Azyumardi Azra: Intelektual Publik PTKIN Indonesia (Bagian II-Habis)

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Fauzul Iman

Dari pemikiran dan gagasan moderasi Islam yang ia konvergensikan dari berbagai ahli dan gagasan dari dirinya. Ditambah dengan realitas dunia Islam yang makin terpuruk, maka dalam setiap kesempatan pertemuan ilmiah AA sangat gigih menyuarakan (speak out) tentang perlu diimplementasikannya Moderasi Islam ini tidak hanya dalam pesan tetapi di setiap lapangan kehidupan.

Dalam kesempatan narasumber di Kementerian Agama pada acara FGD Perubahan Bentuk ke UIN, AA makin mempertegas pentingnya membangun Islam Wasatiyah. Menurutnya, dalam kontek Islam Wasatiyah, berdirinya UIN mutlak dibutuhkan guna menyebarkan Islam Wasatiyah dan menyegat Islam impor/Islam trans nasional yang tidak entitas dengan ajaran Islam dan Keindonesiaan.

Di era disrupsi 4.O ini, lanjut AA, sebagaimana juga dikemukakan dalam bukunya Membebaskan Pendidikan Islam, paradigma lama dalam manajemen Perguruan Tinggi Islam dan kurikulum harus ditinggalkan dan sebagai gantinya memperkuat integrasi Ilmu Keislaman dan sains.

Dengan kata lain, UIN sebagai anak bangsa perlu melakukan tafaqquh fi al din dan juga tafaqquh fi at thib atau tafaquh fi al kimiya. Tidak fokus pada ilmu ilmu agama. Ketekunan mempelajari ilmu kedokteran atau ilmu kimia sehingga ada distribusi progresif bagi para penuntut ilmu dalam aneka bidang yang dibutuhkan.

Sebagai intelektual Muslim yang berpikir komprehensif dan sangat gigih menyuarakan moderasi Islam, AA makin terkukuhkan dirinya di mata publik sebagai intelektual muslim moderat pencerah yang menurut terminologi Nurcholish Madjid, muslim berwawasan keindonesiaan dan keislaman. Itu sebabnya AA sering diundang menjadi pembicara di luar negeri dengan topik intelektual publik, aliansi peradaban dan Demokrasi.

Di Universitas Manila Mei 2019, AA menjadi pembahas dengan tema Intelektual Publik di Asia. Pembicara kuncinya adalah Benedict ROG Anderson, guru besar emeritus Universitas Cornel. Ia berpandangan bahwa intelektual publik di Asia mengalami kemerosotan karena profesionalisasi universitas yang menyediakan gaji rendah dan kesejahteraan dosen yang membuat mengasong dan tidak memiliki karya monumental.

Pandangan Anderson ini, ditangkal AA seperti diungkapkan dalam bukunya Fenomena Beragama dari Dunia Arab hingga Asia Pasifik, pendapat Anderson itu tidak selalu benar. Jangankan di masa reformasi ini, di era Soeharto yang pemerintahannya sangat otoriter masih dijumpai di negara Indonesai (Asia) suara intelektual publik yang menyampaikan pandangan kritisnya terhadap ketidakadilan dan ketidakterbukaan pemerintah.

Seperti antara lain Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid/Gusdur dan Amin Rais. Persoalannya kemudian menjadi langka kembali saat para intelektual publik itu berminat terjun ke politik praktis menjadi atau mencalonkan diri menjadi presiden.

Dari pemikiran baik yang dituangkan dalam karya-karyanya maupun kontribusinya sebagai pencerah/narasumber dalam dan luar negri. Menunjukkan bahwa AA merupakan intelektual muslim populer yang berkontribusi luas di berbagai kalangan umat manusia.

