Azyumardi Azra: Intelektual Publik PTKIN Indonesia (Bagian I)

Fauzul Iman, Rektor UIN SMH Banten.*

Fauzul Iman

PTKIN adalah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri yang tersebar di hampir seluruh penjuru Indonesia. Berjumlah 58 terdiri dari 17 UIN ( Universitas Islam Negeri), 34 IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan 7 STAIN (Sekolah Tinggi Islam Negeri). Para alumninya tersebar di berbagai lapangan sosial keagamaan maupun lintas keagamaan. Di antaranya menjadi ulama/ pimpinan pesantren, pengusaha, politisi, gubernur/bupati, rektor, dosen/guru, peneliti dan pemikir/ilmuan.

PTKIN sudah banyak melahirkan ilmuan/pemikir Islam baik tingkat lokal, nasional maupun internasionl. Di tahun 70-an kita mengenal pemikir Islam kaliber kelahiran PTKIN antara lain Nurcholish Madjid, Alwi Shihab. Di tahun-tahun 90-an muncul Azyumardi Azra, Komarudin Hidayat, Amin Abdullah, Din Syamsuddin, Nasaruddin Umar dan pemikir muslimat Musda Mulia. Bahkan terdapat pemikir kelahiran PTKIN yang lintas bidang (intelectual cros) seperti Fachri Ali, Saeful Muzani dan Burhanuddin Muhtadi.

Masih banyak tentunya pemikir Islam fenomenal kelahiran PTKIN yang perlu disebut dan dikaji pemikirannya. Namun untuk kajian ini penulis secara spesifik ingin mengulas satu sisi sosok pemikir Islam Prof. Dr. Azyumardi Azra CBE yang terkenal paling produktif karya pemikirannya dan baru saja mengadakan ulang tahunnya yang ke-65. Dua kali mengadakan peluncuran buku dihadiri tokoh-tokoh penting nasional lintas agama dan kultur. Bahkan peluncuran terakhir dihadiri Wapres Makruf Amin dan Mantan Wapres Yusuf Kala.

Azyumardi Azra (selanjutnya disebut AA) lahir 14 Maret 1955 di Lubuk Alung Sumatera Barat. Pendidikan pertamanya ditempuh di IAIN Syahid Jakarta. Melanjutkan S2 dan S3 di Universitas Columbia, New York AS tahun 1990 dan 1992. Selain pernah menjadi Rektor UIN Syahid dua periode, AA aktif sebagai Dewan Penyantun di universitas-universitas sekelas internasional. Ia juga intelektual pertama yang menjadi dosen tamu di Universitas Melbourne, Australia. Kegiatan yang terkait dengan global peace, interfaith sedunia dan lain-lain telah diikutinya dengan inten.

Bakat menulisnya sudah terlihat sejak menjadi mahasiswa di IAIN Syahid Jakarta. Ia aktif menulis di harian terkemuka seperti harian Pelita, Merdeka, Kompas, Prisma dan Panjimas. Di Panjimas AA bukan hanya wartawan melainkan aktif sebagai redaktur, penulis artikel dan penulis editorial. Tulisan editorialnya yang paling kritis, tajam dan lengkap data adalah saat mengungkap kasus korupsi di Bapindo yang melibatkan Panglima Soedomo.

AA juga aktif di organisasi kemahasiswaan sebagai Ketua Umum HMI dari tahun 1980 sampai dengan tahun 1982. Sebagai aktivis tulen AA tidak liar dalam berorganisasi. Sekalipun sehari- harinya menginap di kantor HMI, komitmen belajarnya tetap tinggi. Haus mencari ilmu. Tekun belajar dan menulis. Mengayomi dan membimbing mahasiswa bawahannya. Tidak sedikit mahasiswa termasuk saya yang saat itu menjadi Ketua Umum HMI Cabang Serang selalu meminta bimbingan bagaimana menjadi penulis terbaik. Skripsi yang saya tulis pun rumusan out line-nya hasil bimbingan dari AA.

Dalam usia yang relatif muda setelah meraih doktor dan gelar profesor, AA dipercaya menjadi Rektor IAIN Syahid Jakarta. ( sekarang UIN Syahid). Di masa-masa pengabdian akademiknya yang panjang, usai merampungkan disertasi seriusnya yang berjudul The Transformation of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indinesa Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries, ia melanjutkan gagasan-gagasan produktifnya dalam buku terbarunya yang ditulis kurang lebih berjumlah 36 buku. Buku-buku itu memuat hampir semua aspek bidang keilmuan sosial pendidikan, agama, sejarah peradaban, politik dan kebudayaan.

Dari 36 buku itu, alhamdulillah saya telah mendapatkan semuanya pada saat buku itu diluncurkan di tahap yang berbeda. Baru- baru ini di peluncuran yang kedua saya mendapatkan 8 buku karya AA yang dikirim langsung oleh Mas Idris Toha selaku editor buku tersebut. Kebetulan saya termasuk salah seorang yang diundang oleh AA untuk menghadiri acara peluncurannya.

Oleh karena itu, bertolak dari gagasan dan pemikiran AA yang tertuang dalam karya monumentalnya, melalui artikel sederhana ini saya ingin mengulas bagaimana pemikiran sosial keagamaan AA sehingga secara ilmiah layak ditempatkan sebagai intelektual publik yang berkontribusi besar langsung maupun tidak langsung dalam ikut mewarnai perguruan tinggi di Lingkungan PTKIN se-Indonesia.

Dalam penelitian disertasinya yang paling serius tentang Jaringan Ulama Tumur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, AA telah berhasil memperlihatkan temuan adanya jaringan kuat antara ulama Timur Tengah dengan ulama Nusantara. Menurut AA, melalui Ulama Melayu yang bermukim di Al-Haramain yaitu antara lain Abdul Somad al- Palimbani, Muhammad Arsyad Al- Banjari dan Dawud Al- Fatani. Jaringan itu terjadi bukan saja dari sisi sifat dan karakter melainkan juga dari sisi membentuk pemikiran tasawuf yang bercorak mistikasi spikulatif ke arah pemikiran neo tasawwuf.

Neo Tasawuf

Neo tasawwuf ini merupakan corak tasawuf yang dinamis dari sikap masabodoh (statis) kepada kehidupan duniawi menjadi peduli. Tepatnya, menurut AA adalah transformasi dari tasawuf spekulatif ke corak pemikiran syariah. Transformasi ini berupaya mengubah pemikiran ulama nusantara abad XVII dan abad XVIII yang dahulunya statis menjadi aktif melakukan gerakan pembaruan sosial. Salah satunya adalah melenyapkan ketimpangan soaial dan gerakan melawan penjajahan Belanda yang telah menghancurkan tatanan kemanusiaan.

Namun sejauh penelitian yang dilakukan diakui AA bahwa penyebaran pembaruan Islam di Nusantara sepanjang abad XVII dan XVIII tidak berarti tradisi kecil di belahan dunia Islam sepenuhnya sejalan dengan tradisi besar. Segala bentuk keyakinan dan praktik yang tidak islami masih mencengkram di segmen tertentu umat Islam. Keadaan ini, lalu AA merekomendasikan pemikiran perlunya upaya terus menerus melakukan pembauran perilaku dan pemikiran umat Islam di Nusantara kelak.

Rekomendasi yang dirumuskan AA dari temuan penelitian yang runtut dan lengkap dengan data turats Islam ini, terbukti bahwa di era modern masih terdapat ulama Nusantara yang lahir dari tradisi kecil yang cara berpikirnya rigid dan radikal. Dibanding ulama yang lahir dari tradisi besar yang cara berpikirnya komprehensif, kontektual dan moderat. Adalah sangat logis bila AA dalam setiap season ilmiah menganjurkan perlunya pencerahan tema moderasi Islam ditumbuhkembangkan di Indonesia.

Tidak hanya di dalam negeri, temuan disertasinya itu menjadi berkah tersendiri bagi AA karena banyak diundang di hampir seluruh mancanegara. Ia tidak hanya menjadi pembicara penting tentang moderasi Islam dan demokrasi di negara-negara Asia seperti Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, Dubai, Doha, Qatar, Jepang dan bahkan Cina tapi juga di negara-negara barat yang terbilang tersohor seperti Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Belanda, New Zieland Slandia Baru Watiangi dan lain-lain. Di dalam negeri sendiri AA merupakan intelektual PTKIN terlaris menjadi pencerah/narasumber baik di media- media televisi, di perguruan tinggi, instansi kementerian maupun di lembaga lembaga korporasi yang membutuhkan pencerahannya.

Dalam karya terbarunya Moderasi Islam di Indonesia, AA menjadi nara sumber dialog antar agama dan negara di Selandia Baru. Dialog Third Asia Pacific Interfaith ini menyiratkan gagasan perlunya antaragama-agama membangun perdamaian, menjauhi konflik dan tegaknya sikap moderasi agama-agama di dunia. Di kesempatan dialog amat prestisius itu, AA menyatakan demi kondusifnya hubungan antara agama dalam arti tidak tumbuh saling curiga yang menjurus konflik perlunya negara memfasilitasi perangkat sosial hubungan antar agama lebih harmonis dan sehat.

Islam wasatiyah

Untuk agama Islam sendiri tentang moderasi sudah sangat settle dalam ajarannya sendiri. Seperti terungkap secara tegas terminologi wasatiyah dalam Alquran. Dengan mengutip Kamali dalam bukunya The Middle Path of Moderation in Islam: The Quranic Principle of Wasatiyah, seorang Guru Besar Universitas PBB di Singapura, AA menyetujui makna washatiyah adalah jalan tengah ( The middle path) artinya tidak ke kiri dan ke kanan. Makna seperti ini merupakan jawaban pada sebagian umat Islam yang resistensi tentang istilah Islam moderat. Karena menurut mereka, Islam yah tetap Islam. Tidak ada istilah Islam Moderat, Islam Radikal dan atau Islam Progresif.

Dalam kontek pemikiran Kamali tentang Islam jalan tengah, terlihat ada perpaduan dengan pemikiran AA dalam upaya memperkenalkan moderasi Islam sebagai indentitas Islam yang sangat signifikan dalam konstelasi pergaulan internasional. Dengan moderasi Islam tidak berarti memperjinak diri di depan kaum Islam pobi dan agamawan sentimental. Sebaliknya tidak menjadi muslim radikal yang tanpa kekuatan melawan kekerasan global karena sikap ini akan membawa deretan kehancuran dunia Islam yang makin panjang melampaui kehancuran seperti yang terjadi di Siria, Yaman, Irak dan lain-lain. (Penulis, Rektor UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here