APBD Kota Serang Dinilai Belum Ideal

SERANG, (KB).- Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Serang Tahun 2020 dinilai masih belum ideal. Hal tersebut, karena pos anggaran untuk belanja tidak langsung masih lebih besar dibandingkan belanja langsung.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Pusat Telaah dan Informasi Regional (Pattiro) Banten Angga Andrias. Ia mengatakan, idealnya struktur anggaran untuk belanja langsung lebih besar dari belanja tidak langsung. Bahkan, persentesenya mencapai 70 berbanding 30 persen.

“Jika pemda memiliki komitmen dalam membangun daerah, harusnya belanja langsung lebih besar dari belanja tidak langsung. Karena, belanja langsung merupakan belanja yang dialokasikan dan langsung dirasakan publik,” katanya kepada Kabar Banten, Rabu (27/11/2019).

Menurut dia, dengan struktur anggaran yang lebih besar pada postur belanja tidak langsung, maka bisa dipastikan APBD tidak akan sepenuhnya menyentuh pembangunan daerah. Sehingga dampaknya tidak tercapai target RPJMD yang menjadi janji pemerintah daerah.

“Itu juga kalau belanja langsungnya tidak didominasi belanja pegawai dan belanja barang dan jasa yang digunakan untuk keperluan kantor pemda,” ucapnya.

Selanjutnya, dengan defisit sekitar Rp 74 miliar. Ia menuturkan, dalam PMK nomor 125/PMK.07/2019 tentang batas maksimal kumulatif defisit APBD dan batas maksimal kimulatif pinjaman daerah TA 2020 sudah diatur, yaitu maksimal 0,28 persen dari proyeksi produk domestik bruto (PDB) tahun anggaran 2020.

“Ini memang dibolehkan sesuai aturan dan batas maksimal, tapi sebaiknya pemda juga melakukan peningkatan pendapatan khususnya PAD Kota Serang, agar kapasitas fiskal Kota Serang tinggi dan meminimalisir defisit,” tuturnya.

Adanya defisit, kata dia, menandakan kebutuhan pembangunan daerah tinggi, namun pendapatan yang dihasilkan rendah. Namun, seharusnya pemkot jangan mengandalkan silpa dalam menutupi defisit, tetapi lebih pada peningkatan PAD.

“Silpa bisa dikatakan efisien atau bisa juga kegagalan perencanaan, jika ada silpa di tahun sebelumnya dan banyak program tidak bisa dilaksanakan. Artinya terjadi kegagalan perencanaan anggaran, target pun tidak tercapai,” ujarnya.

Diketahui, dalam APBD Kota Serang tahun 2020 disepakati defisit sekitar Rp 74,7 miliar, jumlah tersebut, bertambah sekitar Rp 22 miliar dari RAPBD 2020 sebelum disepakati.

Sementara, berdasarkan draf rancangan APBD Kota Serang Tahun 2020 diketahui jumlah pendapatan sekitar Rp 1,2 triliun yang berasal dari PAD sekitar Rp 200 miliar, dana perimbangan sekitar Rp 942 miliar dan lain-lain pendapatan daerah yang sah sekitrar Rp 132 miliar, sedangkan jumlah belanja daerah sekitar Rp 1,350 triliun yang terbagi pada belanja langsung sekitar Rp 672 miliar dan belanja tidak langsung sekitar Rp 678 miliar. (Masykur/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here