Al-Hafidz Sang Penerjemah Alquran

Ilzamudin Ma'mur

Oleh : Ilzamudin Ma’mur

The Quran is the supreme authority in Islam. It is the fundamental and paramount source of the creed, rituals, ethics, and laws of the Islamic religion. Alquran adalah otoritas tertinggi dalam Islam. Alquran merupakan sumber fundamental dan amat penting dari kredo, ritual, etika dan hukum agama Islam. (MAS Abdel Haleem)

The message of the Quran was, after all, directly addressed to all people without discrimination as to class, gender or age:… Pesan Alquran, bagaimanapun, secara langsung ditujukkan kepada semua orang tanpa diskriminasi terhadap kelas, gender ataupun usia:…(MAS Abdel Haleem)

The entire religious life of the Muslim world is built around the text of the Quran. Keseluruhan kehidupan beragama dunia Islam dibangun di seputar teks Alquran. (MAS Abdel Haleem)

Millenium ketiga atau abad 21 yang disebut Lawrence Bruce (2017) sebagai abad ledakan penerjemahan Alquran ke dalam bahasa Inggris, The Quran: A New Translation pastilah salah satu di dalamnya yang memiliki arti sangat penting. Terjemahan ini diterbitkan pada 2004 oleh Oxford University Press, salah satu penerbit universitas tertua dan terbesar di dunia, yang berada di jantungnya peradaban Eropa dan Kristen. Muhammad A.S. Abdel Haleem, demikian nama penerjemah Quran tersebut, selain profesor bahasa Arab dan Kajian Islam yang sangat berpengalaman, adalah juga seorang hufadz, yang di Indonesia biasa dijuluki sebagai al-Hafidz, sang penghafal Alquran. Oleh karenanya, layak untuk ditelaah dan di-share sebagian hidup dan karya terjemahannya tersebut, melalui harian ini.

Biografi intelektual

Muhammad A. S. Abdel Haleem lahir di Mesir pada 1930. Kini beliau telah berusia 88 tahun, namun tetap aktif dalam berbagai kajian Islam dan Alquran. Haleem telah mempelajari dan menghafalkan Alquran sejak kecil hingga berhasil menghafal semuanya, 30 juz, sehingga berhak menyandang gelar al-hafidz. Selanjutnya, setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya, Haleem melanjutkan studinya dalam bidang bahasa Arab dan kajian Islam hingga memperoleh gelar BA dari Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, sedangkan gelar MA dan Ph.D. diraihnya dari Universitas Cambridge, Inggris.

Kariernya sebagai pengajar, Haleem memulainya mengajar bahasa Arab, termasuk praktik penerjemahan Alquran tingkat tinggi. Sekarang Haleem adalah profesor bidang pengkajian Islam atau Islamic Studies di School of Oriental and African Studies (SOAS), Universitas London, Inggris. Jabatan lain yang dipegang Abdel Haleem adalah sebagai Direktur Centre of Islamic Studies, Steering Committee Center for Translatiion Studies, serta anggota London Middle East Institute. Selain itu, Abdel Halim juga editor Journal of Qur’anic Studies dan seri London Qur’anic Studies.

Selain mengajar dan menyunting jurnal, Haleem juga produktif menulis, baik dalam bentuk artikel jurnal, antologi, ensiklopedia, maupun buku. Di antara karyanya yang penting adalah : Exploring the Quran: Context and Impact (2017); The Quran: English translation with parallel Arabic Text (2010); Robinson, Danielle, (eds.), The Moral World of the Quran (2006); bersama Badawi el-Said, Dictionary of Qur’anic Usage (2005); English Translations of the Qur’an: The Making of an Image (2004); Understanding the Quran: Themes and Style (2001); Chance or Creation? God’s Design in the Universe, Attributed to Jahiz, translated and introduced (1995); bersama Ernest Kay, English-Arabic business dictionary (1984); dan The Creed of Islam (1978).

Sebagai penghargaan dan pengukuan kerajaan Inggris atas kontribusinya terhadap kebudayaan dan literatur Arab serta pemahaman antar-agama, Pemerintah Kerajaan Inggris, menganugerahkan OBE, Officer of the Order of the British Empire, kepada Abdel Haleem, pada tahun 2008.

Terjemahan Alquran

Karya terjemahan Alquran sang hafidz diberi judul The Quran: A New Translation diterbitkan oleh Oxford University Press, pada 2004. Ini merupakan terjemahan pertama yang dihasilkan seorang penghafal Alquran alumni Universitas Al-Azhar, salah satu universitas Islam tertua dan termasyhur di dunia. Edisi pertama yang telah menghabiskan waktu Haleem sekitar 7 tahun untuk menyelesaikannya, hanya meyajikan terjemahan saja dalam bahasa Inggris, mono lingual. Kemudian pada 2010 disusul dengan edisi paralel teks bahasa Arab dan Inggris, bilingual.

Edisi mutakhir ini berjudul The Quran: English translation with parallel Arabic Text The Quran: English translation with parallel Arabic Text masih diterbitkan oleh penerbit yang sama, Oxford University Press, Inggris. Mengomentari edisi mono lingual Khaleel Mohammed berpendapat bahwa terjemahan yang tidak disertai teks Arab, sebagai faktor positif karena mungkin Muslim membawanya serta kemanapun ia pergi tanpa mengkhawatirkan kehati-hatian praktik ritual bagi dokumen sakral yang melekat pada Alquran bahasa Arab (2005).

Karya terjemahan ini diniati Abdel Haleem “to produce easily readable, clear contemporary English, as free as possible from the Arabism and archaism that marked some previous translations, while remaining true to the original Arabic text”. Yakni, untuk menghasilkan terjemahan bahasa Inggris kontemporer yang dapat dibaca dengan mudah dan jelas, sedapat mungkin terbebas dari Arabisme dan arkaisme yang menandai beberapa karya terjemahan sebelumnya, namun masih tetap benar sesuai dengan teks Arab asli.

Lebih lanjut Haleem juga menambahkan bahwa “The intention is to make the Quran accessible to everyone who speaks English, Muslims or otherwise, including the millions of people all over the world for whom the English language has become a lingua franca (xxx). Niatnya adalah agar Alquran dapat diakes oleh setiap orang yang berbicara bahasa Inggris, Muslim dan non-Muslim, termasuk jutaan orang di seluruh dunia yang bagi mereka bahasa Inggris telah menjadi lingua franca, bahasa pengantar bersama. Wallahu a’lam bi al-shawab!!! (Penulis adalah Wakil Rektor I UIN SMH Banten)*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here