Audiensi Buruh dan PT KS ‘Deadlock’

CILEGON, (KB).- Pemkot Cilegon memediasi buruh outsourching dan PT Krakatau Steel (KS), terkait agenda restrukturisasi tenaga kerja PT KS, di Ruang Rapat Wali Kota Cilegon, Senin (1/7/2019). Namun, pertemuan tersebut tak berbuah keputusan atau deadlock, sehingga tidak ada kesepakatan yang bisa diambil dari kedua belah pihak.

Wakil Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Baja Cilegon (FSPBC) Saefullah Madjid mengaku kecewa dengan pertemuan tersebut. Mengingat PT KS tidak menghadirkan Direktur Utama (Dirut) PT KS Silmy Karim, selaku pemegang kebijakan perusahaan. “Pihak yang didatangkan kok bukan dari jajaran direksi, selaku pihak yang mengeluarkan kebijakan,” katanya usai mediasi.

Saat itu, PT KS hanya menghadirkan Manajer Security and General Affair Edji Djamhari dan jajarannya. Menurut Saefullah, hal tersebut membuat mediasi berujung deadlock. “Kami mohon maaf kepada semua pihak, jika pada akhirnya Kota Cilegon kembali tidak kondusif. Kami terpaksa harus melawan, karena pada pertemuan ini pun kami sudah dizalimi,” ujarnya.

Namun begitu, pihaknya tetap memberikan kesempatan kepada direksi untuk memberikan penjelasan, hingga Senin (1/7/2019) malam. “Jika malam ini ada kebijakan dari PT KS melalui Pak Edji, kami akan mempertimbangkan apakah akan melakukan aksi atau tidak,” tuturnya.

Sementara itu, Manajer Security and General Affair PT KS Edji Djamhari mengatakan, pihaknya hanya bisa menyampaikan aspirasi para buruh kepada direksi PT KS. Namun perlu dijelaskan, kata dia, kebijakan restrukturisasi tampaknya sulit untuk ditangguhkan. “Ini kan berkaitan dengan kerugian perusahaan selama 7 tahun berturut-turut. Atas pertimbangan itulah, muncul tiga kebijakan restrukturisasi, yakni restrukturisasi piutang, bisnis, dan organisasi,” ucapnya.

Sejumlah pabrik menyusul

Soal restrukturisasi piutang, kata Edji, PT KS mengambil langkah untuk memberhentikan sejumlah pabrik. Salah satunya dua pabrik di area blast furnace. “Long Product sudah off, berikutnya Blast Furnace dan Sinter Plant juga akan berhenti. Coke Oven Plant tetap hidup, tidak dihentikan. Karena itu (BF dan Sinter Plant) tidak aktif, Direct Production berhenti, SSP berhenti, Sumikin juga berhenti,” kata Edji.

Penghentian pabrik ini, kata dia, terpaksa dilakukan mengingat piutang PT KS mencapai Rp 40 triliun. Utang itu timbul karena biaya yang dikeluarkan akibat investasi proyek pabrik besar dan terus terakumulasi.

“Banyak proyek investasi yang meleset sehingga terjadi cost operan. Kemudian ada biaya tambahan yang sampai sekarang belum dioperasikan. Kan proyek pabrik ada karyawan, pengeluaran rutin, padahal tidak menghasilkan. Lalu utang pinjaman makin lama makin bertumpuk, hingga Rp 40 triliun,” ujarnya. (AH)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here