‘Balang’ Jumrah: Hilangkan Sifat Keburukan

Sejumlah jemaah haji saat melakukan lempar jumrah.*

Oleh : Maksuni Husen

Rangkaian wajib haji berupa lempar jumrah (jamarat), pada 10 Zulhijah (jumrah aqabah) dan pada 11,12 dan 13 untuk ‘ula, wusta, aqabah, telah diselesaikan para jemaah haji seluruh dunia. Dalam melempar jamarat, para tamu Allah (dhuyufurrahman) harus terlebih dahulu melakukan mabit atau tinggal sementara di kawasan Mina.

Bagi yang mengambil nafar (pemberangkatan) awal harus meninggalkan Mina sebelum Magrib pada menjelang 13 Zulhijah. Sedangkan bagi yang nafar tsani harus menetap setelah Magrib 13 Zulhijah untuk kemudian melempar jumrah pada terakhir hari Tasrik.

Lontar (balang) jamarat (ula, wusta, aqabah). Rangkaian ibadah lontar jamarat yakni jemaah haji melempar 7 butir kerikil batu yang diambil saat mabit di Mudzalifah. Sebanyak 7 butir kerikil batu tersebut dilontar pada setiap tugu jamarat sehingga total setiap kali lempar jamarat sebanyak 21 butir kerikil batu.

Lontar jamarat lebih banyak membutuhkan kekuatan fisik. Untuk menuju titik jamarat, bagi jemaah Banten, harus menempuh perjalanan sekitar 4 kilometer pulang pergi. Tak heran jika jemaah yang memiliki kelemajan fisik lebih banyak dibadalkan (digantikan) oleh yang lain, karena lontar jumrah merupakan salah satu wajib haji.

Memaknai ritual lontar jamarat, tentu membutuhkan keyakinan yang bersumber dari hati, bukan hanya akal semata. Lontar jumrah bersifat ibadah simbolik. Oleh karena itu, pesan simbolik harus disingkap dengan kekuatan keyakinan bahwa itu merupakan ikhtiar perjalaban suci dari rangkaian ibadah haji. Jika menggunakan akal semata, maka akan muncul pandangan sebagai ritual yang sia-sia; Melontar batu kerikil, seperti kegiatan main-main belaka.

Imam Al Ghazali dalam kitab “Asrarul Hajj” menjelaskan melintar jumrah adalah urusan ta’abbudi (murni ibadah) yang akal dan jiwa tidak mampu menangkap manfaat dan pesan dibaliknya, seperti kebanyakan amalan-amalan manasik yang lain. “Ta’abbudi yakni manusia diperintahkan mengamalkan sesuai zahirnya, biar pun hakikatnya tidak seperti zahirnya,” demikian tulis Al Ghazali.

Syahrudin El Fikri dalam buku “Sejarah Ibadah” menggambarkan kisah melempar jumrah terjadi sekitar 4.000 tahun yang lalu, tepatnya pada 1870 SM, ketika Nabi Ibrahim AS bermaksud menyembelih putranya Nabi Ismail AS. Ketika Ibrahim bermaksud menyembelih Ismail untuk melaksanakan perintah Allah SWT, tiba-tiba datang lah setan menghampiri. Setan bermaksud menggoda Ibrahim agar menghentikan niatnya untuk menyembelih Ismail. Namun dengan penuh keyakinan, dan ketakwaan terhadap Allah SWT, Ibrahim tetap melaksanakan perintah itu.

Ibrahim tahu kalau tujuan setan atau iblis pada hakikatnya untuk mengajaknya melanggar perintah Allah. Karena itu, Ibrahim kemudian mengambil tujuh batu kerikil dan melemparnya ke setan. Inilah yang disebut Jumrah Ula.

Tak berhasil mempengaruhi Ibrahim, setan lalu membujuk Siti Hajar, istri Ibrahim. Setan mempengaruhi Siti Hajar jika sebagai seorang ibu pasti tak akan sampai hati mengetahui buah hatinya dikorbankan. Tapi Siti Hajar menolak dan melempari setan dengan batu kerikil. Lokasi pelemparan Hajar itu kemudian dijadikan tempat melempar Jumrah Wustha.

Ibrahim, Hajar, dan Ismail lalu bersama-sama melontari setan dengan batu kerikil yang kemudian diabadikan menjadi lontaran Jumrah Aqabah. Allah SWT pun memuji upaya Nabi Ibrahim AS dan keluarga karena dianggap berhasil dalam menghadapi ujian Allah SWT.

Itulah peristiwa yang menjadi pelajaran bagi umat manusia. Pelontaran batu kerikil itu kemudian menjadi kewajiban bagi setiap jemaah haji dari seluruh penjuru dunia sebagai bentuk keteladanan atas kemuliaan dan ketakwaan Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan keluarganya tetap relevan sepanjang zaman. Dalam konteks kehidupan, manusia selalu dibayangi bisikan, rayuan dan ajakan setan. Oleh karena makna simbolik dari lempar jumrah adalah berarti juga kita harus memiliki kekuatan dan tekad kuat untuk mengusirnya.

Manusia diciptakan memiliki nafsu yang jika tidak dikendalikan secara akan tersesat dalam kesesatan. Setan, selalu membisikkan manusia sifat-sifat keburukan. Baik saat beribadah kepada Allah maupun hubungan dengan sesama manusia dan alam.

Dalam menjalankan ibadah, manusia digoda dengan sifat riya, syirik, tidak ikhlas dan godaan lainnya. Sedangkan dalam hubungan dengan sesama manusia, setan membisikkan agar mendahulukan sifat sombong, angkuh, tamak, hasud, iri, dengki, fitnah, tamak, serakah, koruptif dan sebagainya.

Setan akan menggoda manusia dari semua celah yang menjadi kelemahan manusia, harta, tahta dan wanita. Kedudukan, jabatan dan kesenangan dunia adalah penggoda yang mudag manusia tergelincir pada kesesatan.

Sifat-sifat keburukan kalau tidak dibersihkan maka akan penyakit hati. Momentum melaksanakan haji sejatinya perjalanan suci manusia untuk bertaubat, meminta pengampunan kepada Allah SWT dan memuji kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Keharusan mabit di Mina sebelum melempar jumrah dimaknai dalam melakukan perlawanan terhadap setan atau sifat keburukan, butuh pondasi keimanan yang kuat. Mabit, sejatinya, mengutip KH Ahmad Narjih, jemaah haji Provinsi Banten, mengharuskan manusia membentengi keimanan secara istiqamah dan berharap keridlaan Allah SWT.

Mencari keridlaan Allah itu banyak pintunya. Silakan, kata Narjih, selama mabit itu perbanyak zikir, amal saleh agar kita bisa meraih keridlaan Allah. Kita juga bisa menghilangkan sifat-sifat keburukan dan memperbanyak sifat kebaikan. Oleh karena itu jangan sia-siakan waktu selama mabit di Mina dengan ibadah dan amal saleh. Komitmen melawan godaan setan akan diuji pasca lempar jamarat hingga nanti pulang ke Tanah Air.

“Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, kutukan bagi segala setan dan ridla bagi Allah Yang Maha Pengasih. Ya Allah Tuhanku, jadikanlah ibadah haji kami ini haji yang mabrur dan sa’i yang diterima.” Allahu a’lam bisshawab. Mina, 13 Zulhijah 1440 H (Penulis, Pemimpin Redaksi Kabar Banten, Petugas Haji Daerah Banten 2019)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here