Sabtu, 20 Oktober 2018
Rumah tua peninggalan Tuan Dennis di Jalan Bayangkara, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.*

Asal-usul Sejarah Lembang Bandung

KOMPLEKS Alun-alun Lembang, Kabupaten Bandung Barat, menyerupai kebanyakan alun-alun di Pulau Jawa yang terkena pengaruh Kerajaan Mataram. Sebagai pusat administrasi dan sosial budaya masyarakat pada masanya, di sekitar alun-alun umumnya terdapat pohon beringin. Di sekelilingnya juga ada masjid, (bekas) tempat tinggal penguasa, pendopo, sampai penjara kecil.

“Yang menarik, pendopo di Lembang ini tertutup. Enggak terbuka seperti pendopo lainnya. Mungkin cuma di sini pendopo yang tertutup, karena cuaca di Lembang yang dingin,” kata Malia Nur Alifa, ketua dari komunitas sejarah Heritage Lover, Minggu 18 Februari 2018.

Selaku pemandu, Malia menjelaskan hal tersebut kepada belasan peminat sejarah yang mengikuti kegiatan “Explore Lembang“. Kegiatan yang diadakan oleh Historical Trips Bandung itu tak ubahnya seperti wisata sejarah. Ketika wisatawan lainnya -pada libur panjang Imlek- datang ke Lembang untuk mengunjungi tempat wisata alam atau buatan, para peserta “Explore Lembang” berpelesir ke tempat-tempat bersejarah atau bangunan tua.

Secara historis, Lembang termasuk kota tua di Priangan. Statusnya pernah setara dengan Bandung, sebagai onderdistrik di bawah Distrik Ujungberung Kulon. Selain Lembang, distrik tersebut membawahi Bandung, Andir, dan Balubur. Dasarnya ialah keputusan Gubernur Jenderal Frederik s’Jakob tertanggal 16 Oktober 1882 Staatsblad Nomor 252. Pada 1926, Lembang bahkan diubah menjadi distrik, dengan onderdistrik Lembang, Cipaganti, dan Cisarua.

Dengan status tersebut, Alun-alun Lembang pernah menjadi tempat yang sangat penting. Apalagi, Lembang pun pernah menjadi perhatian dunia, seiring dengan pembangunan Observatorium Bosscha yang menjadi pusat ilmu pengetahuan astronomi dunia. Sejalan dengan perkembangan kawasan di Lembang, bangunan-bangunan bersejarah akhirnya terlahir. Beberapa di antaranya dikunjungi oleh para peminat sejarah ini.

Orang-orang penting pembangun Lembang

Grand Hotel Lembang yang dibangun pada 1916 dan sampai saat ini masih beroperasi jadi tempat pertama yang disinggahi. Berada di atas lahan seluas 7 hektare, hotel yang berjaya pada masa kolonial itu pernah dikelola oleh Bruno Treipl, ketika berumur 18 tahun pada 1934. Brono Treipl ialah seorang Jerman yang pernah jadi tahanan Hindia Belanda. Dia dikirim ke kamp tahanan di Dehra Dun, Mussori, India.

Kelak Bruno Treipl termasuk tujuh orang kelompok tahanan Jerman yang sukses melarikan diri ke Tibet. Kisahnya ditulis dalam “Turned Back from Tibet – Bruno Treipl’s Wartime Adventures in Asia”, yang dipublikasikan pada 2004. Kisah tersebut kemudian difilmkan dengan judul “Seven Years in Tibet”, dengan pemeran utama aktor kenamaan Brad Pitt.

Perkembangan Lembang juga tak terlepas dari peran keluarga Ursone, orang Italia yang mendatang Priangan pada 1895. Sempat berdomisili di Batavia (sekarang Jakarta), mereka masuk ke Lembang untuk membuka perkebunan kina dan peternakan sapi. Keluarga Ursone juga punya 12 perusahaan lain, antara lain toko marmer bernama Carrara di bilangan Banceuy, Kota Bandung. Hampir 80 persen tanah di Lembang merupakan milik Ursone, termasuk lahan 16 hektare yang dihibahkan untuk peneropongan bintang Bosscha.

Rumah peninggalan keluarga Ursone kini terhampar di Baru Adjak, yang secara administratif masuk Desa Lembang. Para peserta “Explore Lembang” berkesempatan melihat-lihat rumah yang saat ini dikenal angker. “Untuk memperoses izinnya, kami perlu waktu sekitar satu bulan. Itu pun dengan catatan, rumahnya tak boleh difoto untuk dipublikasikan di media massa,” kata Ketua Historical Trips Bandung, Hasan Sobirin.

Selain itu, perjalanan para wisatawan sejarah di Lembang juga meliputi rumah tua di Jalan Bayangkara, tepatnya di belakang asrama polisi Polsek Lembang. Rumah itu milik pria Inggris bernama Dennis, yang juga pemilik Dennis Bank. Sekarang lokasi Dennis Bank di Jalan Naripan, Kota Bandung, digunakan oleh Bank BJB. Sampai sekarang, rumah peninggalan Dennis itu kondisinya masih asli dan terpelihara, ditempati oleh keturunan dari pesuruh Dennis.

Sampai sore, kunjungan tempat-tempat bersejarah di Lembang juga dilakuka  di sejumlah tempat lainnya. Selain yang telah disebutkan di atas, tempat lain itu ialah rumah tua di kawasan Gereja Karmel, kantor waterleiding maatschappij yang sekarang jadi kantor PDAM, dan bangunan di SMP Negeri 1 Lembang yang pernah dikenal sebagai Gedong Luhur.

“Disebut Gedong Luhur mungkin karena letaknya yang memang berada di atas Jalan Raya Lembang. Dulu gedung ini merupakan rumah tinggal milik keluarga Belanda. Pernah dipakai untuk asrama polisi, baru sekitar tahun 1965 dipakai buat SMPN 1 Lembang dan sampai sekarang bangunannya masih terjaga,” terang Malia. (Hendro Susilo Husodo/PR)***


Sekilas Info

Menelusuri Situs Wisata Ziarah di Banten

PROVINSI Banten banyak terdapat objek wisata ziarah yang tersebar di empat kota dan kabupaten. Objek …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *