Antara Sufi dan Selfi

Oleh : Nasuha Abu Bakar, M.A.

Kemajuan teknologi kekinian yang perkembangan dan pertumbuhan nya sulit dibendung, salah satunya pabrik telepon genggam atau handphone. Berbagai macam jenis dan merek membuat negeri kita, tanah Nusantara dibanjiri dengan hadirnya counter counter HP. Warung warung telepon genggam tidak saja di perkotaan, sampai di pelosok pelosok pedesaan sudah bukan mirip lagi dengan perkotaan.

Kemajuan teknologi telekomunikasi bukan lagi hanya sekedar untuk alat berkomunikasi suara saja, akan tetapi dengan inovasi nya para ilmuwan, telepon genggam pun mampu menghadirkan sesuatu yang jauh jadi dekat dengan fasilitas fitur dan konten yang tersaji.

Dengan munculnya telepon genggam yang mampu merekam dan mengirim gambar, sehingga tugas dan pekerjaan mudah direkam,diakses dan dijadikan alat bukti atas segala aktivitas seseorang baik yang memiliki status kepegawaian, status karyawan atau sebagai orang biasa biasa saja, seketika dapat diketahui oleh atasan dan pimpinan,dimana dan sedang mengerjakan apa.

Sesungguhnya alat bukti dan jejak rekam seseorang sudah digambarkan dalam surat ke 36, yaitu surat Yasin ayat 65, manusia tidak berdaya dengan alat bukti yang akan dihadapi nya. Sayang nya alat bukti fhoto dan Selfi Selfi itu belum mampu membuka hati sanubari pengguna telepon genggam bathin nya menerawang dan membuka tabir yang mendindingi kebenaran dan kelalaian nya.

Dengan adanya telepon genggam yang mampu merekam gambar, menjadikan seseorang memiliki identitas internal, misalnya saja ada seorang ditempelkan identitas baru yaitu dengan sebutan “Ustadz Selfi” karena dimana mana selalu selfi, sedang apa saja selalu menyempatkan diri untuk berfoto. Akhirnya nya, tidak lagi disebut dengan nama kebanggaan orang tuanya, tetapi lebih dikenal dengan kebiasaannya, yaitu ustadz Selfi, karena sedikit sedikit Selfi, sebentar sebentar selfi.

Berbeda dengan yang mempelajari kitab kitab tasawuf, mendalami isinya,dan berusaha untuk mengambil nasehat nasehat nya, seperti kitab kitab karya Al-Ghazali seperti kitab Bidayatul hidayah, Minhajul ‘abidiin, Ihya ‘ulumuddin. Ada juga karya Ibnu Athaillah seperti kitab Al Hikam.

Dengan kajian kitab kitab tasawuf di atas, sehingga selalu berusaha untuk menjaga lurusnya hati, menghindari rongrongan sifat sifat tercela yang bersembunyi di dalam hati dan selalu siap menggerogoti ketulusan dalam beramal. Inilah yang disebut orang orang Sufi.
Wallaahu’alamu bish shawaab wa ilahil musta’aan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here