Awasi Spekulan Lahan SUTT

LEBAK, (KB).- Aparat penegak hukum diharapkan turun tangan untuk menertibkan oknum spekulan pembebasan lahan jalur transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV Malingping-Saketi Baru. Sebab, kehadiran oknum spekulan dinilai meresahkan masyarakat.

“Rencana PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Interkoneksi Sumatera Jawa (PLN UIP ISJ) membangun infrastruktur ketenagalistrikan di Banten. Namun, di lapangan diduga banyak dimanfaatkan oknum spekulan khususnya pada tahapan pemberian kompensasi Right of Way (ROW),” kata tokoh aktivis Lebak Selatan, Kosasih kepada Kabar Banten, Senin (18/2/2019).

Ia mengatakan, memang tidak semua desa yang dilintasi jalur SUTT menjadi sasaran para spekulan. Seperti di Desa Cisampih Kecamatan Banjarsari misalnya, warga penerima kompensasi ROW tidak ribut, karena tidak ada spekulan yang bermain di sana. Namun, di luar desa itu terdapat persoalan adanya keresahan masyarakat atas tindakan oknum spekulan.

“Jadi spekulan ini bergerak, namun menghilangkan jejak. Kami harap aparat hukum bisa menindaklanjuti persoalan ini demi kenyamanan dan keamanan masyarakat penerima kompensasi lahan SUTT,” ujarnya.

Hal hampir senada dikatakan warga lainnya, Teguh. Menurut dia, jika spekulan itu memperoleh keuntungan dari kompensasi SUTT dengan membodohi atau membohongi masyarakat. Maka, sama saja dengan perbuatan melawan hukum.

”Maka dari itu, saya sepakat aparat penegak hukum agar turun tangan. Jika terjadi perbuatan melawan hukum, ya tentunya harus ditindak,” tuturnya.

Sementara itu Kades Cisampih Rembang mengatakan, proses pemberian kompensasi atas lahan dan tanaman di desa yang dipimpinnya saat ini berjalan relatif lancar. ”Ya benar, di Desa Cisampih juga ada sejumlah warga penerima kompensasi jalur SUTT. Alhamdulillah untuk di desa kami (Cisampih) tidak ada spekulan yang bermain,” katanya.

Seperti diberitakan, sejumlah warga penerima kompensasi lahan jalur transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV Malingping-Saketi Baru, merasa resah. Keresahan itu dipicu ulah oknum yang meminta pembagian kompensasi kepada pemilik lahan.

Kepala Desa (Kades) Cibatur Keusik, Suarja mengakui, warga penerima kompensasi lahan SUTT kini dilanda keresahan atas ulah oknum spekulan yang meminta pembagian kompensasi kepada pemilik lahan. Ironisnya, kompensasi yang diminta lebih besar kepada spekulan, yaitu sebesar 65 persen.

“Sudah beberapa kali mediasi, tetapi belum juga ada kesepakatan,” ujar Kepala Desa (Kades) Cibatur Keusik, Suarja kepada Kabar Banten, Ahad (17/2/2019).

Hal hampir senada dikatakan Pjs Camat Banjarsari, Sardi. Ia mengatakan, pihak spekulan dan pengacara warga pernah melakukan pertemuan membahas kesepakatan nilai kompensasi 65 – 35 tersebut di kantor Kecamatan Banjarsari. Namun, ia enggan memberikan komentar lebih rinci mengenai kehadiran spekulan yang saat ini mewarnai pembagian kompensasi jalur SUTT. (DH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here