Minggu, 22 Juli 2018
ANTREAN kendaraan mengular karena terjebak kemacetan di jalur wisata Lembang, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Senin, 25 Desember 2017. Pada liburan Natal dan jelang Tahun Baru ini ribuan wisatawan dari dalam dan luar kota menghabiskan waktunya berlibur di wilayah tersebut.*

Bandung Raya Macet, Wisatawan Kapok?

BANDUNG, (KB).- Jumlah kunjungan wisatawan saat musim liburan terbilang sangat meningkat terutama di wilayah Bandung Raya dan sekitarnya. Namun, hal tersebut tidak berbanding lurus dengan tingkat kepuasan wisatawan. Banyak wisatawan yang mengeluhkan kemacetan ketika berkunjung ke objek wisata di daerah Bandung utara dan selatan.

”Memang kemacetan jadi kendala utama banyaknya wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk berkunjung ke Bandung. Apalagi kalau turis mancanegara banyak yang kecewa. Banyak wisatawan kapok karena macet,” ujar Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Barat, Hilwan Saleh dalam wawancara yang disiarkan Radio PRFM, Senin 25 Desember 2017.

Hilwan menjelaskan, kemacetan memang menjadi faktor utama penyebab kian menurunnya tingkat kunjungan wisata di Jawa Barat. Bahkan, Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Barat sudah beberapa kali mengusulkan kepada pemerintah setempat untuk menyediakan jalur layak wisata. “Sudah disampaikan ke pihak tertentu kalau kemacetan ini kerap terjadi apalagi di musim liburan, makanya harus ada solusi. Dari dulu sudah dibahas, apakah dibuat jalan layang atau underpass di kawasan rawan kemacetan,” katanya.

Bandung Utara padat

Di kawasan Bandung Utara, sejumlah objek wisata di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, dipadati wisatawan dari berbagai daerah. Beberapa wahana wisata favorit seperti Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu, The Lodge Maribaya, Farm House Susu Lembang, dan sejumlah objek wisata lainnya menjadi sasaran utama ribuan wisatawan. “Liburan natal dan akhir tahun ini, peningkatan kunjungan mencapai 30-40 persen,” kata Kepala Pengelola Tiket Tangkubanparahu, Heri Hidayat, Senin 25 Desember 2017.

Menurut Heri, di objek wisata Tangkubanparahu, sejak memasuki libur panjang, kunjungan wisatawan lokal maupun luar daerah terus memadati objek wisata tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga bersaman anak-anak. Heri mengatakan, meskipun kondisi Tangkubanparahu penuh saat libur kali ini, tidak ada kenaikan tarif tiket masuk bagi para wisatawan. “Tidak ada kenaikan di hari libur panjang ini. Tiket masuk untuk wisatawan lokal masih sama seperti biasa, Rp 30.000,” katanya.

Sementara itu, Manajer Otbound Grafika Cikole Lembang Sapto Wahyudi menyebutkan, pada libur panjang kali ini, kunjungan wisawatan sangat tinggi. Bahkan untuk tingkat okupansi hotel pun mencapai 100 persen. “Dari awal bulan pun kenaikan mulai terasa dan cukup tinggi. Bahkan dari 57 kamar di Grafika Cikole, semua penuh,” katanya.

Rugi

Karena kawasan Lembang dipadati wisatawan, kemacetan panjang pun berimbas berimbas pada geliat ekonomi masyarakat. Mereka banyak mengeluh karena kerap merugi. “Keluhan itu ada terutama dari peternak sapi yang menjual hasil susu. Mereka banyak terjebak macet. Kalau hari biasa, perjalanan bisa 20 menit sekarang jadi 2 jam, ada kerugian,” tutur  Camat Lembang, Slamet Nugraha.

Meski demikian, Slamet menyatakan, tak selamanya kepadatan di Lembang merugikan. Menurutnya, roda perekonomian masyararkat ikut terangkat. Terlebih, masyarakat yang memiliki usaha mikro kecil dan menengah. “Lembang ini menjadi pesona wisata Kabupaten Bandung Barat, di kecamatan Lembang, setiap desa ada wisata. Dalam upaya kegiatan menyambut wisata, saya berkoordinasi dengan pengusaha UMKM agar ekonomi masyarakat ikut tergerak,” ujarnya.(PR)***

 


Sekilas Info

Eksotisme Pulau Sangiang

BAGI pecinta wisata bahari, Pulau Sangiang kiranya tidak boleh sampai terlewat untuk dikunjungi. Sebab, pulau …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *