Bakor Banten On Air Perdana di FM102,8

H. Khatib Mansur.*

H. Khatib Mansur

Ajakan ngopi akhir-akhir ini lebih akrab disampaikan hampir oleh setiap orang, baik dari kalangan elite politisi, akademisi, birokrat, pengusaha, mahasiswa hingga masyarakat pada umumnya, bahkan di gubuk-gubuk petani dengan pemandangan nyiur melambai sungguh mengasyikkan atau di berbagai tempat lainnya.

Ngopi tak lagi harus morning! Tanpa batas waktu, suka-suka. Ngopi mampu mengakrabkan siapa pun, kapan pun, dan di manapun. Sampai-sampai pada Senin (27/1/2020) kemarin, Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten (Bakor Banten) juga on air atau siaran langsung di Radio 102.8 FM Serang, dalam diskusi publik yang di-setting dalam “Obrolan Kopi Sore Pak Pemred” bertema: Patriotisme dan Romantisme.

Forum tersebut menghadirkan empat orang narasumber, yakni Sekjen Bakor Banten H.M. Aly Yahya, Rektor Untirta Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, ST., MT, Kepala Kesbangpol Banten Ade Ariyanto, dan anggota Komisi I DPRD Banten Jazuli Abdillah dengan moderator H. Maksuni Husen (Pemred H.U. Kabar Banten).

Kehadiran Sekjen Bakor Banten H.M. Aly Yahya sebagai narasumber di antara tiga narasumber lainnya tersebut, menjadi pusat perhatian peserta yang hadir, karena ini adalah edisi perdana bagi Bakor Banten, sehingga banyak masyarakat ingin dengar lebih luas lagi, apa maksud dan tujuan dibentuknya Bakor Banten selain sebagai mitra strategis Pemprov Banten sejak dideklarasikan di Aula Gubernur Banten, Rabu (15/1/2020).

Kehadiran Bakor Banten tersebut disambut baik oleh masyarakat secara luas, karena Bakor Banten ruang lingkupnya tidak hanya Banten, tetapi nasional. Ketua Panitia Deklarasi Bakor Banten H. Aeng Haeruddin mengapresiasi kepada semua pihak atas dukungan, karena tidak hanya dihadiri Gubernur Banten Wahidin Halim, tokoh nasional yang juga selaku Ketua Dewan Kehormatan Bakor Banten Akbar Tandjung, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Banten, Kepala Instansi Vertikal, pemuda, mahasiswa, aktivis perempuan, dan undangan lainnya dari berbagai komponen.

Gerak cepat

Pada segmen “Obrolan Kopi Sore Pak Pemred” tersebut, disaksikan ribuan masyarakat Indonesia, melalui tayangan langsung (on air), termasuk viral melalui medsos, WhatsApp dan YouTube, karena dalam obrolan sore tersebut, mampu menyemai kembali nilai-nilai luhur kecintaan tokoh-tokoh rakyat Banten, agar keberhasilan mewujudkan perjuangan Provinsi Banten (nilai patriotisme) tersebut – khususnya perjuangan selama 1999-2000 – yang tergabung dalam wadah perjuangan sentral di Bakor Banten tidak disia-siakan, tetapi harus mampu mewujudkan kesejahteraan rakyat Banten.

Dalam “Obrolan Ngopi Sore” tersebut, tidak hanya dihadiri Ketua Harian Bakor Banten H. Aeng Haerudin, Ketua Divisi Humas Bakor Banten H. Khatib Mansur, dan Pengurus Bakor Banten lainnya, ada juga peserta dari Pemprov Banten, Pemda Kota Serang, mahasiswa, dan masyarakat sekitar turut mendengarkan paparan dan strategi pembangunan Provinsi Banten dari keempat narasumber tersebut.

Dampak positif dari pembentukan Bakor Banten sebagai mitra strategis Pemprov Banten, program kerja Pemprov Banten di era kepemimpinan Gubernur Wahidin Halim dan Wagub Andika Hazrumy gerak cepat, bahkan tambah semangat, karena Pemprov Banten sedang menggolkan BUMD Agrobisnis Pertanian, mengupayakan produk hasil pertanian dan perkebunan memiliki pasar yang luas dan berkualitas dengan dukungan destinasi wisata yang lebih baik lagi.

Salah satu keberhasilan kepemimpinan WH-Andika, adalah mampu merevitalisasi kawasan Situs Kesultanan Banten bercorak Madinah, sehingga sasana baru di kawasan Banten Lama tersebut mengesankan para wisatawan rohani yang datang dari berbagai daerah jauh lebih nyaman dan happy lahir batin. Selain itu, kawasan pesisir Selat Sunda, dengan batas sempadan pantai 100 meter dari titik tertinggi air laut idealnya tidak boleh ada bangunan apapun.

