Anggaran Minim Bukan Alasan, Kota Serang Butuh Pembenahan

SERANG, (KB).- Kota Serang dipandang masih membutuhkan banyak pembenahan di usianya yang menginjak 12 tahun, Sabtu (10/8/2019) hari ini. Mulai dari masalah sosial, ruang publik, hingga keindahan dan kemacetan kota masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian pemerintah dari daerah yang menyandang Ibu Kota Provinsi Banten tersebut.

Hal itu dikatakan Gubernur Banten Wahidin Halim, Jumat (9/8/2019), ketika dimintai tanggapan terkait Hari Ulang Tahun (HUT) ke-12 Kota Serang sebagai Ibu Kota Provinsi Banten. “Selamat dan dirgahayu Kota Serang yang ke-12. Harapan, mari kita kerja sama membangun ibu kota provinsi yang lebih nyaman, lebih bersih, lebih ramah lingkungan dan membuat warganya betah,” kata Gubernur.

Menurut dia, usia ke-12 tahun menjadi momentum yang baik untuk melakukan pembenahan, sehingga Kota Serang tampak lebih cantik dan ramah. “Kita (pemprov dan Pemkot Serang) akan bekerja sama supaya menjadi ibu kota yang representatif bagi warganya,” ujarnya.

Disinggung masalah pelimpahan aset dari kabupaten ke Kota Serang yang belum rampung, mantan Wali Kota Tangerang dua periode itu meminta keduanya duduk bersama. “Pokoknya, nanti setelah ulang tahun, kami minta keduanya untuk duduk satu meja,” ucapnya.

Menurut akademisi dari Untirta Suwaib Amiruddin, ada tiga sektor yang perlu menjadi fokus pembangunan di Kota Serang. Pertama, peradaban yang di dalamnya mengembalikan Kota Serang sebagai kota religius. “Itu penting sekali. Kota religius itu bukan cuma simbol yang dipasang, tetapi bagaimana aktifkan kembali komunitas masjid,” tuturnya.

Kedua, bidang infrastruktur yang selama ini dipandang masih kurang maksimal. Perbaikan infrastruktur, sejalan dengan spirit menciptakan penataan kota yang baik. “Baik terutama dari aspek permukiman, gorong-gorong harus diperbaiki. Kalau perlu sih memang Wali Kota Serang mengampanyekan bagaimana gorong-gorong itu bersih dan ada selokan,” ucapnya.

Ketiga, penataan pasar yang selama ini dianggap belum jelas. Penataan pasar, kata dia, dilakukan dengan cara memetakan mana wilayah pasar tradisional, induk dan dadakan. “Pedagang PKL di mana, pasar tradisional di mana, jadi termasuk Rau harus diperhatikan. Karena ada lima lapis penjual dari luar ke dalam, ini harus ditertibkan,” katanya.

Terkait anggaran Kota Serang yang masih kecil, ia menyebutkan hal tersebut bukan alasan pembangunan tidak teratur. Sebab, pemkot masih punya cara agar anggaran kecil tepat sasaran. Caranya dengan memetakan fokus pelaksanaan pembenahan.

“Tahun pertama wilayah mana dulu yang dibangun dan segmentasinya apa. Kemudian di sini, ada juga misalnya pemilik toko atau ruko itu harus betul-betul memiliki drainase yang baik di depannya. Kemudian setiap ruko wajib ada taman di depan, supaya kota kita indah,” ucapnya.

Anggaran Kota Serang juga bisa ditingkatkan dengan cara memaksimalkan seluruh potensi PAD. “Data jumlah ruko, ada berapa lahan parkir kemudian ada berapa lahan transaksi ekonomi dan fasilitas umum dan sosial. Misalnya rumah sakit, klinik kemudian ada kampus, pelayanan jasa itu semua sumber PAD,” katanya.

Wali kota juga harus memasang simbol di ruko-ruko yang wajib bayar pajak, sehingga tidak alasan pemiliknya untuk nunggak pajak. “Jadi pemerintah sudah mengetahui berapa wajib pajak kita dengan jumlah simbol itu. Dari situ bisa dihitung, kalau kurang maka ada beberapa hal yang bisa dibangun lagi,” katanya.

Jauh dari harapan

Sejak awal berdirinya Kota Serang tahun 2008, kota dengan label madani ini beberapa kali mengalami pergantian kepala daerah. Saat ini, Kota Serang dipimpin oleh Wali Kota Syafrudin dan Wakil Wali Kota Subadri Usuludin yang dilantik Desember 2018 menggantikan wali kota sebelumnya Tubagus Haerul Jaman.

Dengan pemimpin baru yang memiliki tagline ‘Aje Kendor’, banyak masyarakat Kota Serang menggantungkan harapan lebih untuk perubahan yang sesuai dengan visi pembentukan Kota Serang. Namun, harapan itu dianggap masih jauh untuk tercapai.

“Selama ini Kota Serang belum (sesuai visi pembentukan), bahkan mendekati pun belum,” kata seorang tokoh pendiri Kota Serang KH. Matin Syarkowi kepada Kabar Banten, Jumat (9/8/2019).

Menurutnya, bagaimana mungkin Pemerintah Kota Serang bisa menyiapkan konsep yang sesuai visi berdirinya Kota Serang. Sedangkan madani sendiri masih banyak yang belum memahami substansinya. Bahkan, seringkali kata ‘madani’ yang tertera dalam logo diartikan secara sempit yang hanya bermakna religiusitas. “Madani, madanu itu Islam identiknya. Bukan begitu, inilah yang begini mestinya sudah terlewati,” ucap mantan ketua panitia pembuat logo Kota Serang itu.

Dia mengatakan, Madani secara substansi adalah bagaimana menjadikan Kota Serang sebagai pusat peradaban dan miniaturnya Provinsi Banten. Artinya, kata dia, semua orang yang ingin mengetahui semua wilayah di Banten bisa cukup datang ke Kota Serang. Kemanapun tujuan pendatang, maka Kota Serang selalu menjadi tempat persinggahan yang bisa menyajikan semua hal yang ada di Banten.

“Sesuai dengan filosofinya yang kita angkat pada waktu itu bagaimana Kota Serang menjadi pusat, kalau bahasa saya miniatur Banten yang berperadaban,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, Kota Serang hanya menjadi tempat lewat yang tidak pernah menjadi tujuan dan persinggahan. Sehingga, secara ekonomi pun Kota Serang yang merupaka ibu kota provinsi dan berlokasi di tengah tidak pernah mendapatkan keuntungan apa-apa.

“Kalau tidak ada visi kesana, Kota Serang hanya akan jadi tempat lewat. Paling hanya buat buang sampah. Makanya, saya sampaikan tidak melihat semuanya mempunyai visi futuristik yang membawa Serang maju ke depan. Masih bersifat copy paste, tidak melihat aspek geografisnya, sosiologis seperti apa,” katanya.

Dari sisi infrastruktur, ia juga melihat Kota Serang masih jauh dari harapan di usianya yang ke-12. Ia memandang, infrastruktur jalan di Kota Serang masih banyak yang rusak dan penerangan yang minim. Sehingga, sama sekali tidak memancarkan kemajuan layaknya ibu kota provinsi yang menjadi percontohan daerah lain. “Sangat banyak PR, bukan hanya infrastruktur, lihat kota ko gelap, ini kota lho, artinya sangat naif sekali,” ujarnya.

Secara terpisah, aktivis Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Provinsi Banten M Asep Rahmatullah mengatakan, persoalan yang hadapi Kota Serang memang begitu rumit dan sulit untuk diuraikan secara utuh dan menyeluruh. Sehingga, yang dibutuhkan adalah keberanian dari seorang pimpinan, khususnya Wali Kota dan Wakil Wali Kota Serang.

Hal itu, kata dia, tidak terlepas dari letak Kota Serang yang sangat strategis dan banyak pendatang baik dari daerah Banten maupun luar Banten.

“Dari banyaknya para pendatang yang masuk ke Kota Serang ini, pasti menimbulkan banyak persoalan dan perbedaan di antara masyarakatnya. Maka, seorang pemimpin butuh keberanian untuk membaca keadaan masyarakatnya, dan menyatukan perbedaan itu. Baik itu agama, budaya, karakteristik serta pemikiran dan kelompok sosial masyarakatnya,” kata Asep.

Kemudian, kata dia, Pemerintah Kota Serang harus berjiwa negarawan dengan mengeluarkan segala kebijakan, ide, dan solusi yang berani, cepat, tepat dalam mengatasi berbagai persoalan. Saat ini, ujar dia, persoalan di Kota Serang sangat komplek mulai dari tata kota, sampah, macet, irigasi, banjir serta ruang terbuka hijau yang harus segera diatasi.

“Kalau tidak segera diatasi dari sekarang, maka bom waktu kehancuran akan terus menggelinding. Maka dengan cepat dibutuhkan tangan seorang pemimpin untuk melakukan perubahan yang secara holistik revolusioner,” ujar aktivis PW Muhammadiyah itu. (SN/Masykur/SJ)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here