Alokasi Program ‘Kotaku’ Tunggu Keputusan Pusat

SERANG, (KB).- Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Kota Serang hingga saat ini masih menunggu alokasi anggaran Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dari Pemerintah Pusat.

“Kotaku belum ada informasi pagu definitifnya dari pusat. Jadi, kami masih menunggu,” kata Kepala Bidang Pembangunan Pemeliharaan dan Pengelolaan Permukiman DPRKP Kota Serang Iphan Fuad, Ahad (24/2/2019).

Ia menuturkan, Program Kotaku tersebut, menjadi salah satu upaya Pemkot Serang menekan angka kekumuhan di kota. “Kami masih menunggu kepastian dari pusat, untuk alokasi. Baru kemudian kami laksanakan. Yang menjadi target, adalah Kecamatan Kasemen,” ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan survei program sanitasi di beberapa kecamatan yang ada di Kota Serang.

“Ada enam lokasi yang masih kami survei. Sedang dikaji lokasi mana yang cocok, karena terkait dengan kondisi wilayah pada saat acara. Nanti peresmiannya terpusat di satu lokasi saja, termasuk Kasemen,” ucapnya.

Ia menuturkan, program DPRKP tahun ini masih sama seperti tahun lalu, yaitu infrastruktur permukiman, air bersih, sanitasi, prasarana sarana dan utilitas (PSU), serta penanganan kawasan kumuh. “Sedang dalam proses pengadaan. Karena ini program tahunan, target kami ya harus selesai tahun ini juga,” tuturnya.

Wali Kota Serang Syafrudin mengatakan, Kecamatan Kasemen menjadi salah satu target Program Kotaku. “Karena yang paling banyak daerah kumuhnya itu Kecamatan Kasemen. Jadi, yang utama adalah di daerah sana untuk penataannya. Sesuai dengan visi dan misi kami,” katanya.

Ia mengungkapkan, cukup banyak kawasan kumuh di beberapa kelurahan di Kasemen. “Jika melihat potensi kekumuhan, itu Kecamatan Kasemen yang paling tinggi tingkat kekumuhannya. Setelah selesai, nanti kami lanjutkan ke kecamatan lainnya,” ujarnya.

Sementara, Camat Kasemen Subagyo menuturkan, tingkat kekumuhan diwilayahnya cukup tinggi. “Jadi, kalau kawasan kumuhnya banyak, itu masuk programnya. Salah satunya Kecamatan Kasemen ini yang masuk dalam Program Kotaku,” ucapnya.

Ia mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat wilayahnya menjadi kumuh. Salah satunya perilaku masyarakat yang terbiasa menggunakan air sungai untuk kehidupan sehari-harinya. Selain itu, masih banyak warga yang tidak memiliki WC, sehingga mereka buang air besar di perkebunan.

Pada tahun lalu, ada dua kelurahan yang diintervensi Program Kotaku. “Untuk Program Kotaku itu yang sudah dilakukan, adalah Warung Jaud dan Kilasah, sedangkan di tahun ini, sementara rencananya Kasunyatan yang akan dilakukan,” tuturnya. (Rizki Putri)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here