Ayo Terbang Lembaga Zakat

Efi Syarifudin.*

Oleh : Efi Syarifudin

Bantuan jika tidak tepat metode dan sasaran, malah mengabadikan kemiskinan dan merusak kemandirian. Karena itu, Islam melembagakan amil zakat dalam At-Taubah ayat 60. Bukan karena santunan tidak boleh dilakukan perorangan, tapi adanya peran kelembagaan menjadikan santunan menjadi jauh lebih tepat guna dan sasaran.

Ada banyak perubahan positif terjadi dalam sejarah zakat di Indonesia. Berjalannya waktu telah membuktikan, bahwa ajaran agama bisa menjadi solusi dari permasalahan ekonomi. Karena ekonomi tanpa nilai hanya menciptakan kesenjangan dan ketimpangan. Kesadaran masyarakat berderma, merupakan cara redistribusi aset yang bersifat partisipatif. Stimulasi dan insentif keagamaan membuat penderma memiliki makna dari kekayaannya. Apalagi jika implikasinya terlihat nyata dan bisa dirasa.

Kita bersyukur bahwa bangsa Indonesia punya prestasi dalam hal berderma. Berdasarkan World Giving Index yang dirilis oleh Charities Aid Foundation (CAF) per Oktober 2018, dari 144 negara yang disurvei, Indonesia merupakan negara paling tinggi di posisi pertama dalam hal memberikan sumbangan, mendonasikan uang, dan menjadi sukarelawan. Posisi ini jauh lebih baik dari tahun 2017, dimana Indonesia sudah menyalip Myanmar yang di tahun tersebut berada di posisi pertama.

Penerimaan dan penyaluran dana zakat dari tahun ke tahun terlihat meningkat. Dari sisi penyaluran, setidaknya dari tahun 2016 hingga tahun 2018 dana zakat meningkat lebih dari 30% setiap tahunnya. Walaupun masih jauh dari potensi zakat yang diperkirakan lebih dari Rp 200 triliun, sehingga rasio penerimaan dengan potensi yang ada masih di kisaran 5%. Tren positif ini diperkirakan tetap positif di akhir tahun 2019 saat ini.

Peningkatan ini terjadi bisa disebabkan adanya kepercayaan dan kemudahan akses masyarakat terhadap lembaga zakat Indonesia yang semakin besar jumlahnya. Berdasarkan data statistik zakat tahun 2017 terdapat 603 organisasi pengelola zakat (OPZ) di Indonesia dengan jumlah Baznas sebanyak 603 dan 55 lembaga amil zakat.

Kemudahan akses juga semakin terasa dengan adanya perluasan sistem pembayaran zakat dan kemudahan memonitoring perkembangan distribusinya melalui berbagai media seiring perkembangan media dan teknologi informasi saat ini.

Sebaran OPZ yang tinggi sangat dibutuhkan mengingat luasnya Indonesia, ragam budaya dan perbedaan problem sosial yang dihadapi di setiap wilayah. Terpenting dari itu semua adalah terdapat sinergi antar lembaga, ekosistem zakat yang integratif dan adanya pengawasan publik.

Arus baru Lembaga Zakat Indonesia

Derma menjadi sangat primitif jika hanya dilaksanakan hanya untuk santunan langsung atau karikatif. Inovasi program perlu terus diciptakan agar zakat, infak dan wakaf memiliki kemaslahatan. Karena faktanya orang miskin tak selalu perlu “ikan” untuk dimakan. Mereka dalam kondisi yang lain justru lebih membutuhkan “kail” untuk dipekerjaan.

Pada awalnya lembaga zakat Indonesia hanya menghimpun dan zakat. Seiring waktu, donasi terbesar yang terhimpun di masyarakat lebih banyak dana infak. Artinya, kesadaran masyarakat berdonasi telah melampaui kewajiban berzakat. Di sisi lain, dana infak dapat dipergunakan lebih kreatif dan produktif. Sementara dana wakaf lebih memiliki daya dorong yang substain berjangka panjang, ragam pendayagunaan dana sosial Islam oleh OPZ saat ini cukup inovatif.

Salah satu transformasi OPZ saat ini adalah perluasan fungsinya sebagai institusi pengelola dana sosial umat (social fund management). Tidak semata pada himpun-salur dana sosial, OPZ juga dituntut mengembangkan dana sosial secara investatif dan produktif. Tantangan amil sebagai social fund manager adalah mengembangkan manfaat dana yang diamanahkan kepada OPZ untuk bisa bermanfaat lebih dari sekadar memberi dan menyalurkan.

Di bidang kesehatan, OPZ telah melakukan layanan dari mulai membangun kesadaran hidup sehat dengan program sanitasi dan jamban di pelosok, hingga mendirikan beberapa rumah sakit gratis bagi orang miskin. Di bidang ekonomi berbagai program telah dilakukan, membuat lembaga keuangan mikro berbasis zakat, membuat sentra peternakan, hingga membuat pabrik pengolahan untuk meningkatkan daya tawar.

Di bidang pendidikan, layanan kursus gratis hingga sekolah bahkan universitas telah didirikan. Selain yang disebtukan, lebih banyak lagi model inovasi yang telah dilakukan OPZ. Ini adalah bukti bahwa berderma melalui lembaga zakat adalah lebih utama.

Tranformasi lembaga zakat lainnya adalah pada sisi teknologi. Tren industri 4.0 dan tren masyarakat 5.0, mau tidak mau mengubah kultur dan model layanan zakat. Penghimpunan dana zakat lebih fleksibel dengan adanya perkembangan financial technology dan crowd funding. Perubahan ini memaksa OPZ untuk berintegrasi pada sistem pembayaran digital dan aktif berkampanye melalui media. Ini pastinya juga mengubah struktur manajemen dan SDM lembaga zakat yang pro-millennial dan pro-digital.

Transformasi juga terjadi pada perluasan kerja kemanusiaan yang dikampanyekan lembaga zakat kepada masyarakat. Isu internasional juga tidak bisa diabaikan. Justru keterlibatan lembaga zakat pada isu global memperkuat positioning kelembagaan. Kita bisa melihat peran besar lembaga zakat Indonesia pada penanganan konflik dan bencana beberapa tahun terakhir, tidak hanya di dalam negeri tapi juga di negara lainnya.

Kerja lembaga zakat juga merupakan bagian dari isu Sustainable Development Goals yang dicanangkan PBB pada akhir 2015. Sebagian dari 17 tujuan dengan 165 target SDGs tersebut telah dan merupakan bagian dari kerja lembaga zakat. Keterlibatan dan integrasi kerja lembaga zakat dengan isu global, memberikan daya tawar, menjadi diplomasi sosial dan kontribusi umat Islam kepada dunia. Jika SDGs memiliki jargon “no one left behind”, maka Islam sebagai “rahmatan lil’alamin” adalah melampaui sisi kemanusiaan SDGs, yaitu kebermanfaatan bagi kelestarian ekosistem di dunia.

Akhirnya, sejarah transformasi kelembagaan zakat di Indonesia tidak lepas dari figur Habibie yang mendukung kelahiran Dompet Dhuafa dan mensyahkah UU Zakat. Sehingga tidak hanya pesawat R20 Pak Habibie yang kita tunggu mengangkasa. Kita juga ingin melihat lembaga zakat terbang menebar rahmat ke seluruh penjuru dunia. FOZ. (Penulis adalah Pengurus Pro-poor dan Philanthropy Studies – FEBI UIN Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here