Program terbaru Gubernur WH dan Wagub Andika, adalah akan segera mewujudkan Ibu Kota Provinsi Banten menjadi Kota Metropolitan. Hasil ekspos pada Kamis (30/1/2020) lalu, kajian Tim ITB, mendukung Ibu Kota Provinsi Banten di Kota Serang menjadi Kota Metpropolitan yang terintegrasi dengan pelabuhan bersejarah di Karangantu, poros segi tiga kawasan Palima yang menghubungkan ke destinasi wisata Anyer, Carita, hingga ke Sawarna, dan lainnya.

Sekjen Bakor Banten H.M. Aly Yahya menjelaskan, terbentuknya Provinsi Banten bagian dari nilai patriotisme sekaligus romantisme masa lalu, karena Banten dikenal dunia internasional sejak zaman Kesultanan (1552-1570).

“Bila suasana kebatinan mengisi pembangunan Provinsi Banten di era kepemimpinan Gubernur WH dan Wagub Andika sejurus dengan cita-cita luhur rakyat Banten, tentu harus didukung. Sebaliknya, bila program kerja gubernur dan wagub tidak pro-rakyat, Bakor Banten harus mengkritisi dan memberi solusi,” ucapnya.

Menurut dia, Bakor Banten secara umum memiliki tugas pokok, antara lain menjadi mitra strategis dan kontrol sosial dalam mewujudkan cita-cita luhur pembentukan Provinsi Banten. Membangun sinergitas dan kemitraan dengan berbagai pihak dalam memajukan serta mengoptimalkan manfaat sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat Banten.

Aly mengutip buku Jacques Dumarcay, “Return to Banten” pada sub judul “The Sultanate of Banten” menyatakan: The spirit of Banten is not dead, it is still found in moslems schools where so many famous ulamas taught and where this Islamic tradition, with which the Banten civilization is strongly imbued lives on (Semangat juang rakyat Banten tidak pernah mati, karena mendasarkan pada arahan ulama terkenal yang mengajar di sekolah dan pesantren, semangat juang ini terus digelorakan oleh pendekar Banten). Dalam buku tersebut, terpatri nilai partriotisme dan romantisme Banten.

Kepala Kesbangpol Banten Ade Ariyanto menyambut baik diskusi sore tersebut. Ia mendapat pesan dari Gubernur Banten WH untuk mewakilinya berharap, kehadiran Bakor Banten dalam kegiatan pembangunan Provinsi Banten harus lebih bersinergi. Selama ini hubungan sinergitas kelembagaan internal Pemprov Banten dengan komponen masyarakat Banten cukup baik.

Gubernur Banten Wahidin Halim sejak awal kepemimpinannya bersama Wagub Andika, ujar dia, cukup terbuka. “Pak WH dan pak Andika memimpin Provinsi Banten tidak cukup hanya dengan kekuasaan semata sebagai kepala daerah, tapi beliau memimpin Banten ini dengan hati yang ikhlas, bahkan beliau sudah mewakafkan diri untuk Banten. Beliau siap dikritik bila ada kebijakan yang tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita perjuangan rakyat Banten,” tuturnya.

Menurut dia, program pendidikan, kesehatan, dan pembangunan infrastruktur jalan menjadi prioritas untuk mendorong masyarakat Banten menuju hidup lebih sejahtera. Khusus masalah pengangguran dan ketenagakerjaan, Pemprov Banten sudah membentuk tim pengawasan, agar tidak terjadi lagi adanya percaloan tenaga kerja, yang menurut informasi di lapangan masih ada oknum aparat desa yang bermain. Jika ini terbukti oknum pelakunya, tentu akan ditindak tegas.

Berbeda dengan Rektor Untirta Prof. Dr. H. Fatah Sulaiman, ST., MT, yang turut hadir menjadi narasumber sore itu. Rektor kelahiran Kebaharan, Serang tersebut terkesan dengan tema partriotisme yang diusung dalam diskusi sore itu, karena memiliki chemistry saat dia pergi ke Inggris dan diterima oleh Dubes Indonesia Marti Natalegawa.

“Saat tiba di Inggris disambut Dubes Marti Natalegawa. Pak Marti tanya, pak Fatah asli dari mana? Begitu beliau mendengar nama Banten, saya diperlihatkan foto Duta Besar Banten untuk Inggris, Kiai Ngabehi Nayawipraya dan Kiai Ngabehi Jayasedana pada 1682. Ternyata Banten jauh lebih dikenal di Inggris, karena di zaman Kesultanan pernah menjalin hubungan diplomatik dengan Pemerintah Inggris. Ini yang membuat saya bangga dan hadir di forum diskusi ini,” katanya.

