Astra Tol Tangerang Merak Kampanyekan Keselamatan Berkendara

SERANG, (KB).- Dalam upaya menekan angka kecelakaan di jalan tol akibat “overload dan overdimension” (ODOL), PT Marga Mandalasakti (Astra Tol Tangerang-Merak) menggelar kampanye keselamatan berkendara, di Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) KM 68 ruang tol Tangerang-Merak, Rabu (27/11/2019).

Hal tersebut dilakukan, karena Tol Tangerang-Merak merupakan penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatera, yang menghubungkan antara Pelabuhan Merak dengan berbagai kawasan industri di Jabodetabek. Sehingga seringkali dilintasi oleh Kendaraan Angkutan Barang (KAB) dan kerap terindikasi melebihi batas muatan maupun modifikasi kendaraan angkutan barang yang tidak sesuai aturan muatan.

Dalam kegiatan, turut hadir Dinas Perhubungan Provinsi Banten, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Provinsi Banten, Korlantas Polri, Polda Banten, Dirlantas Banten, Perwakilan Bank Indonesia Banten, perwakilan transporter, Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO), dan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Banten. 

Selain itu, Metropolitan Expressway Company Limited (MEX) melalui program “Tokyo Smart Driver” juga turut hadir dalam kegiatan sosialisasi keselamatan berkendara. Diketahui, MEX merupakan pengelola jalan tol di wilayah Tokyo, Jepang. Sejak tahun 2010 Astra Tol Tangerang-Merak telah melakukan kerjasama dan bersama-sama mensosialisasikan program keselamatan bagi pengguna jalan.

Presiden Direktur PT Marga mandalasakti Kris Ade Sudiyono menjelaskan, pertumbuhan trafik rata-rata Tol Tangerang-Merak sebesar 10 persen setiap tahunnya. Namun, diimbangi dengan pertumbuhan 10 persen KAB dengan total 5,5 persen merupakan kendaraan “overload”. Berdasarkan data tersebut menggambarkan tingkat kepatuhan KAB di jalan tol masih sangat rendah. 

“Dari kendaraan ODOL tersebut dapat menyebabkan terjadinya kerusakan perkerasan jalan serta percepatan yang rendah. Sehingga mengakibatkan tingginya jumlah kecelakaan yang berdampak pada meningkatnya tingkat fatalitas kecelakaan di jalan tol. Oleh karena itu melalui kegiatan ini diharapkan para pengemudi, terutama sopir truk dapat paham dan mengerti, serta mematuhi aturan yang berlaku,” katanya.

Selain itu, pihaknya memiliki komitmen dalam penerapan menuju “intelligent transportation system”. Sejak tahun 2014, pihaknya telah memanfaatkan teknologi Weight In Motion (WIM) sebagai upaya pengendalian kendaraan ODOL. Hingga saat ini sudah terpasang di sejumlah titik Gerbang Tol, yakni Cilegon Barat, Cilegon Timur, Serang Barat, dan Cikande. Kendaraan yang melintasi maka secara otomatis di timbang dan diketahui bobotnya. Apabila melebihi kapasitas beban, akan diberi tiket khusus untuk keluar gerbang tol terdekat.

“Karena kami kan tidak memiliki kewenangan untuk menindak. Jadi kami hanya mengingatkan kepada pengguna jalan agar memperhatikan tonase muatan kendaraan. Sehingga perjalanan jadi lancar aman dan nyaman sampai ke tujuan kami pun bersinergi bersama pihak-pihak terkait dan juga para transporter,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Banten Tri Nurtopo mengatakan, kendaraan atau truk yang melebihi muatan di wilayah Banten lebih dari 50 persen. Namun, pihaknya telah melakukan kerjasama dengan kepolisian untuk menindak pelanggaran tersebut. “Kalau dilihat lebih dari 50 persen, pengendara ini melanggar atau melebihi muatan. Kami juga bekerjasama dengan kepolisian agar menindak dengan memberikan tilang kepada pelanggar,” ujarnya.

Ini juga, kata dia, sesuai dengan surat edaran Direktorat Jenderal (Dirjen) Perhubungan Darat Nomor SE.02/AJ.108/DRDJ/2008 kendaraan harus mengikuti ketentuan beban maksimal tiap EXLE. Jumlah berat yang diizinkan (JBI) dan jumlah berat kombinasi yang diizinkan (JKBI) dan jarak pada antar sumbu pada buku KIR. 

“Kemudian, sesuai Peraturan Menteri (Permen) Nomor 134 Tahun 2015 Kementerian Perhubungan tentang Penyelenggaraan penimbangan kendaraan bermotor di jalan bahwa penimbangan kendaraan bermotor terdiri atas model statis dan model dinamis,” ucapnya.

Sementara itu, Dirlantas Polda Banten Kombes Pol Wibowo menyampaikan bahwa 30 persen dari 1.000 kecelakaan yang terjadi di Jalan Tol diakibatkan oleh kendaraan yang muatannya berlebihan. Sehingga, menghambat jalan pengendara lain hingga akhirnya mengalami kecelakaan. “Sekitar 30 persen, kecelakaan di jalan tol diakibatkan oleh kendaraan muatan lebih itu,” katanya.(Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here