ASN Malas Terbaca Aplikasi

PANDEGLANG, (KB).- Dinas Komunikasi Informatika Sandi dan Statistik (Diskomsantik) Pandeglang segera melakukan uji coba alat untuk memantau dan mengukur kinerja aparatur sipil negara (ASN) di sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD).

Sebaliknya sistem ini bisa membaca ASN yang malas, karena nanti bisa kelihatan dari besaran tunjangan, tingkat kehadiran dalam aplikasi tersebut. Sistem dalam jaringan (daring) yang diberi nama aplikasi elektronik renumerasi tersebut akan diterapkan tahun depan.

Kepala Diskomsantik Pandeglang, Yahya Gunawan mengatakan, tahap awal uji coba alat tersebut akan diarahkan ke sejumlah OPD penting, di antaranya Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD), Sekretariat Daerah (Sekda) Pandeglang, Kecamatan Pandeglang, Kecamatan Saketi, Kecamatan Cibitung dan Diskomsantik.

Menurut Yahya, aplikasi berbasis Android tersebut hasil adopsi dari Kota Bandung. Sistem tersebut secara otomatis akan mendeteksi setiap laporan yang disampaikan ASN melalui smartphone. Hasil laporan daily activity yang dilaporkan tersebut berdampak juga terhadap tunjangan daerah yang akan diterima setiap ASN.

“Iya, awal tahun 2019 setiap ASN mulai pukul 16.00-07.30 wajib melaporkan program kerjanya atau bahasa kerennya daily aktivity ke aplikasi anjab babeka. Laporan itu tidak asal kinerja, tetapi program kerja yang sudah disepakati,” kata Kepala Dikomsantik, Yahya Gunawan kepada Kabar Banten, Ahad (14/10/2018).

Ia menjelaskan, dengan sistem tersebut akan diketahui kinerja ASN dalam bekerja setiap 250 menit per hari. “Nah, termasuk tingkat kehadiran itu nilainya 1 menit, apel pagi 15 menit. Waktu mengonsep surat untuk staf itu 30 menit, jadi aktivitas itu wajib difoto untuk masuk aplikasi. Dalam beberapa menit bisa dilihat tingkat kinerjanya, termasuk nilai tunjangan yang diterima,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan aplikasi tersebut bisa menghemat pengelolaan anggaran, karena nanti tunjangan daerah yang diterima ASN sesuai dengan kinerja.

“Dengan aplikasi ini nanti pegawai yang malas tidak akan mendapatkan tunjangan dan pastinya tunjangan diterima berbeda sesuai dengan tingkat kinerja masing-masing. Iya, termasuk kepala dinas juga bisa ketahuan kinerjanya, karena dilihat dari besaran tunjangan yang secara otomatis muncul di aplikasi tersebut. Manfaat lain, anggaran tunjangan berbasis kinerja ini akan terus terpantau dan jika tidak terserap semua, anggaran kan bisa dialihkan untuk program yang lebih penting,” tuturnya. (Ade Taufik/EM)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here