Sabtu, 23 Februari 2019

Balita Korban Penganiayaan Ibu Kandung Dimakamkan

TANGERANG, (KB).- Prosesi pemakaman Quina Latisa Ramadani atau Quin, bayi berusia 1,5 tahun yang tewas dianiaya ibu kandungnya diselimuti isak tangis keluarga. Balita tak berdosa tersebut, dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Gebang, Kelurahan Sangiang Jaya, Kecamatan Jatiuwung, Kota Tangerang, Senin (21/1/2019).

Pantauan di lokasi, jenazah Quin dimakamkan oleh keluarga angkat dan dikawal oleh unsur Polsek Jatiuwung, ayah tiri korban Wage (50), kerabat korban beserta warga Kecamatan Periuk sekitar pukul 15.00 WIB. Prosesi pemakaman tersebut, diwarnai jerit tangisan keluarga asuh korban. Mereka tak kuasa menahan kesedihan yang meluap.

Mengetahui anak tirinya tewas dengan cara yang tak wajar, karena dianiaya, Mulyadi yang merupakan orangtua asuh korban tersebut, seringkali terjatuh. Ia yang merawat korban secara sukarela selama setahun lebih harus dipapah oleh warga dan keluarganya, agar dapat berjalan meninggalkan pemakaman sambil tertatih.

“Ya Allah, astaghfirullah nak,” kata Mulyadi berkali-kali sambil terisak-isak menatap Quina tertumpuk tanah. Tak hanya Mulyadi, anak kandungnya, yakni Roslina (tante korban) tampak pingsan setelah beberapa saat meninggalkan liang lahat Quina.

Tante angkat korban tersebut juga harus dibopong oleh beberapa pria untuk dapat keluar dari pemakaman, karena tak sadarkan diri setelah menangis histeris. Sebelumnya, Quin dilaporkan tewas secara tidak wajar setelah di tubuhnya ditemukan sejumlah luka lebam. Polsek Jatiuwung yang melakukan penyelidikan akhirnya menetapkan ibu kandung korban, Rosita (28) bin Kimib sebagai tersangka.

Ibu muda tersebut telah mengakui perbuatannya kepada polisi. Aksi penganiayaan dilakukan di rumah kontrakannya di Kampung Gebang, Kelurahan Sangiang, Kecamatan Periok, Kota Tangerang, beberapa waktu lalu.
Perbuatan Rosita akhirnya terkuak setelah pemilik kontrakan curiga dengan kondisi kesehatan balita malang. Ketika itu Quin tergolek lemas di atas kasur dengan penuh luka lebam di wajah, punggung, serta ketiak.

Rosita tega menganiaya darah dagingnya sendiri, karena sakit hati dengan ayah korban yang meninggalkannya sejak melahirkan Quin. Bahkan, Rosita sempat menitipkan Quin ke kerabatnya, sebab terhimpit persoalan ekonomi.
Setelah kembali menikah dengan Wage, suami ketiganya, Rosita kemudian membawa Quina untuk tinggal bersamanya. Ditambah perekonomian keluarga membaik setelah berdagang di rumah kontrakannya.

Namun, rupanya rasa sakit hati terhadap ayah korban ternyata belum hilang. Rosita sering tersulut emosi ketika melihat Quin, karena terbayang mantan suaminya. Akibatnya bogem mentah Rosita sering mendarat ke tubuh bocah malang tersebut.

Terancam 20 tahun penjara

Bahkan, hingga kini polisi masih terus mendalami motif dan pelaku penganiayaan yang menyebabkan Quina Latisa Ramadani atau Quin meninggal dunia. Dari pemeriksaan yang telah dilakukan, menurut Kapolsek Jatiuwung Kompol Eliantoro, baru ibu kandung korban, yaitu Rosita sebagai terduga pelaku penganiayaan yang menyebabkan meninggalnya Quin. “Ada beberapa luka memar akibat pukulan benda tumpul terutama di bagian kepala korban,” ujarnya.

Dalam pemeriksaan terhadap terduga pelaku tersebut, juga pihak kepolisian melibatkan psikolog untuk memastikan kesehatan jiwa perempuan yang sehari-hari berjualan pempek dan sudah menikah 3 kali tersebut. “Kami libatkan psikolog dan P2TP2A dari Pemkot Tangerang dalam pemeriksaan terduga pelaku,” ucapnya.

Sementara, polisi juga telah mempersiapkan pasal dalam UU Nomor 35 Tahun 2014 Perubahan Pengganti UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. (DA)*


Sekilas Info

Lajur Kiri Khusus Roda Dua, Sepanjang Jalan Daan Mogot Dilarang Parkir

TANGERANG, (KB).- Satlantas Polres Metro Tangerang Kota menggalakkan rencana pemberlakuan lajur kiri khusus sepeda motor …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *