Bancakan dan Halaqah Ala Jemaah Masjid Nabawi

Senin (26/8/2019) sekitar pukul 17.30 Waktu Arab Saudi (WAS), suasana ruangan Masjid Nabawi masih ramai oleh jemaah. Usai melaksanakan Salat Ashar, jemaah banyak memilih tetap berada di masjid dengan zikir atau membaca Alquran sambil menunggu waktu Salat Magrib dan Isya.

Tiba-tiba beberapa orang dengan cekatan menghamparkan plastik berwarna putih dengan lebar sekitar 100 sentimeter yang memanjang sejajar shaf tempat salat. Para jemaah berjajar rapi menghadap hamparan plastik putih tersebut.

Dari pojok masjid sejumlah tumpukan makanan dan minuman sudah disiapkan dengan piring styrofoam dan gelas plastik. Ada kurma, air zamzam, roti gandum, dan qahwah atau kopi khas Timur Tengah.

Sekitar setengah jam sebelum azan Magrib, aneka makanan dan minuman tersebut sudah disajikan di atas hamparan plastik kepada jemaah. Bagi jemaah yang sedang tidak puasa sunah bisa langsung menyantapnya. Tetapi ada juga memilih menyantapnya bersama.

Saat azan Maghrib berkumandang salah seorang syekh membacakan doa kemudian seluruh jemaah secara serentak menyantap buah kurma, roti gandum, dan meminum air zamzam serta qahwa.

Tradisi menyediakan hidangan bancakan ini bukan hanya pada Senin dan Kamis saja, tetapi juga hari-hari biasa. Bedanya kalau hari biasa dihidangkan lebih awal tidak menunggu azan Magrib.

Kesempatan menikmati bacakan ala Masjid Nabawi tak disia-siakan jemaah haji Indonesia. “Meski roti gandung dan kopi khas Timur Tengah tak biasa di lidah, saya harus merasakannya. Ini pengalaman di Masjid Nabawi,” kata jemaah asal Banten Asep Sihabul Milah saat bersama jemaah Malaysia dan Pakistan menyantap hidangan yang disajikan.

Hal yang patut dicontoh yakni pengaturan hidangan yang rapi. Saat menyajikan dan bekas makanan dan minuman langsung digulung kembali dengan rapi tanpa tercecer sampah maupun sisa makanan.

Halaqah

Selain bancakan, hal lain yang menarik yakni di Masjid Nabawi, yakni pengajian setiap sore setelah Salat Asar dan Magrib ada banyak kelompok kecil (halaqah), yang dipimpin oleh seorang syekh sebagai muallim (guru). Adapun para pesertanya adalah para jemaah haji dari berbagai negara.

Kalau bakda Ashar pengajian disebut halaqatul zuwar atau tahsin bacaan Alquran sedangkan bakda Magrib berupa kajian. Halaqah zuwar beranggotan 5-10 orang sedangkan halaqah lebih banyak di atas 15 orang.

Untuk halaqah zuwar, para syekh itu mengajarkan bagaimana cara membaca Alquran yang benar. Biasanya setelah ditanyakan nama dan asal negara, peserta diajak membaca surat Al Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas, Al-Kafirun, Al-Lahab, dan Al-Kautsar.

Mula-mula syekh membacakan surat-surat tersebut, mulai dari Al-Fatihah. Satu per satu ayat dibaca. Kemudian peserta diminta menirukan. Setelah itu baru satu per satu peserta disuruh membaca. Setelah itu, setiap bacaan peserta yang kurang sempurna, baik makharijul huruf maupun tajwidnya mendapat koreksi dari syekh.

Selain halaqah orang dewasa, setiap habis Ashar hingga Maghrib, Masjid Nabawi juga diramaikan oleh halaqah anak-anak. Mereka adalah halaqah tahfidz (hafalan Alquran) bagi anak-anak orang Madinah. Yang juga menarik perhatian jemaah haji adalah adanya kajian-kajian dibimbing oleh para syekh senior. Semacam ceramah yang mengangkat tema tertentu.

Dengan menggunakan pengeras para syekh senior dengan jubah besarnya menyampaikan dengan duduk di kursi yang telah disediakan. Sementara jemaah yang mengikutinya duduk melingkar dengan rapi.

Dengan berbagai pengajian tersebut, jemaah haji Indonesia betah di masjid untuk melaksanakan ibadah sunah arbain atau salat fardlu berjamaah 40 waktu tanpa terputus. Ya sembari menunggu waktu salat juga mendapatkan ilmu. (Maksuni Husen)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here