Bagaimana Sensor Alarm?

Oleh : Nasuha Abu Bakar, MA

Untuk keamanan dan keselamatan kendaraan beroda empat terutama ketika berada di area parkir selain dikunci setirnya, biasanya setiap kendaraan selalu dipasang alarem. Dengan harapan tidak mudah dicongkel tangan tangan jahat atau orang orang yang bermaksud membawa kabur kendaraan.

Setiap mobil atau kendaraan yang beroda empat tidak sama jenis dan model sensitif dan ukuran sensor alarmnya. Ada yang baru dipegang bodynya langsung sensor alarmnya bekerja sehingga seketika alaremnya bunyi. Ada yang lebih sensitif lagi, hanya ada seekor tikus lewat saja sensor alarmnya terlalu sensitif, sehingga tanpa disentuh pun bodynya alarmnya sudah berbunyi.

Tetapi ada juga kendaraan yang tidak dipasang alarm, atau dipasang alarm tetapi rusak sehingga sensornya tidak bekerja dan tidak berfungsi. Maka dengan mudah kendaraan seperti ini akan disatroni tangan tangan penjahat. Kalau rusak alarmnya, jangan kan seekor tikus lewat, dijebol maling pintu mobilnya pun, bahkan sampai dibawa oleh para pelaku kejahatan pun, pemilik nya tidak mendengar dan tidak mengetahuinya. Itulah kerugian finansial yang akan dialami oleh pemilik kendaraan.

Bulan Ramadhan ibaratnya bulan sebagai tempat service alarm kita ummat beriman. Diharapkan sensor iman di dalam qolbu kita terhadap hal hal yang buruk memiliki ketajaman dan kepekaan. Apabila sersor iman kuat, maka bilamana ketinggalan amalan amalan sunnah pun bathinnya akan merasa rugi.

Sebaliknya ketika sensor iman itu lemah, maka hilanglah perasaan rugi. Bahkan celakanya apabila sensor imannya rusak, maka bukan saja sekedar amalan yang sunnah seperti taraweh pada saat bulan suci ramadhan, tadarrus mengulang ulang membaca alqur’an, meninggalkan ibadah wajib pun tidak ada perasaan bersalah apalagi berdosa. Ini pertanda sensor imannya sudah rusak.

Di siang hari di bulan suci ramadhan orang lain berusaha untuk menahan diri tidak makan, tidak minum walaupun lapar dan dahaga karena sedang berpuasa, eh… umpamanya kita berani makan dan minum di siang hari di bulan suci ramadhan tanpa adanya udzur syara’ yang dapat ditoleransi, ini pertanda sensor iman kita rusak. Wal ‘iyaadzu min syuruuri anfusinaa wa min sayyiaati ‘amaalina..

Pertanda bahwa sensor iman kita rusak, menggunjing sahabat, menyakiti sesama, mengambil milik orang lain, merusak sarana dan pasilitas umum, tidak ada perasaan bersalah dan berdosa.

Orang orang shaleh sensor imannya luar biasa tajam, kuat sekali rasa jiwanya, seperti Khalifah Umar bin Khattab ketika menyaksikan di antara warga dan masyarakat nya yang kelaparan karena ketidak tahuannya, beliau bergegas mengambil sekarung gandum dan dipikul di atas bahunya dan diserahkan kepada wanita dan dua anaknya yang sedang merebus batu karena tidak ada yang dimasaknya.

Beliau merasa takut kepada Allah karena kelak akan dipertanyakan atas pertanggungan jawabnya. Dikisahkan juga bahwa beliau pernah membentur benturkan kepalanya karena mendengar berita ada seekor unta terpeleset ketika berjalan di atas jalan di masa beliau sebagai khalifah. Perasaan bersalahnya kepada seekor unta membuatnya marah kepada dirinya.

Subhaanallah… Itulah perbedaan antara yang kuat sensor alarm imannya dengan yang rusak. Ada yang lebih berbahaya yang tidak menggunakan sensor alarm imannya, maka jangan kan dosa kecil dosa besarpun tidak merasa bersalah. Wallaahu ‘alamu bish shawaab wa ilaihil musta’aan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here