Badan Narkotika Bidik ASN

CILEGON, (KB).- Badan Nasional Anti Narkotika (BNN) Kota Cilegon membidik aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Cilegon yang disinyalir menggunakan narkoba. Hal tersebut terungkap dalam rapat koordinasi di salah satu rumah makan Kota Cilegon, Rabu (20/11/2019). Rakor tersebut dihadiri sejumlah perwakilan dari puluhan organisasi perangkat daerah (OPD) di Pemkot Cilegon.

”Kami akan membidik para ASN yang kedapatan menggunakan zat terlarang tersebut. Kenapa demikian, karena ASN adalah salah satu ‘publik figur’ yang harus dicontoh masyarakat,” kata Kepala BNNK Kota Cilegon AKBP Asep Mukhsin Jaelani.

Ia menuturkan, jumlah penyalahguna narkoba kategori coba pakai saja telah menyentuh angka 1,6 juta orang. Menurut dia, kelompok inilah yang bisa menjadi objek kementerian atau lembaga untuk melakukan upaya peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika (P4GN), agar mereka tidak kembali gunakan narkoba.

“Semua bisa terkena narkoba, instansi, masyarakat umum, dan lainnya. Untuk seluruh ASN Pemkot Cilegon tidak menutup kemungkinan ada yang menggunakan narkoba. Maka dari itu, kami akan tindak lanjut sesuai Instruksi Presiden untuk mengamankan ASN yang kedapatan mengonsumsi narkoba,” ujarnya.

Pihaknya mempersilakan kepada seluruh OPD, agar melaksanakan kegiatan tes urine yang pembiayaannya dilakukan oleh OPD yang bersangkutan. Mengingat keterbatasan anggaran BNNK selama ini.

“Ini juga demi menjaga nama baik OPD yang bersangkutan sesuai dengan Inpres Nomor 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika (P4GN) Tahun 2019 di Tingkat Pemerintahan Kota,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BNN Provinsi Banten Brigjen Pol Tantan Sulistyana menuturkan, secara kuantitas barang bukti yang diamankan ada peningkatan dari 2017 dan 2018. Meski demikian, untuk para tersangka yang diamankan dan juga kasus yang ditangani mengalami penurunan.

Menurut dia, Provinsi Banten merupakan wilayah yang sangat strategis, di mana banyak sekali tempat transit baik melalui bandar udara, pelabuhan maupun terminal.

“Banten ini cukup strategis, menghubungkan antara Pulau Jawa dan Sumatera, juga Selat Sunda yang menghubungkan dengan negara Australia mengandung kerawanan pergerakan lalu lintas barang dan jasa sejenis narkoba,” katanya.

Selain itu, Banten bukan saja wilayah lintas maupun edar narkoba, karena berdasarkan kasus-kasus yang terjadi sudah menjadi tempat transit dan produksi. Salah satu contohnya, ada pabrik PCC di Lebak, kemudian ada produksi ekstasi di Tangerang.

“Di Banten sendiri, wilayah Tangerang Raya yang meliputi Kota Tangerang, Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang masih tertinggi dengan peredaran narkoba. Di daerah tersebut, terdapat jumlah kasus sebanyak 929 kasus dan bisa dipastikan 2-3 kasus per hari yang terjadi di Banten,” ujarnya. (HS)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here