Pemikiran dan karyanya yang mencakup di aneka bidang keilmuan baik pendidikan, sejarah, sosial keagamaan, politik dan peradaban membuat AA sering diminta menjadi pembicara utama dibanyak komunitas dan kelembagaan kalangan muslim dan non muslim hingga di tengah komunitas lintas kultur. Di dalam negeri dan di luar negeri.

Intelektual pencerah

Kesediaan AA sebagai intelektual pencerah sangat sejalan dengan pemikiran rasionalnya sebagai intelektual yang harus memiliki peran dan tanggung jawabnya di tengah masyarakat. Dalam kontek ini, ia kemukakan sendiri dalam bukunya Esei-esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, bahwa tanggung jawab intelektual muslim adalah mengenali dan dikenal masyarakat sehingga ia tidak menanti pesanan tapi ia didatangi masyarakatnya sebagai rujukan pemikiran dan amalnya.

Pandangan yag tidak jauh berbeda, diungkapkan Noam Chomsky dalam bukunya The Responbility of Intelektual, seorang yang memiliki keistimewaan pengetahuan harus tampil bersuara tentang keadilan, kebebasan, kemanusiaan dan perdamaian. Seorang intelektual tidak hanya mengungkap kebohongan penguasa tapi juga tentang kejahatan dan cara menghentikannya.

Poin yang diungkapkan Chomsky itu sudah banyak dilakukan AA bukan karena pemikirannya yang tertuang dalam buku-bukunya menyuarakan perdamaian, keadilan, keterbukaan demokrasi, moderasi, harmoni dan perdamaian antara agama. Tetapi juga sebagai intelektual publik, ia telah tegas menyuarakannya di berbagai kesempatan pertemuan ilmiah di dalam dan luar negeri.

Bahkan kritik yang diutarakan dengan lugas terhadap pemerintah baru-baru ini tentang penanganan aparat keamanan yang represif. Perppu KPK yang tidak konsisten mengikuti kesepakatan para tokoh. Para menteri yang kurang firm mengendalikan tugasnya mengatasi persoalan dan penempatan posisi staf khusus presiden dari generasi milenial yang belum jelas bidang keahlian dan cara kerjanya.

Berkat kiprah pengabdian dan kontribusinya yang amat luas itulah, AA telah banyak mendapatkan penghargaan prestisius baik penghargaan dari dalam maupun dari luar negri. Dari dalam negeri ia mendapat penghargaan Bakri Rizal Award, Sarwono Award dari LIPI, Disertasi terbaik dari Kemendikbud, Gelar Mahaputra dari Persiden RI.

Adapun penghargaan dari luar negeri AA memperoleh penghargaan dua kali dari Kerajaan Inggris. Satu kali terakhir merupakan penghargaan tertinggi dan mulia yaitu Gelar CBE ( Commander of the Order of British Empire) dari Ratu Elizabeth.

Dari sisi luasnya kontribusi keilmuan, jasa-jasanya serta penghargaan terbesar yang diberikan, hemat penulis, AA dari sisi ilmiah dan jangkauan pengabdiannya layak ditempatkan sebagai intelektual publik yang sangat memberikan pengaruh besar dan mewarnai bagi UIN jakarta pada khususnya dan PTKIN di Indonesia pada umumnya. Apalagi gelar berskala internasionl semacam ini belum pernah diterima tokoh lain baik dari kalangan PTKIN sendiri maupun intelektual dari perguruan tinggi lain.

Oleh karena itu, ke depan diperlukan tumbuh intelektual publik seperti AA dari generasi baru PTKIN bahkan mungkin akan lahir lebih hebat lagi. Sejatinya yang mengiringi AA adalah masih banyak para intelektual yang setaraf keilmuannya akan menyusul bertumbuhan meraih penghargaan yang sama prestisiusnya.

Akhirnya kami ucapkan selamat ulang tahun yang ke-65. Moga AA tetap sehat, panjang umur dan berkah serta bahagia bersama keluarga sehingga akan tetap produktif melahirkan gagasan-gagasan besarnya. Aamiin. (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here