Kehadiran Kampus Untirta, menurut dia, adalah membuka akses seluas-luasnya bagi pendidikan tinggi masyarakat Banten. Dulu, sebelum Provinsi Banten untuk mencapai pendidikan tinggi, rakyat Banten harus ke Yogyakarta, Bandung atau Jakarta. Provinsi Banten di era “duet maut” WH-Andika nilainya semakin mengangkat karisma Banten. Ini yang harus dijaga,” ujarnya.

Ketua Komisi I DPRD Banten Jazuli Abdillah menyatakan, kehadiran Bakor Banten tersebut, dapat diartikan memulangkan kembali tokoh-tokoh rakyat Banten, karena di era digital saat ini harus menjadi energi baru untuk perbaikan ke depan. Saya menganalogikan seperti teori anatomi. Contoh, seperti ekor cicak yang terputus, tetapi masih hidup. Artinya, mari kita diskusikan yang substantif dalam memajukan Provinsi Banten ini.

“Di sinilah diperlukan sinergitas. Kehadiran Bakor Banten, saya kira sudah saatnya, karena Pemprov Banten saat ini perlu kerja cepat, jangan terlambat lagi, saling mendukung dan tentu posisi kami sebagai DPRD Banten ada pada aspek regulasi, legislasi, dan budgeting. Rakyat Banten perlu diberikan ruang yang luas untuk mengontrol pemerintahan ini, sehingga pada akhirnya ada titik temu menuju cita-cita bersama,” ucapnya.

Paradoks

Dalam sesi dialog, seakan masih ada masyarakat Banten yang belum puas, sehingga mereka seakan ingin mengetahui lebih jauh terhadap eksistensi organisasi baru ini. Bakor Banten, Quo Vadis? Dari apa yang dipaparkan oleh keempat narasumber tersebut. Ada yang menilai paradoks, karena dalam segmen “Obrolan Kopi Sore Bersama Pak Pemred” itu idealnya dilakukan oleh Pemprov Banten, namun justru digerakkan oleh Bakor Banten. Ini artinya, semangat transparansi Pemprov Banten masih belum terbuka.

Nilai partiotisme selama ini seakan hanya indah didengar dan disampaikan dalam forum-forum dialog, seminar, dan lainnya, karena implementasi di lapangan kadang mengecewakan rakyat Banten. Dalam perjalanan pembangunan selama dua dasawarsa ini, antara semangat patriotisme dan romantisme nyaris hilang dari hati-nurani sebagian tokoh-tokoh rakyat Banten dan Pemprov Banten, karena ada yang terputus dalam membangun komunikasi dan koordinasi. Ini yang harus dikoreksi.

Seorang mahasiswa dari Serikat Gerakan Mahasiswa Indonesia (SGMI) Provinsi Banten Arif Riswansa dalam kesempatan tersebut, menyoroti masalah pendidikan, kesehatan, dan pengangguran yang masih belum tuntas di Provinsi Banten ini, karena masih banyak gedung sekolah yang kurang layak, baik gedung SD, SMP, dan SMA yang berdampak buruk dalam kegiatan belajar mengajar.

Masalah pelayanan dan fasilitas kesehatan juga masih prihatin! “Bila kita berkaca pada Konvensi Jenewa, korban perang saja wajib dirawat dan menjadi tanggung jawab negara untuk memulihkan mereka,” katanya.

“Pasien yang sedang menderita kanker payudara sulit sekali masuk RSUD Pandeglang, persyaratan administrasi bikin pusing keluarga pasien. Pabaliyut! Selain itu, falisitas ambulans di RSUD Serang pernah jadi kasus pungli saat musibah tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018). Ini memalukan,” tuturnya.

Ia mempertanyakan tingkat pengangguran yang cukup tinggi di Banten ini. Hal tersebut, diduga masih ada oknum-oknum calo tenaga kerja yang “menyelundupkan” tenaga kerja di kawasan industri, sehingga bagi rakyat yang kurang mampu tersisih dalam memperoleh kesempatan kerja. Sumber lain menambahkan, keberadaan SMK di Banten tidak ditunjang dengan fasilitas laboratorium, sehingga lulusannya tidak linier diterima kawasan industri.

Demikian juga, mahasiswi Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syariah UIN SMH Banten Marya mempertanyakan seberapa besar peran Bakor Banten dalam mengisi pembangunan di Provinsi Banten ini? Jangan sampai Bakor Banten ini, justru menghambat aspirasi masyarakat Banten. Tentu ini yang tidak kami harapkan.

Di internal Bakor Banten sudah mulai ada diskusi kecil, dimulai tentang pertanian dan UMKM, Kamis (31/1/2020) dihadiri Ketua Umum Bakor Banten H. Irsjad Djuwaeli, agar nilai patriotisme dan romantisme seperti dua sisi mata uang, tak terpisahkan! Karena, nilai manfaat bagi rakyat itulah pada akhirnya akan mengangkat derajat Provinsi Banten. (Penulis, Ketua Divisi Humas Bakor Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here