Minggu, 21 Oktober 2018

Badak Ujung Kulon Ditemukan Mati

PANDEGLANG, (KB).- Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) merilis resmi kematian badak jawa dewasa bernama Samson (ID: 037.2012) di wilayah Konservasi Taman Nasional Ujung Kulon. Badak tersebut pertama kali ditemukan petugas BTNUK di Pantai Karang Ranjang, Resort Karang Ranjang, SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum, Senin (23/4/2018).

”Badak yang mati itu kami temukan di pantai dan bangkainya dalam kondisi masih utuh, bercula satu dan lengkap,” kata Kepala Balai TNUK, Mamat Rahmat dalam rilisnya, Kamis (26/4/2018). Ia menjelaskan, setelah mengidentifikasi bangkai badak dan pencocokan dengan database, ternyata badak tersebut dengan ciri bekas robekan di telinga sebelah kiri dan diketahui badak yang mati bernama Samson.

”Diketahui badak yang mati tersebut bernama Samson, dengan perkiraan umur lebih dari 30 tahun,” ucap Mamat. Menurut dia, BTNUK bekerja sama dengan tim dokter hewan Patologi IPB dan WWF Ujung Kulon untuk mendokumentasikan dan penyelamatan cula serta bangkai agar tidak terbawa arus. “Selasa kemarin kita kerja sama dengan dokter hewan IPB dan WWF untuk penyelamatan bangkai agar tidak terbawa arus laut. Selain itu, kita sudah autopsi bangkai badaknya,” tuturnya.

Sementara itu, hasil autopsi menyatakan tidak ditemukan indikasi perburuan, karena tidak ditemukan luka pada tubuh Samson. ”Pada pemeriksaan awal tidak ditemukan adanya luka akibat perburuan. Selanjutnya tim gabungan melakukan nekropsi dan pengambilan sampel seperti usus, otot jantung dan hati untuk mengetahui penyebab kematian. Berdasarkan laporan sementara, hasil nekropsi terhadap bangkai badak jawa, diperkirakan kematian kurang lebih tiga hari. Tidak ditemukan tanda-tanda adanya penyakit infeksi dengan pathogen yang bersifat akut,” ucapnya.

Sementara itu Direktur Jenderal Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno mengatakan, selain adanya kematian Samson, pada Februari 2018 diketahui terdapat dua kelahiran anak badak jawa dengan induk bernama Puri (ID :013.2011) yang diberi ID : 073.2018. Anak badak itu ditemukan di Blok Rorah Bogo, dan dari induk yang bernama Dewi (ID : 004.2011) diberi ID : 074.2018 yang ditemukan di Blok Cikeusik, SPTN Wilayah II Pulau Handeuleum, TN Ujung Kulon. Kedua anak badak jawa tersebut belum diberi nama.

“Saat ini, populasi dan habitat alami satu-satunya badak jawa hanya terdapat di TNUK yang berlokasi di ujung paling Barat Pulau Jawa. TNUK berada di wilayah administratif Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Hasil monitoring populasi badak jawa tahun 2017, jumlah minimum badak jawa sebanyak 67 individu. Dengan kematian badak jawa Samson dan kelahiran 2 ekor anak badak jawa di TNUK. Maka angka minimum populasi badak jawa di TNUK berubah menjadi 68 individu,” kata Wiratno. (IF)*


Sekilas Info

Pimpinan Pesantren dan Santri harus “Melek Media”

PANDEGLANG, (KB).- Pimpinan pondok pesantren dan para santri harus “melek media” agar tidak menjadi korban hoaks …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *