Bandulu Surfing Club, Potensi dari Anyer ke Pentas Dunia

Olah raga surfing atau berselancar, adalah jenis olah raga yang tumbuh dan berkembang di Amerika sekitar 1960-an. Sebab, di sana, tepatnya di Hawai, banyak memiliki ombak pecah serta bertahap yang cocok untuk olah raga tersebut. Namun rupanya, surfing juga sudah dikenal di tanah Banten. Bahkan surfing juga digemari masyarakat Kabupaten Serang. Para pencinta olah raga penantang ombak tersebut, salah satunya tergabung dalam Bandulu Surfing Club (BSC) Kabupaten Serang. Perkumpulan yang akrab disapa BSC tersebut merupakan wadah bagi pencinta olah raga surfing dan layar angin di Kecamatan Anyer dan sekitarnya.

Bahkan, dari olah raga tersebut, telah banyak prestasi yang ditorehkan baik di kancah nasional maupun internasional. Salah satunya Amri, yang sejak beberapa tahun tergabung dalam klub tersebut dan telah banyak menorehkan prestasi.  Menurut dia, olah raga laut sudah menjadi hobinya dan teman-temannya semasa kecil. Lokasi lingkungan rumah dia yang berdekatan dengan pantai, tampaknya cukup memengaruhi tekadnya menjadi pecinta surfing. Ia dan teman-temannya memang sudah senang berenang di pantai sejak kecil.

Perjalanan karier dia di dunia olah raga selancar dimulai sejak 2005. Mulanya dia hanya mengikuti kompetensi daerah di dunia selancar. Unggul di daerah, mengantarkan dia menuju kejuaraan tingkat nasional di Pantai Ancol, Jakarta masih di tahun yang sama.  Kesuksesan yang diraihnya pada tingkat kejuaraan nasional tersebut semakin membuatnya percaya diri. Ia kembali mencari peruntungan dengan mengikuti kejuaraan selancar tingkat nasional di berbagai daerah pada tahun-tahun berikutnya. Bahkan, dia pernah mengikuti kejuaraan tingkat asia, yakni di Singapura, Malaysia, Jepang sampai Thailand.

Beruntung bagi dia, dari beberapa kejuaraan yang diikutinya, dia berhasil memboyong sejumlah piala dan medali. Ia bahkan eksis pada kejuaraan layar angin, seperti kejuaraan tingkat nasional di Riau pada 2009. Di sana, dia berhasil meraih juara satu mewakili Provinsi Banten.  Ia juga berhasil meraih juara di kompetensi nasional di Aceh pada 2010 dan juara dua pada kompetensi nasional di Indramayu pada 2016. Tak sampai di situ, dia juga pernah mengikuti kompetensi layar angin di kancah internasional. Meski mampu berbicara di kancah dunia, namun minim dukungan dari pemerintah daerah. “Kalau di mancanegara masuk sepuluh besar. Pernah juga juara tiga,” katanya.

Beberapa anggota BSC lainnya juga pernah menorehkan prestasi serupa, seperti halnya Ketua BSC, Aldi Suardi. Menurut dia, setiap event, dia sering mengirim 5 orang anggota minimal. Meski banyak prestasi yang diraih para atlet anggota BSC, dia merasa dukungan pemerintah daerah minim. Akibat minimnya dukungan, banyak event kejuaraan surfing yang terlewati, karena terkendala biaya akomodasi. “Kalau untuk event layar angin kami ada support, ada badan organisasinya di KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia), namanya Porlasi (Persatuan Olahraga Layar Seluruh Indonesia). Kalau surfing tersebut belum ada organisasinya,” ucapnya. (DH)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here