Aset Tanah Wakaf Produktif dalam Pengembangan Ekonomi Umat

Prof. Syafuri

Ada tiga kata kunci pada judul di atas. Pertama, aset tanah wakaf. Kedua, produktif. Ketiga,. pengembangan ekonomi umat. Aset tanah wakaf di sini adalah tanah yang sudah memenuhi kelengkapan persyaratan wakaf. Terutama ada syarat dan rukunnya seperti; ada wakif, ada maukuf alaih ada maukuf dan ikrar.
Dari persyaratan itu penyebab beralih status menjadi tanah wakaf, artinya tanah tersebut bukan lagi milik pribadi tetapi milik umat.

Sudah barang tentu lewat proses yang ditempuh seperti mendaftarkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) membuat Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau PPAIW di wilayahnya masing-masing, bahkan sampai ke tingkat pembuatan sertifikat sebagai legalitas status tanah wakaf.

Amanat wakif (yang mewakafkan tanah) kepada nadzir yang ditunjuk, untuk mengamankan dan mengembangkan atau mengurus tanah wakaf tersebut, yang disebut dengan menjadikan tanah itu menjadi bermanfaat atau produktif.

Kedua, yang disebut dengan “Produktif” adalah aset tanah wakaf itu tidak tidur tanpa digarap atau dimanfaatkan sesuai dengan amanat wakif. Hanya perlu juga diketahui dengan istilah tanah produktif, memang jenisnya tanah itu sudah produktif seperti tanah sawah, sesungguhnya tanah ini tinggal diolah digarap layaknya penggarapan mungkin tanaman padi dan palawija, bergantung kepada kemauan para pihak dalam hal ini pengurus nadzir yang menggarap.

Dengan demikian, akan menghasilkan panen yang baik dengan penggarapan yang maksimal. Tetapi sebagus apapun tanah produktif, kalau tidak digarap, maka tidak akan menghasilkan sesuai dengan yang diharapkan. Ada juga sebetulnya tanah tidak produktif, tetapi dengan kemauan dan kemampuan nadzir, maka tanah itu menjadi tanah yang menghasilkan.

Mungkin kerjasama dengan pihak pengembang yang menyediakan modal. Seperti tanah tandus tapi posisinya ada di tengah kota, maka tanah itu bisa dibuat sarana usaha/bisnis sehingga bisa menghasilkan. Seperti dibuat rumah sakit, mini market, pasar rakyat, sekolah dan lain-lain. Sehingga hasilnya bisa membantu masyarakat yang tidak mampu.

Ketiga, pengembangan ekonomi ummat. Idris, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah pada Kanwil Kementrian Agama Provinsi Banten mengatakan, lembaga pendidikan keagamaan swasta yang dibangun d atas tanah wakaf dari mulai RA, MI, MTs dan MA se-Propinsi Banten ada 3.816 unit.

Tenaga guru yang mengajar di lembaga tersebut atau tenaga honorer srbanysk 29.209 orang, ditambah dengan guru PNS yang diperbantukan d madrasah swasta 3.517 orang (mohon maaf kalau tidak tepat). Artinya, bahwa tanah-tanah wakaf yang sudah diproduktifkan menjadi yayasan lembaga pendidikan, cukup banyak, Sehingga dengan perjalanan waktu pendirian lembaga tidak mustahil banyak lulusan madrasah yang jadi kiai, pejabat, birokrat, ulama, ilmuwan, para pengusaha berhasil. Itu jebolan madrasah yayasan yang dibangun di atas tanah wakaf.

Akhirnya saya mengatakan bahwa jasa pengelola tanah wakaf dan aset tanah wakaf itu sendiri bisa mengantarkan orang berhasil, juga para lulusan perguruan tinggi bisa mengamalkan ilmunya di lembaga atau yayasan yang dibangun di atas tanah wakaf. Sekecil apapun penghasilan yang diperoleh dari yayasan tersebut, tetapi berkah untuk kehidupan di keluarga para guru.

Kesimpulannya, bahwa membuat wakaf produktif dari aset tanah wakaf sudah berjalan sejak awal UU Wakaf belum ada.
Kemudian yang berikutnya bahwa wakaf tidak kalah pentingnya dalam membantu masyarakat dari sisi pendidikan. Lebih-lebih ekonomi ummat. Walaupun perlu juga disadari bahwa pengembangan aset wakaf produktif khususnya di Banten, belum signifikan sesuai dengan yang diharapkan, karena butuh waktu, tenaga, biaya dan pikiran. Terimakasih, mohon maaf jika ada kekeliruan data.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here