Antisipasi Longsor di TPAS Cilowong, Pemkot Serang Anggarkan Rp 4,4 Miliar

SERANG, (KB).- Pemerintah Kota (Pemkot) Serang tahun ini telah mendapat bantuan provinsi (Banprov) Banten sebesar Rp 4,4 miliar. Bantuan keuangan tersebut digunakan untuk antisipasi terjadinya longsor di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cilowong, dengan memasang bronjong sebagai penahan longsoran.

Wali Kota Serang Syafrudin mengatakan, TPAS Cilowong merupakan salah satu daerah rawan bencana longsor, sebab berada di daerah perbukitan di Kecamatan Taktakan. Oleh karena itu, pihaknya menyiapkan anggaran melalui Banprov sebesar Rp 4,4 miliar, untuk pembuatan jalan utama truk sampah.

“Hal ini dilakukan karena jalur truk untuk membawa sampah, hingga ke pembuangan lokasinya berada dibawah. Jadi kami akan membangun jalan truk terlebih dahulu dengan memasang bronjong, agar tidak terjadi longsor saat dilalui truk sampah. Kemudian kan cukup dalam juga dan berada dibawah dari tumpukan sampah ini,” ujarnya, Sabtu (18/1/2020).

Selain membuat jalur truk sampah, Pemkot Serang juga akan memasang bronjong di akses jalan utama, di sepanjang TPAS Cilowong, atau jalan raya Taktakan. Rencananya, bronjong tersebut akan dipasang tepat disetiap sisi jalan, mulai dari bawah hingga ke atas.

“Nanti anggaran Banprov juga digunakan untuk pemeliharaan dan menjaga bronjong, supaya nanti tidak longsor. Karena kan jalan raya ini dilalui oleh banyak kendaraan dan berbagai beban,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang Ipiyanto juga menjelaskan, Banprov yang dianggarkan untuk mengantisipasi longsor tersebut akan dialokasikan untuk membangun akses pembuangan, serta pembangunan sekaligus pemasangan bronjong di TPAS Cilowong, terutama dibagian kantor Unit Pelayanan Teknis (UPT).

“Bronjong ini sangat penting, karena kantor UPT yang berada di Cilowong. Kantor itu juga digunakan oleh para Aparatur Sipil Negara (ASN) dan sudah ada yang longsor sedikit, akibat curah hujan yang cukup deras. Tentu, kami juga perlu untuk antisipasi adanya longsor susulan,” ucapnya.

Untuk titik rawan longsor sendiri, ia mengatakan, berada di depan TPAS Cilowong dan area yang berada disekitarnya. Sebab, ada banyak tumpukan sampah yang ditumpuk dalam kurun waktu cukup lama, sehingga kemungkinannya juga akan terjadi longsor.

“Jadi sudah cukup berat sampahnya. Apalagi kalau sudah hujan, ini kan menambah beban dari sampah itu sendiri. Saat ini pun curah hujan sudah cukup tinggi, dan tidak ada tiang pancang untuk menyanggah. Maka ini yang perlu diprioritaskan juga sebagai antisipasi adanya longsor,” ujarnya.

TPAS Cilowong juga masuk dalam kajian rawan bencana (KRB) BPBD Kota Serang. Hal ini tentu saja membuat Pemkot Serang harus ekstra dalam penanganan rawan bencana di Cilowong. Kepada masyarakat, khususnya yang berprofesi sebagai pengumpul barang bekas, harus memperhatikan cuaca dan juga pijakannya.

Sebab sebelumnya, pada awal 2019 telah terjadi longsor di TPAS Cilowong dan mengakibatkan dua orang tertimbun. Bahkan, hingga kini kedua korban tersebut masih belum ditemukan.

“Jangan sampai kejadian pada awal 2019 lalu terulang kembali. Hal ini untuk menghindari kejadian longsor seperti yang terjadi pada awal tahun lalu,” tuturnya. (Rizki Putri/YA)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here