Atasi Gagal Panen, Pemkab Lebak Siapkan Dana BTT

LEBAK, (KB).- Pemkab Lebak akan menyiapkan biaya tidak terduga (BTT) untuk mengantisipasi terjadinya gagal panen padi akibat dampak kemarau. Dana BTT itu nantinya disalurkan melalui Kelompok tani (Poktan) untuk pembelian selang dan bahan bakar pompanisasi.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Lebak Dede Supriatna mengatakan, pemerintah daerah bergerak cepat merespons keinginan Kementerian pertanian (Kementan) untuk menangani kekeringan guna menyelamatkan tanaman padi dari ancaman gagal panen akibat kemarau.

Kesiapan itu disampaikan Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya saat melaporkan hasil rapat di Kementan terkait daerah-daerah di Indonesia yang mengalami kekeringan agar membuka Posko Mitigasi Kekeringan.

“Bupati merespons cepat masalah kekeringan areal sawah tanaman padi di Lebak dengan mengeluarkan dana BTT agar areal persawahan yang sudah ditanam bisa dipanen,” kata Dede Supriatna, Rabu (7/8/2019).

Ia menjelaskan, dana BTT tersebut akan disalurkan melalui Poktan yang peruntukannya untuk pembelian selang dan bahan bakar minyak (BBM) mengoperasikan pompa air. Pompa itu disalurkan kepada poktan yang memiliki sumber potensi air permukaan.

“Selama ini, pemerintah daerah mengoptimalkan pompa air menghadapi kekeringan untuk mendukung produksi pangan. Kami optimistis, melalui pompanisasi dapat menyelamatkan tanaman pangan dari ancaman kekeringan,” ujarnya.

Pengoperasian pompa air dari dana BTT, kata dia, akan mulai direalisasikan pekan depan di Kecamatan Kalanganyar, Cibadak dan lokasi-lokasi lainnya yang memiliki sumber air permukaan.

Berdasarkan data di Posko Mitigasi Kekeringan Distan, luas lahan persawahan yang kekeringan tercatat sekitar 2.484 hektare, terdiri atas 1.715 hektare kategori ringan, 441 hektare sedang dan 335 hektare berat. “Kami berharap areal persawahan yang terdapat sumber potensi air permukaan bisa dibantu dengan pompa itu,” katanya.

Sementara, Ketua Poktan Desa Suka Mekarsari, Kecamatan Kalanganyar Toto mengaku, para petani merasa senang tanaman padi yang mengalami kekeringan teraliri pasokan air pompa dengan menyedot sumber air permukaan dari aliran Sungai Cisimeut.

Areal tanaman padi di wilayahnya sekitar 35 hektare dengan tanam rata-rata 30-40 hari setelah tanam. “Petani di sini awalnya kebingungan setelah tanaman padi kekeringan akibat kemarau panjang,” ujarnya.

Namun, berkat komitmen Bupati Iti bisa dilakukan pompa dengan menyedot sumber air Sungai Cisimeut yang lokasinya kurang lebih 400 meter. “Kami merasa lega dan bahagia setelah dilakukan bantuan pompa akhirnya terpenuhi ketersediaan air untuk tanaman padi,” tuturnya. (H-22)***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here