Angka Perceraian di Kabupaten Tangerang Tembus 10 Besar Nasional

Angka perceraian di wilayah Kabupaten Tangerang menembus 10 besar nasional, dengan perselisihan dan pertengkaran yang terus meningkat. Sampai 14 Juni 2019, sebanyak 4.279 wanita di Tangerang telah berstatus menjanda sesuai dengan kasus yang telah ditangani Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Tangerang.

“Kasus perceraian di Pengadilan Agama yang masuk ini di tingkat nasional menjadi peringkat 10 besar. Namun untuk penyelesaian perkaranya, berada di peringkat 15,” ujar Ketua PA Kabupaten Tangerang Asep Syayuti, Jumat (21/6/2019).

Sebagian besar pasangan suami istri yang mengakhiri perkawinannya karena alasan klasik. Mulai dari perselisihan, perselingkuhan yang berujung pertengkaran tidak kunjung selesai, faktor ekonomi, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dan lainnya.

Dari jumlah total 4.279 kasus perceraian di Kabupaten Tangerang, penyebab tertinggi akibat perselisihan dan pertengkaran ada 1.416 kasus, kemudian faktor ekonomi 451 kasus, faktor meninggalkan salah satu pasangan sebanyak 487 kasus dan faktor KDRT sekitar 65 kasus.

“Kebanyakan masuk gugatan cerai dari pihak istri. Kan perceraian itu ada dua, ada cerai talak dimana suami yang melakukan, pengadilan hanya mengizinkan suami menjatuhkan talak, setelah diizinkan keputusan ini dan ingkrah baru jatuh talak. Ada juga cerai gugat dimana istri yang mengajukan cerai,” ucapnya.

Asep yang juga sebagai hakim ini mengatakan, pihaknya akan menyediakan fasilitator untuk penyelesaian permasalahan agar tidak terjadi perceraian. “Kita akan menyediakan mediator, agar merukunkan dan mendamaikan,” tuturnya.

Kasus menumpuk

Pada kesempatan itu, Pengadilan Agama (PA) Tigaraksa, Kabupaten Tangerang juga melantik Wakil Ketua, Hakim dan Panitera Muda, di Aula Pengadilan. Adalah Sodikin sebagai Wakil Ketua, Ulyati sebagai Hakim dan Ahmad Muhtadin sebagai Panitera Muda.

Dalam pelantikan tersebut, Sodikin mengatakan, sebagai Wakil Ketua PA Tigaraksa yang baru, dirinya memiliki tugas penting untuk dapat lebih meningkatkan prestasi PA Tigaraksa.

“Ini tantangan bagi saya, harus secepatnya memegang tanggung jawab yang sangat besar. Karena luar biasa perkaranya banyak karena boleh dibilang tinggi 10 besar se-Indonesia,” ujar Sodikin.

Selama ini, menurut dia, manajemen PA Tigaraksa sudah berjalan cukup baik. Seluruh proses dan hasil persidangan dapat dilihat oleh masyarakat umum melalui website. Namun, dirinya ingin terus menjadikan PA Tigaraksa terus berinovasi dalam melayani masyarakat.

“Karena persoalan sengketa rumah tangga itu bukan sedikit, namun PA Tigaraksa ini bisa mengelola semua itu dengan baik terbukti setiap hari Kamis dan Jumat dipublish hasilnya, PA Tigaraksa ini termasuk yang diidolakan oleh Pak Dirjen,” katanya.

Ia pun menargetkan dapat membawa PA Tigaraksa untuk meraih peringkat yang lebih tinggi. Hal tersebut dilakukan dengan cara menyesuaikan ritme kerja agar lebih terkelola dan tertata lebih baik lagi.

“Tentu saya harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang ada di sini, dan lebih meningkatkan lagi. Mudah-mudahan bisa naik peringkat 1 digit, di peringkat 14 atau 13,” ujarnya. (Dewi Agustini)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here