Ancaman Hoax Bagi Persatuan Bangsa

Oleh :

Rahmat Kartolo

Sejarah mencatat bahwa hoax bukanlah hal baru, cerita hoax banyak ragamnya, dalam dunia sains, dunia militer bahkan dalam urusan agama sekalipun. Mulai dari hoax serius yang mempertaruhkan dan bahkan mengorbankan nyawa hingga hoax sepele yang sekedar menggelikan para pembaca atau pendengar sebuah cerita. Anehnya hoax yang menggelikan juga bisa memicu peperangan.

Nyatanya penyebaran berita hoax bisa melaju lebih cepat daripada anak panah yang melesat meninggalkan busurnya, hanya tinggal sekali tekan berita hoax bisa tersebar pada seluruh anggota grup whatsapp.

Perkembangan teknologi telah menjadikan manusia dapat dengan mudah mengakses informasi dibelahan bumi lain. Namun dibalik mudahnya hal tersebut, informasi palsu juga atau hoax bisa saja diakses oleh siapapun.

Hoax juga nyatanya dapat memicu terjadinya perang dunia. Pada awal September 1939 Adolf Hitler mengabarkan kepada parlemen Jerman bahwa militer Polandia telah menembaki tentara Jerman pada pukul 05.45. Ia lalu bersumpah akan membalas dendam. Kebohongan yang memicu Perang Dunia II itu terungkap setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia. Karena sejak 1938 Jerman sudah mempersiapkan pendudukan terhadap jirannya itu.

Ditempat lain, pada 5 Februari 2003 Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, mengklaim memiliki bukti kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak pada sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Meski tak mendapatkan mandat PBB. Presiden Amerika saat itu George W Bush, akhirnya tetap menginvasi Irak untuk meruntuhkan rezim Saddam Husein. Namun hingga kini senjata biologi dan kimia yang diklaim dimiliki oleh Irak tidak pernah ditemukan.

Di Indonesia Hoax juga dapat membuat seseorang kehilangan nyawa. Di Kalimantan Barat pada tahun 2017. Seorang pria berumur 53 tahun tewas diamuk massa karena dituduh sebagai penculik anak. Saat itu almarhum berniat untuk menjenguk cucunya yang baru lahir di rumah anaknya, namun saat itu dirinya kebingungan mencari rumah anaknya.

Warga yang melihatnya langsung curiga dan menuduhnya sebagai pelaku penculikan anak sebagaimana dengan adanya kabar hoax yang beredar kala itu. Tanpa berusaha mencari info lebih lanjut, para warga lantas mengeroyok pria itu hingga tewas. Naas dirinya tidak sempat melihat cucunya untuk pertama kali.

Bisa dibayangkan bahwa berita hoax adalah ancaman untuk persatuan bangsa, fitnah bisa saja membuat persatuan bangsa terpecah, gencatan senjata makin menggelora hingga nyawa menjadi taruhannya.

Dalam hal ini tentu tidak ada ampun bagi para penyebar berita hoax di Indonesia pada khususnya, karena sejarah sudah banyak membuktikan bahwa berita hoax akan menyebabkan kehancuran suatu peradaban.

Salah satu hoax yang berdampak pada perekonomian adalah beredarnya hoax tentang telur palsu yang berbahan dasar dari karet. Kabar bohong tersebut ternyata berdampak besar pada menurunnya omzet penjualan telur di pasar hingga mencapai 40%.

Hoax di Indonesia tak kunjung reda bisa jadi karena beberapa sebab, seperti minimnya program literasi digital ke masyarakat. Literasi digital dirasa penting untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang konten apa saja yang berpotensi melanggar hukum dan tidak.

Penyebab lainnya adalah karena mudahnya berita hoax didapatkan dari teman atau orang – orang yang kita kenal. Karena seorang manusia biasanya juga percaya dengan teman atau keluarga, maka otak kita tiidak akan benar – benar menyaring informasi tersebut dan mudah untuk mempercayainya, apalagi jika orang yang memberikan berita tersebut adalah pribadi yang baik.

New York Times menyebutkan bahwa berita – berita hoax acapkali dibumbui dengan judul yang boombastis dan menarik perhatian warganet, perhatian ini disebut virus digital. Virus digital ini cenderung lebih mudah menjadi viral dan dipercaya oleh banyak orang yang mendapatkan informasi tersebut.

Studi dari Standford University menunjukkan bahwa anak muda utamanya remaja atau mahasiswa menilai kebenaran sebuah beruta dari detail konten seperti jumlah dan besarnya foto, panjang artikel dan lain – lain. Penelitian yang melibatkan 7840 siswa tersebut, mendapatkan hasil bahwa anak muda lebih memprioritaskan isi artikel daripada sumber berita. Hal ini menjadi alasan kenapa anak muda sangat rentang sekali dengan berita hoax.

Dalam hal ini tentu masyarakat khususnya pengguna internet, tak bisa lepas dari ancaman berita bohong atau informasi yang bias akan kebenaran. Tak hanya itu masyarakat juga cenderung tidak memperdulikan kredibilitas dari sumber berita.

Berita hoax juga seringkali bermuatan isu SARA, konten – konten yang pernah dipopulerkan oleh kelompok saracen tersebut, nyatanya membuat masyarakat terpecah belah karena ulahnya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat tidak bisa membedakan isu mana yang benar dan hoax. Menteri Agama Lukman Hakim mengatakan bahwa persatuan Indonesia tidak boleh goyah hanya karena provokasi dan hasutan.

Demi mewujudkan persatuan bangsa, maka berita hoax haruslah dilawan. Berbagai langkah ampuh untuk menganggulanginya, salah satunya adalah melalui sebuah edukasi literasi bermedia sosial.

Warganet juga perlu menelusuri informasi hoax yang tak diketahui sumbernya agar disandingkan dengan tiga atau empat media yang terdaftar di dewan pers. Selain itu kita juga perlu mengontrol jempol kita untuk tidak membagikan berita yang belum teruji kebenarannya, selain teruji kita juga perlu mempertimbangkan kiranya apa manfaat yang akan kita dapatkan jika berita ini kita share di sossial media.

Selain itu warganet juga perlu mengembangkan sikap skeptis apabila terdapat judul berita yang boombastis, hal ini dikarenakan berita hoax kerap muncul dengan judul yang terkesan wah. Selain itu berhati – hati juga dengan URL palsu. Banyak situs berita hoax yang berpura – puramenjadi sumber berita otentik dengan mengubah alamat URL. (Penulis adalah pemerhati Politik)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here