Amas Tadjuddin: ‘Sipakatau’ dan ‘Sipakainga’ Perlu Ditiru

Amas Tadjuddin.*

MAKASAR, (KB).- Sipakatau dan sipakainga merupakan filosofi menjaga kerukunan dan kedamaian umat beragama bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Filosofi tersebut dipandang perlu ditiru oleh masyarakat Indonesia secara lebih luas.

Hal tersebut dikatakan intelektual muda Nahdlatul Ulama yang juga Sekretaris PWNU Banten Dr H Amas Tadjuddin mengutip sambutan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Dr H Nurdin Abdullah dalam acara Konferensi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) se-Indonesia di Asrama Haji Sudiang Makasar, Sabtu (2/3/2019).

Konferensi tersebut dibuka oleh Menteri Agama yang juga dihadiri oleh delegasi Banten diantaranya Dr H Amas Tadjuddin, Dr H Bazari Syam, Dr H Kosasih, Dr H Asnawi Syarbini, dan pdt Beni Halim.

Konferensi diawali pembacaan 5 butir deklarasi bersama yang pada intinya menolak informasi hoax dan fitnah, mendukung kampanye dan Pemilu damai, mendukung pemimpin nasional yang memiliki program kerja yang terbukti untuk kepentingan masyarakat tanpa membedakan agama suku ras dan budaya, serta tetap kokoh mempertahankan Pancasila UUD 1945 kebinekaan dan NKRI.

Amas Tadjuddin mengatakan, ‘Sipakatau’ merupakan sikap saling menghargai sesama manusia tanpa membedakan suku ras dan agama, sedangkan ‘Sipakainga’ bermakna saling mengingatkan dalam berbagai kehidupan tanpa mengedepankan suatu keangkuhan dan merasa yang paling benar.

‘Sipakatau’ dan ‘Sipakainga’ (teks lafadznya bukan dari kitab suci) itulah filosofi yang dianut oleh masyarakat Sulawesi Selatan mengadopsi kearifan lokal suku-suku besar bugis, toraja, makasar, dan suku mandar, ujar Anas dalam siaran tertulis, Sabtu (2/3/2019).

“Sipakatau dan Sipakainga model tradisi lokal yang dapat diterima oleh seluruh masyarakat Sulawesi dalam hubunganya berbangsa dan bernegara ditengah keragaman adat budaya dan agama, tanpa harus mengedepankan istilah-istilah lain dalam teks kitab suci”, ujarnya.

Ia mengatakan, pihaknya menghimbau masyarakat Banten untuk mampu menahan diri dan tidak terprovokasi menuduh orang lain kafir, munafik, dan musyrik hanya karena beda pilihan politik. “Bangga orang Banten dipercaya untuk Indonesia masa depan,” ujar Amas Tadjuddin. (KO)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here