinten, serta Bayah. Banjir tersebut meluapnya Sungai Cisawarna dan Cimanyangray.
Banjir juga dapat melumpuhkan armada angkutan umum, seperti bus mikro dan truk atau membuat rute menjadi lebih jauh untuk bisa mencapai tujuan, karena menghindari titik genangan, seperti yang sering terjadi di jalur Pantura Jawa. Penduduk seringkali harus mengungsi sementara ke tempat yang lebih aman yang bebas banjir, juga banyak korban banjir, baik di rumah sendiri maupun di pengungsian, banyak yang terserang penyakit kulit, diare, pernapasan, dan lain sebagainya.

Banjir yang menggenangi lahan pertanian juga dapat menyebabkan puso atau gagal panen di beberapa daerah. Banjir juga merupakan bencana yang relatif paling banyak menimbulkan kerugian. Kerugian yang ditimbulkan oleh banjir, terutama kerugian tidak langsung, mungkin menempati urutan pertama atau kedua setelah gempa bumi atau tsunami, (BNPB, 2013). Bukan hanya dampak fisik yang diderita oleh masyarakat, tetapi juga kerugian nonfisik, seperti sekolah diliburkan, harga barang kebutuhan pokok meningkat, dan kadang- kadang sampai ada yang meninggal dunia.

Pengelolaan banjir

Mengingat banjir sudah terjadi secara rutin, makin meluas, kerugian makin besar, maka perlu segera dilakukan upaya-upaya untuk mencegah dan menanggulangi dampaknya, yang dapat dilakukan secara struktural maupun nonstruktural. Upaya secara struktural, antara lain berupa tindakan menormalisasi sungai, pembangunan waduk pengendali banjir, pengurangan debit puncak banjir, dan lain-lain. Upaya tersebut telah dilakukan di beberapa daerah. Selain beragam upaya tersebut, juga dilakukan early warning system atau peringatan dini, agar pihak yang terkait dapat melakukan antisipasi sejak dini, sehingga dapat meminimalisir dampaknya. Upaya agar setiap rumah membuat sumur resapan untuk menampung air hujan, sehingga dapat mengurangi banjir dan menambah cadangan air tanah.

Upaya nonstruktural merupakan upaya penyesuaian dan pengaturan kegiatan manusia, agar harmonis dan serasi dengan lingkungan, contoh upaya nonstrktural, adalah pengaturan maupun pengendalian penggunaan lahan atau tata ruang, penegakan peraturan/hukum, pengawasan penyuluhan kepada masyarakat.
Selain upaya tersebut, upaya pengendalian banjir dan dampaknya dapat dilakukan melalui 3 pendekatan utama, yaitu memindahkan penduduk yang biasa atau akan terkena banjir, memindahkan banjirnya, serta mengondisikan penduduk hidup bersama dengan banjir.

Dari 3 pendekatan tersebut yang sering dilakukan, adalah mengendalikan banjirnya dan membiasakan penduduk hidup bersama banjir. Berbagai upaya tersebut telah banyak dilakukan di berbagai daerah, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan, banjir masih terus terjadi dengan korban dan kerugian yang tidak sedikit. Penanganan banjir secara menyeluruh dan berkelanjutan menjadi tugas dan tanggung jawab semua pihak baik instansi teknis maupun lembaga lain yang terkait serta masyarakat. Kerja sama inter dan antarunit harus dilakukan, agar memperoleh hasil yang optimal. Melalui beragam upaya struktural dan nonstruktural yang terpadu serta berkelanjutan, maka kejadian banjir di masa mendatang dapat diperkecil baik kejadian maupun dampaknya.

Upaya pengendalian banjir melalui pengelolaan DAS selama ini dianggap belum berhasil dengan baik, antara lain karena kurangnya koordinasi atau keterpaduan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan pengelolaan DAS termasuk dalam hal pembiayaannya. Hal tersebut terutama disebabkan oleh banyaknya instansi yang terlibat dalam pengelolaan DAS. Masalah pengelolaan DAS semakin kompleks, karena tidak sedikit pemerintah daerah yang belum memahami konsep pengelolaan DAS yang berbasis ekosistem dan lintas batas administrasi. Sikap lebih mengutamakan aspek ekonomi, seperti pendapatan asli daerah (PAD) menyebabkan konsep pengelolaan DAS terpadu yang mementingkan pelestarian ekosistem menjadi terabaikan. (H Doddy Setia Graha/Pemerhati Lingkungan dan Masalah Kebumian)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here